Menggaet “Undecided Voters”

Suara Pembaruan Senin, 4 Maret 2019 | 18:00 WIB

Apabila kita mengacu pada hasil survei yang dilakukan lembaga-lembaga survei independen pada Desember 2018 dan Januari 2019, elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf) masih lebih tinggi dibanding pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi).

Bagi kubu Jokowi-Ma’ruf, hasil tersebut belum betul-betul aman, sedangkan kubu Prabowo-Sandi terus berupaya memperkecil selisih perolehan suara, bahkan berharap pada survei terakhir menjelang pencoblosan Pilpres 2019 bisa melampaui capres petahana. Pada titik inilah kedua kubu wajib menggaet dukungan dari para pemilih yang hingga kini belum membuat keputusan (undecided voters) dan juga para pemilih yang belum mantap dan masih mungkin berpindah ke lain hati (swing voters). Keberhasilan meraup undecided voters dan swing voters akan menjadi kunci kemenangan pada Pilpres 2019.

Dari hasil survei empat lembaga, yakni Indikator Politik Indonesia, Charta Politika, Median, dan Cyrus Network, pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan selisih rata-rata 17,2% dengan undecided voters sekitar 10,4%. Dari keempat lembaga tersebut, hanya hasil survei Median yang menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf terpaut kurang dari 10% daripada Prabowo-Sandi, sedangkan tiga lembaga lainnya berkisar 19% sampai 20%.

Demikian juga dengan undecided voters, Median mendapat angka 13,4% atau yang tertinggi dibanding Charta Politika 12,7%, Indikator 10,3%--termasuk 1,1% golongan putih--, dan Cyrus Network hanya 5,3%

Melihat hasil survei tersebut, pertarungan Pilpres 2019 berada pada zona undecided voters dan swing voters yang diperkirakan berkisar 10% sampai 25%. Pasangan mana pun yang mampu merebut hati pemilih yang hingga kini belum menentukan pilihan dan juga pemilih yang belum mantap dengan keputusannya hampir bisa dipastikan memenangi Pilpres 2019.

Data yang ada menunjukkan sebagian besar undecided voters berasal dari kalangan berpendidikan, sehingga cenderung melek politik. Sebagian swing voters juga memiliki karakteristik seperti itu. Mereka bisa digolongkan sebagai pemilih rasional yang tidak mudah terombang-ambing kabar bohong atau hoax yang disebar lewat media sosial (medsos). Mereka membutuhkan kepastian tentang program-program realistis apa saja yang akan dilaksanakan kedua pasangan capres-cawapres, termasuk upaya para kandidat meyakinkan pemilih. Setelah mengetahui hal itu, mereka baru membuat keputusan untuk memilih pasangan nomor urut 01 atau 02, atau bahkan tidak menggunakan hak pilihnya sama sekali alias golongan putih (golput).

Setidaknya ada dua sarana yang bisa digunakan secara masif untuk meyakinkan undecided voters dan swing voters untuk menggunakan hak pilih, yakni media arus utama (mainstream media) dan juga debat Pilpres 2019 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Selama ini upaya merayu dan memengaruhi pemilih lebih banyak menggunakan medsos. Celakanya materi yang disebar melalui medsos didominasi sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang berpotensi memecah belah rakyat dan juga hoax. Akibatnya, keharmonisan kehidupan masyarakat menjadi terganggu dan konflik antarpendukung dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa pecah.

Pertama, untuk menandingi “perang” udara yang semakin tak sehat bagi iklim demokrasi, sudah saatnya KPU melonggarkan aturan tentang kampanye di media massa (elektronik, cetak, dan media dalam jaringan) yang dibatasi hanya 21 hari, sejak 24 Maret sampai 13 April 2019. Kita menilai pembatasan tersebut tak adil, karena kampanye lewat medsos yang lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat, justru dibiarkan terjadi sejak berbulan-bulan lalu.

Masih ada waktu bagi KPU untuk merevisi keputusan tersebut, sehingga kampanye di media massa bisa segera dilakukan. Kita berharap kampanye di media arus utama bisa memberi klarifikasi, pencerahan, sekaligus mendidik publik yang kini semakin sering diterpa hoax. Kampanye di media arus utama juga bisa dijadikan referensi oleh undecided voters dan swing voters.

Kedua, kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi hendaknya semaksimal mungkin memanfaatkan ajang debat pilpres untuk memantapkan dukungan dari pemilih loyal atau pemilih fanatik, sekaligus menambah suara dari undecided voters dan swing voters. Perhatian publik yang terus meningkat serta tanggapan positif terhadap pelaksanaan debat kedua seharusnya membuat KPU sebagai penyelenggara membuat aturan main yang makin kondusif, sehingga debat ketiga sampai kelima berjalan lebih dinamis. Para kandidat juga harus lebih siap menjalani debat, sehingga mampu memukau pemilih dan seluruh rakyat Indonesia.