Hikmah Resesi AS

Investor Daily Kamis, 28 Maret 2019 | 13:00 WIB

Pemeo "dunia langsung demam jika ekonomi Amerika Serikat (AS) batuk" memang benar adanya. Tapi demam yang membekap ekonomi dunia gara-gara ekonomi AS melambat bisa menjadi berkah bagi negara-negara emerging markets berupa aliran masuk dana asing (capital inflow) yang semakin deras. Berkah itulah yang sedang ditunggu Indonesia saat ini.

Ekonomi AS, seperti dikhawatirkan kalangan ekonom, berisiko terkena resesi. Bank Sentral AS, The Fed, pada pertemuan kebijakan pekan lalu memberi sinyal kuat bahwa ekonomi AS melambat. Karena alasan itu, The Fed mengisyaratkan tidak akan menaikkan suku bunga acuan, Fed funds rate (FFR), tahun ini.

Isyarat The Fed sungguh mengejutkan. Sebab, hingga September tahun lalu, The Fed masih menunjukkan gelagat bakal menaikkan FFR dua kali tahun ini, setelah menaikkan empat kali pada 2018. The Fed juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini menjadi 2,1% dibandingkan proyeksi Desember 2018 sebesar 2,3%, lebih rendah dari realisasi tahun lalu 2,9%.

Kekhawatiran bahwa AS bakal dibelit resesi juga terefleksi pada kurva imbal hasil (yield) obligasi AS, akhir pekan lalu. Tak seperti biasanya, imbal hasil obligasi tenor tiga tahun berada di bawah obligasi 10 tahun. Inversi tersebut merupakan yang pertama kali terjadi sejak 2007 atau menjelang puncak krisis finansial global 2008-2009.

Lantas, sudah meneteskah berkah itu ke Indonesia? Capital inflow sudah mengalir cukup deras. Selama tahun berjalan, dana asing yang masuk ke pasar saham dan surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 74,46 triliun, terdiri atas kepemilikan asing di SBN Rp 63,47 triliun dan pembelian bersih (net buy) asing di saham senilai Rp 10,99 triliun.

Modal asing kemungkinan masuk semakin kencang bila AS benar-benar mengalami resesi. Itu karena Indonesia punya banyak magnet investasi. Memiliki populasi 265 juta jiwa dengan kelas menengah 60 juta, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan. Apalagi perekonomian negeri ini ditopang suku bunga yang menarik, inflasi yang terjaga, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5% per tahun.

Selain akibat efek AS, banjir dana asing bertali-temali pula dengan penyelenggaraan pilpres 2019. Para investor yakin Indonesia mampu menyelenggarakan pemilu yang aman, damai, tertib, dan demokratis. Itu karena bangsa ini sudah berpengalaman menyelenggarakan pesta demokrasi.

Harapan bakal semakin derasnya aliran modal asing makin menguatkan keyakinan kita bahwa surplus transaksi modal dan finansial tahun ini akan jauh lebih besar, sehingga mampu mengompensasi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang tahun ini ditargetkan mencapai 2-2,5% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tahun lalu, CAD memburuk dengan nilai US$ 31,06 miliar atau 2,98% terhadap PDB. Karena CAD yang besar pula, neraca pembayaran Indonesia (NPI) tahun lalu defisit US$ 7,13 miliar. Tak mengherankan jika rupiah pada 2018 terdepresiasi hingga 5,7%. Tahun ini, dengan ekspektasi Indonesia diguyur capital intflow, transaksi modal dan finansial bisa jauh melampaui pencapaian tahun lalu senilai US$ 25,20 miliar, sehingga NPI kembali surplus.

Setuju atau tidak, masuknya dana-dana asing ke portofolio sedang dibutuhkan negeri ini. Selain untuk membuat rupiah lebih perkasa, capital inflow dibutuhkan agar pasar finansial tidak bergejolak. Tahun lalu, sejalan dengan aksi jual bersih saham (net sell) oleh investor asing senilai Rp 50,22 triliun, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) minus 2,54%.

Masuknya dana-dana asing ke portofolio juga diperlukan karena investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) belum bisa diharapkan, mengingat perekonomian global sedang lesu darah. Tahun lalu, realisasi penanaman modal asing (PMA) hanya mencapai Rp 392,7 triliun, turun 8,8% dibandingkan 2017 dan jauh di bawah target yang dipatok pemerintah sebesar Rp 477,4 triliun.

Selain itu, dana asing di SBN, khususnya yang masuk ke pasar primer, sangat dibutuhkan untuk membiayai program-program pembangunan, seperti infrastruktur, yang dapat menjadikan perekonomian nasional lebih efisien. Di pasar saham, masuknya asing lewat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan penawaran umum sekunder (secondary public offering/SPO) turut menstimulasi perekonomian melalui ekspansi bisnis para emiten.

Tentu kita mendorong pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya agar dana-dana asing di portofolio tetap tinggal di Indonesia. Sebab, dengan karakteristik hot money yang mudah datang dan mudah pergi (easy come easy go), dana-dana asing bisa ditarik kapan saja. Dampaknya, pasar finansial dan rupiah bisa remuk redam.

Stabilitas rupiah dalam level fundamentalnya sangat diperlukan. Jika mata uang Garuda melemah terlampau dalam, impor Indonesia yang besar akan mendorong inflasi barang impor (imported inflation). Daya beli masyarakat bakal terenggut. Angka kemiskinan akan melonjak. Korporasi bisa limbung. PHK besar-besaran dapat terjadi.

Salah satu upaya yang bisa ditempuh pemerintah dan BI untuk ‘memagari’ capital inflow adalah memberikan insentif pajak. Para pengelola hedge fund yang menginvestasikan dananya dalam jangka panjang bisa diberi potongan pajak final. Pemerintah juga bisa memberikan insentif pajak kepada korporasi asing yang mereinvestasikan dividen atau keuntungannya di Indonesia, baik dalam bentuk portofolio maupun investasi langsung.

Di luar itu, kita sepakat bahwa investasi di dalam negeri harus tetap ditopang investasi langsung di sektor riil. Itu sebabnya, kita mendesak pemerintah terus melakukan reformasi struktural dengan membangun industri manufaktur yang kokoh dan mandiri, dari hulu, antara, hingga hilir.