Memanfaatkan Kampanye Terbuka

Suara Pembaruan Rabu, 27 Maret 2019 | 17:00 WIB

Pemilu presiden (pilpres) dan pemilu anggota legislatif (pileg) telah memasuki masa kampanye terbuka. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan masa kampanye terbuka ditetapkan mulai 24 Maret lalu hingga 13 April. Khusus pilpres, dua pasangan capres-cawapres, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, berkeliling wilayah Tanah Air untuk memaksimalkan dukungan publik menjelang pemungutan suara pada 17 April 2019.

Saat kampanye terbuka inilah tercermin gambaran pemilu sebagai pesta demokrasi. Warga, baik yang dimobilisasi maupun yang secara sukarela, berduyun-duyun mendatangi tempat kampanye pasangan yang didukungnya. Tak mengherankan saat kampanye terbuka masing-masing kubu berusaha mengerahkan banyak warga.

Namun, sejumlah kalangan menilai, kampanye terbuka pilpres tidak signifikan mendongkrak elektabilitas pasangan capres-cawapres. Kampanye terbuka tak lebih panggung adu gengsi dan ajang unjuk kekuatan bahwa masing-masing pasangan mampu menarik hingga puluhan ribu massa. Padahal massa yang berkumpul mayoritas adalah pemilih loyal mereka.

Masa kampanye Pilpres 2019 yang sejatinya sudah dimulai sejak akhir September 2018 telah mempolarisasi dukungan sedemikian kuat. Pergeseran dukungan diduga tidak akan signifikan dalam sisa waktu tiga pekan hingga hari pencoblosan.

Meski demikian, masing-masing pasangan tentu berharap mampu “mencuri” dukungan saat kampanye terbuka. Untuk itulah, format kampanye harus dibuat lebih kreatif. Model kampanye akbar dengan mendatangkan artis ternama sudah tidak efektif lagi untuk memancing suara.

Selain berusaha “mencuri” dukungan, masa kampanye terbuka juga harus dimanfaatkan untuk merawat atau mempertahankan konstituen. Meskipun kekuatan figur capres dan cawapres sangat dominan, namun peran parpol pengusung juga harus muncul. Sebagai pengusung, justru parpol yang sangat diharapkan mampu menghadirkan massa konstituennya sebagai pemilih.

Kekuatan utama sebuah parpol adalah loyalitas konstituen, sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam kehidupan demokrasi modern. Konstituenlah yang membuat parpol mampu mewujudkan tujuan-tujuan politiknya. Kesadaran inilah yang seharusnya hinggap dan dipelihara terus-menerus oleh semua parpol yang ada, termasuk di masa kampanye terbuka pilpres saat ini.

Hal ini penting untuk disampaikan, melihat kecenderungan perilaku parpol saat ini yang justru menampilkan kemunafikan. Rakyat hanya disapa dan diperhatikan pada musim kampanye. Selebihnya, elite parpol bertindak sesuka hati, lupa dengan janji dan ekspresi simpati yang pernah ditunjukkannya saat melihat rakyat menderita. Seolah ada jurang yang membentang lebar antara parpol dan rakyat.

Sejalan dengan kampanye terbuka yang dilakukan para capres-cawapres, parpol semestinya semakin menggencarkan sosialisasi. Banyak cara yang bisa dilakukan, termasuk kampanye door to door menyambangi konstituen dan kelompok masyarakat yang menjadi target untuk menambah pundi-pundi suara.

Hal yang juga penting diperhatikan adalah agar dalam kampanye terbuka ini masing-masing capres-cawapres memanfaatkannya untuk memberikan edukasi politik kepada masyarakat. Jauhkan materi kampanye yang berpotensi menyulut sentimen antarpendukung. Masing-masing kubu harus menyadari tanggung jawab mereka menjaga situasi sosial dan politik agar lebih kondusif hingga hari pemungutan suara nanti.

Ini perlu dilakukan lantaran fakta menunjukkan polarisasi politik di masyarakat saat ini begitu tajam, dan sangat rawan konflik horisontal. Saling menghujat, ujaran kebencian, fitnah, dan penyebaran kabar bohong (hoax), terutama melalui media sosial, marak terjadi selama kampanye enam bulan yang lalu sejak akhir September 2018. Kondisi inilah yang harus dibenahi oleh kedua kubu.