Kompak Kurangi “Stunting”

Suara Pembaruan Senin, 18 Maret 2019 | 17:00 WIB

Salah satu hal menarik pada Debat III Pilpres 2019 adalah mengenai isu stunting atau bayi gagal tumbuh. Kedua calon wakil presiden (cawapres) yang berdebat, Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, kompak untuk mengurangi stunting apabila terpilih bersama pasangannya memimpin Indonesia pada 2019-2024.

Kedua kandidat memiliki perhatian yang sama bahwa stunting adalah masalah serius bangsa. Stunting terjadi karena anak tidak mendapatkan kecukupan asupan gizi saat dikandung ibunya bahkan sampai usia dua tahun kelahiran. Sang anak bakal tumbuh kerdil. Ia mengalami gangguan bukan hanya secara fisik melainkan juga kemampuan otak. Jika tidak ada upaya pencegahan yang luar biasa stunting menjadi ancaman serius bagi pembangunan sumber daya manusia di masa mendatang

Sejatinya, di Indonesia bayi yang dilahirkan stunting secara rata-rata tidak lebih dari 20%. Dengan demikian 80% sisanya lahir dan tumbuh normal. Namun, jika tidak ada intervensi berupa pemenuhan gizi yang dibutuhkan, bayi yang lahir normal berpotensi menjadi stunting.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 30,8%. Meskipun membaik dibandingkan Riskesdas 2013 di mana prevalensi masih 37%, angka itu masih di atas batas maksimal yang menjadi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 20%.

Karena kedua kubu pasangan capres dan cawapres memiliki perhatian yang sama maka siapa pun yang kalah dalam pilpres pada 17 April mendatang seharusnya mendukung sang pemenang dalam mencegah dan mengatasi stunting. Berbeda cerita bila kedua kandidat tidak sejalan.

Kini pemerintah sudah membuat program intervensi gizi bukan hanya pada bayi umur 0-2 tahun melainkan juga kepada ibu bayi. Hal ini dilakukan karena kualitas air susu ibu juga dipengaruhi asupan gizi ibu menyusui. Ma’ruf Amin yang berpasangan dengan petahana Jokowi tinggal melanjutkan berbagai program yang sudah dilakukan pemerintah, antara lain mengoptimalkan anggaran Rp 50 triliun yang tersebar di 22 kementerian dan lembaga untuk mengatasi stunting.

Pad saat debat, cawapres Sandiaga Uno menyebut Sedekah Putih terkait upaya mengatasi stunting. Di luar debat, pasangan calon presiden dan wakil presiden 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengklaim sejak 10 tahu menaruh perhatian serius terhadap persoalan stunting. Komitmen mengatasi stunting itu diterjemahkan dalam program Revolusi Putih untuk meningkatkan daya saing generasi penerus. Revolusi Putih berubah menjadi gerakan sosial bernama Gerakan Emas atau Indonesia Emas. Praktiknya, konon mengidentifikasi ibu-ibu hamil dan menyusui serta anak-anak rentan stunting maupun gizi buruk dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk ikut serta sebagai Pejuang Emas. Sedekah Putih sudah diadopsi dalam program Gerakan Emas.

Tentu saja program ini sangat ideal sebagai sebuah gerakan rakyat membantu mengatasi masalah bangsa. Tentu kita berharap model seperti yang dilakukan oleh Gerindra juga ditiru oleh partai lain, lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi lainnya. Idealnya gerakan semacam ini berlaku terus-menerus bukan sekadar pada saat menjelang pemilu dan bukan karena tujuan untuk pemenangan pemilu.

Generasi stunting jelas bakal menjadi beban negara. Riset Bank Dunia menyebutkan, kerugian ekonomi akibat stunting bisa mencapai 3-11% dari produk domestik bruto (PDB). Di Indonesia, Bappenas memprediksi kerugian bisa mencapai Rp 300 triliun per tahun. Ketika dua kandidat yang bertarung memiliki visi dan misi yang sama dalam mengatasinya, kita lega sejauh keduanya memang membaktikan diri dan kelompok politiknya kepada bangsa dan negara, bukan kepada kepentingan politiknya semata.