Tumbuhkan "Event" Pariwisata

Investor Daily Sabtu, 2 Maret 2019 | 11:00 WIB

Indonesia harus berguru pada sang juara Prancis, untuk mengangkat pariwisata ke level dunia. Wisatawan asing berdatangan bukan karena keindahan alamnya, namun lebih karena mereka kreatif membangun kemasan dan atraksi yang ikonik, yang dikembangkan dari beragam potensi wilayahnya yang unik.

World Tourism Organization mencatat, Prancis mampu menyedot wisatawan mancanegara (wisman) 86,9 juta pada 2017. Berikutnya dalam jajaran lima besar adalah Spanyol 81,8 juta, Amerika Serikat 76,9 juta, Tiongkok 60,7 juta, dan Italia 58,3 juta. Sementara itu, kunjungan wisman ke Indonesia hanya terealisasi 15,8 juta, dari target 17 juta pada 2018.

Jika ditelusuri, kunci sukses Prancis ini karena sungguh-sungguh membangun 4A faktor kunci pariwisata. A yang pertama adalah aksesibilitas yang baik, sehingga bisa dikunjungi wisatawan di sepanjang tahun, dengan moda apa pun. Infrastruktur transportasi darat, udara, dan laut dibangun tak hanya di kota-kota, tapi juga hingga langsung ke objek wisata. Infrastruktur telekomunikasi juga dibangun hingga puncak gunung.

Wisatawan gampang mengunjungi tempat-tempat wisata Prancis, tak hanya di kota, namun hingga ke pegunungan. Turis bisa menikmati olahraga musim dingin di puncak Alpen, dengan tetap eksis di medsos dan berkomunikasi dengan keluarga. Mereka juga bisa mengabadikan sensasi dan keindahan alam dari jendela kereta gantung. Sementara itu, di sisi pantai selatan Prancis, wisman dimanjakan dengan fasilitas kapal-kapal mewah (yacht).

A kedua, akomodasi, juga dibangun dengan perencanaan yang baik, termasuk untuk remaja yang berkantong cekak. Prancis tak hanya membangun jaringan hotel dan resor terbaik, namun juga menyediakan sarana camping tersebar di seluruh wilayahnya, terutama untuk wisatawan yang menyukai aktivitas alam dengan biaya lebih murah.

A ketiga adalah amenitas atau fasilitas publik. Selain dibangun berjajaran butik dan fasilitas perbelanjaan penuh barang-barang branded kelas atas, ada pula sarana seperti restoran dan tempat nongkrong di kafe-kafe pinggir jalan. Selain itu, ada kios-kios berderet menjajakan suvenir murah, taman-taman kota, hingga toilet bersih.

Sedangkan A keempat adalah atraksi. Prancis tak berpuas diri memiliki keunggulan destinasi wisata yang lumayan lengkap, mulai dari alam pantai, gunung, sungai, danau, agrowisata, hingga wisata sejarah dengan museum-museum tertata apik. Lebih dari itu, Prancis juga mengintegrasikan semua potensi wisatanya dengan atraksi menarik dan event akbar reguler, yang membuat wisatawan ketagihan datang dan datang lagi.

Bejibun atraksi menarik dan ikonik dalam calendar of event Prancis bisa mengintegrasikan dan mengoptimalkan semua potensi wisata wilayahnya yang berbeda-beda. Ajang balap sepeda akbar Tour de France, misalnya, bisa menggerakkan turis menjelajahi berbagai destinasi wisata dan kulinernya, entah bersama keluarga atau teman.
Tur selama 23 hari yang memiliki 21 hari panggung itu menarik antusiasme masyarakat, sekaligus sukses besar secara komersial. Faktor kuncinya, antara lain, karena meski bersifat lokal, pestanya akbar dan disiarkan lewat berbagai media di seluruh dunia. Event ini diliput stasiun televisi di 180 negara, 76 stasiun radio dari 25 negara, 450 koran dan kantor berita foto, serta berbagai media internet dari 26 negara. Total akreditasi yang diberikan kepada wartawan saja mencapai 3.600.

Pembangunan sistem dan jaringan atraksi yang ikonik, kreatif, terintegrasi, dan terjadwal reguler seperti di Prancis itu tentu saja wajib ditiru pemerintah RI. Apalagi, calendar of event kita juga masih minim.

Salah satu atraksi yang perlu dikembangkan lebih baik adalah Java Jazz Festival, yang sebenarnya sudah menjadi ikon puncak festival jazz di Asean. Pada perhelatan ke-15 tahun ini, diperkirakan 115.000 penonton akan menikmati Jakarta International BNI Java Jazz Festival di Jakarta, yang berlangsung pada 1-3 Maret.
Penonton akan dimanjakan dengan penampilan 100 grup band dan musisi papan atas internasional maupun nasional, yang bisa dinikmati berbagai lapisan usia, bersama keluarga dan kolega. Ini misalnya, grup musik legendaris TOTO, artis pendatang baru Raveena, dan HER yang meraih Grammy Awards 2019.

Tak heran, banyak pula berdatangan penikmat jazz dari berbagai negara, tak hanya dari negeri jiran Malaysia dan Singapura. Tercatat pengunjung juga datang dari Jepang, Australia, Taiwan, Korea, bahkan dari beberapa negara di Eropa dan Amerika.

Oleh karena itu, ajang bergengsi yang sudah mulai dikenal dunia ini perlu mendapat dukungan sepenuhnya dari pemerintah. Kementerian Pariwisata perlu ikut mempromosikan secara masif, sehingga semakin banyak penggemar jazz dari mancanegara datang. Jika kini porsi wisman sekitar 10% dari total pengunjung, ke depan bisa setidaknya 30%.

Selain itu, untuk meningkatkan pariwisata di Indonesia, pemerintah perlu lebih kreatif. Jika tahun lalu gagal meraih target kunjungan wisman dengan alasan ada bencana alam, ke depan lebih baik rajin berbenah. Pemerintah juga harus mengambil hikmah dari program 10 destinasi unggulan 'Bali baru' yang nyaris tak bergerak, karena minim dukungan pemda.

Untuk itu, ke depan, pemerintah pusat harus tegas mewajibkan kabupaten/kota menyelenggarakan event bagus sebulan sekali, dan untuk provinsi event akbar enam bulan sekali. Jika kini ada sekitar 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Tanah Air, berarti ada 6.236 event kreatif bisa digelar reguler dalam setahun, atau rata-rata 183 event dalam 1 provinsi. Artinya, dalam 1 provinsi bisa digelar event reguler setiap dua hari secara bergilir di wilayahnya, yang bisa dikunjungi wisatawan sepanjang tahun. Dengan demikian, target kunjungan wisman tahun ini 20 juta masih bisa diraih.