IPO Tahun Politik

Investor Daily Rabu, 27 Februari 2019 | 09:00 WIB

Dalam dua hari ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia meningkat, mengikuti tren positif pasar saham global. Suka cita para pelaku pasar modal dipicu keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menunda pengenaan kenaikan tarif atas barang impor Tiongkok. Kemajuan besar dalam perundingan dagang kedua negara tersebut mencuatkan harapan bahwa perang dagang sejak Juli 2018 itu bakal berakhir.

Sebelumnya, Pemerintah AS akan menaikkan tarif barang-barang Tiongkok lebih dari US$ 200 miliar per 1 Maret 2019, batas akhir setelah Trump mengumumkan gencatan senjata perang dagang selama 90 hari. Trump mengakui bahwa pembicaraan dengan Tiongkok berlangsung positif.

Keputusan Trump menunda pengenaan tarif atas impor Tiongkok diyakini bakal meredakan kegelisahan pelaku pasar. Ketidakpastian yang bersumber dari isu perang dagang bisa dipupus. Ditambah dengan prediksi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) yang tidak akan agresif menaikkan suku bunga, maka ketidakpastian global bakal tereduksi cukup signifikan.

Sentimen global yang positif tersebut tentu saja merupakan kabar baik bagi emerging markets, tak terkecuali Indonesia. Kondisi tersebut akan menetralisasi keraguan investor yang cenderung wait and see, mengingat 2019 adalah tahun pemilu. Demikian pula bagi korporasi yang hendak menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, keraguan itu setidaknya bisa ditepis.

Data BEI terbaru menunjukkan, hingga Februari sudah ada enam perusahaan yang IPO, lebih tinggi dibanding periode sama 2018 yang hanya dua perusahaan. Di luar itu, ada belasan perusahaan yang berada dalam pipeline BEI untuk proses IPO.

Memang sudah semestinya pelaku pasar tidak mengkhawatirkan soal pemilu. Coba kita berkaca pada tahun lalu, ketika awalnya juga banyak yang pesimistis karena khawatir adanya pilkada serentak di 171 daerah tingkat I dan II. Realisasinya, ada 57 perusahaan yang IPO, jauh melampaui target BEI yang hanya 35 perusahaan. Tahun lalu, dana yang dimobilisasi dari pasar modal, di luar SBN, mencapai Rp 166 triliun.

Tahun politik 2019 ini pun semestinya tidak membuat para pelaku pasar ciut nyali dan bersikap menunggu. Dunia usaha juga tidak perlu sampai harus menahan ekspansi. Data empiris menunjukkan bahwa tahun pemilu justru membersitkan optimisme, ditandai dengan lonjakan indeks saham. Pada Pemilu 1999, IHSG di BEI melejit 70,06%, Pemilu 2004 melonjak 44,56%, Pemilu 2009 melesat hingga 86,98%, sedangkan pada Pemilu 2014 saat Joko Widodo terpilih sebagai presiden, IHSG meningkat 22,29%.

Kita tahu bahwa tahun politik justru menimbulkan kegairahan ekonomi. Belanja politik yang tinggi dan alokasi belanja sosial yang membengkak berdampak positif terhadap sektor ritel dan makanan-minuman (mamin), karena melonjakkan daya beli masyarakat.

Terlebih lagi, dalam sejarah Indonesia, perhelatan politik nyaris tak pernah memicu gejolak sosial yang berarti. Dari pemilu ke pemilu atau dari berbagai pilkada, secara umum berlangsung aman, tertib, damai, dan kondusif. Itulah sebabnya, Indonesia mendapat apresiasi dunia dan disebut-sebut sebagai negara besar dengan contoh sukses demokrasi yang gemilang.

Selain situasi politik yang kondusif, atmosfer perekonomian Indonesia secara umum pun tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Laju inflasi terjaga rendah, nilai tukar relatif stabil, cadangan devisa kuat untuk membiayai impor dan cicilan utang pemerintah, fiskal aman, dan defisit transaksi berjalan cenderung membaik. Meskipun, kinerja ekspor masih membuat kita ketar-ketir.

Dana asing juga terus mengalir ke pasar portofolio di Indonesia. Sejak awal tahun (year to date), dana asing yang masuk ke instrumen keuangan di Tanah Air mencapai hampir Rp 50 triliun, antara lain di pasar saham senilai Rp 11,5 triliun dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 34 triliun. Mereka tertarik karena imbal hasil yang relatif tinggi.

Berbekal aneka sentimen positif tersebut, para pengusaha jangan ragu jika hendak menggelar IPO. Apalagi banyak benefit yang bisa diraih dari IPO. Perusahaan bukan hanya mendapatkan dana murah, tapi juga akan menerapkan praktik good corporate governance (GCG) sehingga akan lebih transparan, akuntabel, fair, dan bertanggung jawab.

Kita berharap optimisme direktur utama BEI pada awal tahun menjadi kenyataan, bahwa tahun ini jumlah perusahaan yang IPO bakal menembus rekor baru. Selain perusahaan swasta, IPO akan disemarakkan oleh anak-anak usaha BUMN.

Dalam konteks itu, PT Bursa Efek Indonesia juga harus lebih agresif menggaet sejumlah perusahaan potensial untuk go public, baik perusahaan berbasis sumber daya alam maupun perusahaan start-up. Selain itu, BEI seyogianya perlu memberi kemudahan prosedur IPO serta memperingan biaya-biaya dan pungutan bagi perusahaan terbuka.