Menyambut "Capital Inflow"

Investor Daily Senin, 4 Maret 2019 | 11:00 WIB

Sebuah kabar gembira menambah sentimen positif para pelaku pasar modal Indonesia. Dana investasi portofolio dikabarkan bakal mengalir deras ke Indonesia tahun ini. Masuknya dana investasi portofolio bakal mendongkrak harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal melampaui titik psikologis 7.000.

Laju pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2019 sudah direvisi turun dari 3,7% ke 3,5%. Penurunan ini, terutama disebabkan oleh perlambatan ekonomi negara-negara maju dan sejumlah negara pasar berkembang, di antaranya RRT. Dalam beberapa pekan terakhir, harga saham di sejumlah bursa Tiongkok berguguran. Pemicunya adalah faktor fundamental, yakni merosotnya laba emiten yang tercatat di bursa negeri Tirai Bambu itu.

Dalam dua bulan pertama 2019, dana investasi portofolio asing yang masuk ke Indonesia sudah menembus Rp 63 triliun, sepuluh kali lebih besar dibanding periode sama tahun 2018. Dari jumlah itu, sebesar Rp 49,5 triliun masuk ke Surat Berharga Negara (SBN), sebesar Rp 12,6 triliun ke pasar saham, dan Rp 1,4 triliun ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Dalam bulan-bulan ke depan, aliran asing akan mengalir lebih kencang.

Tidak seperti masa lalu, dana investasi portofolio asing yang masuk Indonesia kini lebih lama. Perspektif investor asing yang menanamkan dana investasinya di Indonesia tidak lagi berjangka pendek, melainkan sampai setahun.

Keputusan itu diambil pemodal karena melihat besarnya faktor teknikal yang memengaruhi harga saham dan surat berharga lainnya. Kebijakan bank sentral AS dan kebijakan ekonomi Trump selalu memengaruhi harga saham dan nilai portofolio. Begitu ada ancaman perang dagang AS-Tiongkok, pasar begejolak. Demikian pula ketika The Fed hendak menaikkan, menurunkan, atau mempertahankan suku bunga acuan.

Dengan mengambil posisi hold selama setahun, nilai portofolio akan lebih stabil. Ketika harga saham jatuh, pemodal tidak buru-buru menjual. Saat harga saham naik, investor tidak cepat-cepat menjual. Harga saham tidak pernah bergerak lurus. Selalu ada naik dan turun.

Pada saat prospek ekonomi suatu negara bagus, pergerakan harga saham akan menanjak. Meski ada naik-turun, harga saham dalam rentang waktu setahun menunjukkan grafik naik.

Prospek ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan dinilai bagus. Tahun ini, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,3%. Emiten yang sahamnya tercatat di BEI akan mencetak kenaikan laba bersih. Ketika laba bersih per saham meningkat, harga saham pun terangkat.

Emiten yang tercatat di BEI umumnya adalah market leader di bidangnya. Laba emiten yang menjadi penguasa pasar umumnya naik stabil dan dalam kondisi tertentu mengalami lonjakan. Dividen yang diberikan emiten Indonesia umumnya lumayan besar.

Kondisi inilah yang mendorong pemodal asing memasukkan dananya ke investasi portofolio di Indonesia. Mereka mengincar return yang tinggi dari investasi di bursa saham Indonesia.

Selain return saham yang tinggi, imbal hasil surat utang di Indonesia juga lumayan tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sebesar 7,8%. Bandingkan dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat, US Treasury dengan tenor 10 tahun, yang hanya sebesar 2,7%.

Kondisi ekonomi makro Indonesia dinilai mendukung. Laju inflasi tahun ini diperkirakan stabil di level 3,5% plus-minus satu. Suku bunga juga cenderung stabil. Apalagi The Fed berancang-ancang hanya menaikkan satu-dua kali fed fund rate (FFR). Suku bunga acuan BI diperkirakan tidak akan lebih dari 6,50%.

Nilai tukar rupiah pun tidak seperti tahun 2018 yang terdepresiasi 6,9% terhadap dolar AS. Dalam dua bulan pertama 2019, rupiah menguat 1,8% terhadap dolar AS. Jika ada kenaikan ekspor dan dana investasi terus mengalir, rupiah akan tetap stabil.

Diharapkan, dana investasi asing yang masuk ke Indonesia tidak saja mengincar investasi portofolio, melainkan juga investasi langsung ke sektor riil. Indonesia membutuhkan banyak investasi baru untuk membangun industri dan sektor lainnya.

Berbagai optimisme ini perlu ditopang kondisi ekonomi makro yang benar-benar stabil. Defisit transaksi berjalan yang kian menganga tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Diperlukan upaya sistematis untuk menekan current account deficit dengan menaikkan ekspor, menekan impor, dan memperbaiki sektor jasa.