Babak Baru Industri Semen

Investor Daily Jumat, 8 Februari 2019 | 11:00 WIB

Industri semen di Tanah Air segera memasuki babak baru. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) melalui anak usahanya, PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB), baru saja menuntaskan akuisisi 80,6% saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) senilai US$ 917 juta. Sebelum akuisisi, pemegang saham mayoritas Holcim Indonesia adalah Holderfin BV Netherlands (80,64%), sisanya pemodal asing (5,6%) dan masyarakat Indonesia (3,76%).

Akuisisi Holcim oleh Semen Indonesia akan membuahkan sejumlah konsekuensi, baik bagi Semen Indonesia maupun bagi industri semen di Tanah Air. Di sisi korporasi, akuisisi itu akan membuat kapasitas produksi Semen Indonesia meningkat. Setelah akuisisi, kapasitas produksi pabrik Semen Indonesia berpotensi naik menjadi 50,9 juta ton atau setara dengan 45% dari total kapasitas pabrik semen di Indonesia.

Selain mendongkrak kapasitas produksi, akuisisi Holcim Indonesia bisa mengatrol pangsa pasar Semen Indonesia di pasar domestik menjadi 50-60% dibandingkan saat ini sekitar 39%. Pasca-akuisisi Holcim, Semen Indonesia akan menguasai hampir dua pertiga penjualan semen nasional bersama kompetitornya, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP).

Pasar semen masih menggiurkan, Pada 2018, penjualan semen di pasar dalam negeri mencapai 75,2 juta ton, naik 8,6% dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, 69,51 juta ton merupakan penjualan ke pasar domestik, selebihnya ke pasar ekspor. Tahun ini, penjualan semen di pasar domestik diprediksi tumbuh 7%.

Seiring dengan meningkatnya penjualan, pemanfaatan kapasitas produksi terpasang (utilisasi) industri semen pada 2019 dipredisi naik 3% menjadi 67% dari tahun lalu 64%. Seperti tahun silam, penjualan semen di dalam negeri tahun ini bakal didorong kebutuhan semen untuk pembangunan infrastruktur dan rumah masyarakat.

Jika pangsa pasarnya meningkat, pundi-pundi laba Semen Indonesia tentu bakal semakin gembung. Itu artinya, saham emiten BUMN yang diperdagangkan di lantai bursa dengan kode SMGR itu akan lebih atraktif. Potensi kenaikan harga saham Semen Indonesia relatif lebih besar dibanding –misalnya-- risiko laba tergerus akibat besarnya pinjaman untuk mendanai akuisisi.

Dengan masuknya Holcim Indonesia ke jajaran anak usaha, "penggawa" Semen Indonesia bukan saja bertambah, tapi juga semakin komplet. Di lini produksi, Semen Indonesia saat ini didukung PT Semen Gresik, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, dan Thang Long Cement JSC dengan brand yang sudah kuat.

Banyaknya jumlah anak usaha dengan segmen dan zonasi pasar yang berbeda bisa menjadikan Semen Indonesia lebih efisien, khususnya dalam menekan biaya distribusi dan biaya produksi. Alhasil, harga produk Semen Indonesia bisa lebih kompetitif.

Dari sisi industri, akuisisi Holcim Indonesia oleh Semen Indonesia dapat berdampak positif. Bergabungnya Holcim Indonesia ke jajaran Semen Indonesia dapat menciptakan pasar semen yang lebih kondusif di Tanah Air. Lebih dari itu, akuisisi Holcim bisa menjadikan kinerja ekspor Semen Indonesia semakin mengilap. Tanpa didukung Holcim pun, penjualan ekspor Semen Indonesia tahun lalu melonjak sekitar 68,7% menjadi 3,2 juta ton. Penjualan ke pasar ekspor jauh di atas penjualan ke pasar dalam negeri yang hanya tumbuh 1,2% menjadi 27,4 juta ton.

Di luar itu semua, tentu kita berharap akuisisi Holcim oleh Semen Indonesia mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebagai agen pembangunan, Semen Indonesia bukan hanya diberi mandat untuk menghasilkan keuntungan bagi negara semata –terutama berupa pajak dan dividen-- tapi juga mendatangkan faedah bagi rakyat banyak, misalnya melalui jaminan pengadaan semen di dalam negeri dalam stok yang cukup, kualitas jempolan, dan harga terjangkau.

Menjamin ketersediaan semen di dalam negeri dengan stok memadai, kualitas bagus, dan harga terjangkau sangat penting, khususnya bila dikaitkan dengan rendahnya konsumsi semen di Indonesia. Jika konsumsi semen per kapita per tahun di Malaysia sudah mencapai 751 kg, Thailand 443 kg, dan Vietnam 661 kg maka Indonesia baru 243 kg per kapita per tahun.

Rendahnya konsumsi semen di dalam negeri disebabkan banyak hal, salah satunya harga yang mahal. Karena itu, bisa dimaklumi jika ada yang mengatakan bahwa harga semen yang tinggi turut berkontribusi terhadap besarnya defisit pasokan rumah (backlog) di Indonesia yang saat ini mencapai 13,5 juta unit.

CLOSE