Sukses Pariwisata Butuh Dukungan Semua Pihak

BeritaSatu Jumat, 13 September 2019 | 14:05 WIB

Andaikan 10 dari 34 provinsi di Indonesia seperti Bali, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang mengunjungi Indonesia sudah menembus 60 juta. Capaian ini mengalahkan Thailand yang pada 2018 dikunjungi 38,2 juta wisatawan. Namun, faktanya, pada 2018, jumlah wisman ke Indonesia hanya 15,8 juta dan dari jumlah itu, Bali mengontribusi 6 juta.

Dengan jumlah wisman menembus 40 juta, sektor pariwisata menjadi sumber devisa terbesar bagi Indonesia, negara yang selalu didera current account deficit (CAD) atau defisit neraca transaksi berjalan. Pada 2018, devisa sektor pariwisata sekitar US$ 17 miliar, di bawah devisa hasil ekspor crude palm oil (CPO) yang mencapai US$ 18 miliar.

Target 20 juta wisman tahun 2019 tidak akan tercapai, bahkan untuk mencapai 18 juta pun mustahil. Selama Januari-Juli 2019, wisman yang datang ke Indonesia baru 9,3 juta, hanya naik 2,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Jika tidak ada program khusus, jumlah turis yang datang ke Indonesia pada 2019 tak lebih dari 16,5 juta.

Pariwisata Bali maju pesat karena dukungan semua pihak. Kondisi ini sekaligus menjelaskan lambannya kemajuan 10 destinasi prioritas di luar Bali yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah pusat boleh saja memiliki semangat menyala-nyala untuk memajukan pariwisata, tetapi minimnya dukungan pemerintah daerah dan masyarakat setempat membuat 10 destinasi pariwisata prioritas itu tidak berkembang.

Bali memilik alam yang indah dan budaya yang khas. Lebih dari itu, masyarakat setempat terbuka terhadap kehadiran turis. Setiap warga Pulau Dewata memiliki keramahtamahan dan selalu welcome terhadap tamu. Setiap daerah di Indonesia juga memiliki alam yang indah dan budaya yang khas. Tidak kalah dari Bali. Namun, masyarakatnya kurang terbuka dan ramah terhadap pelancong.

Warga Bali tak pernah mengusik keasyikan turis yang sedang bersantai di pantai. Mereka bahkan memberikan bantuan agar pelancong benar-benar menikmati Bali. Barang milik turis tak pernah dicuri dan yang tertinggal dikembalikan. Jika belakangan ini ada kasus kehilangan, pelakunya adalah pendatang.

Ada rumus baku di sektor pariwisata, yakni akses, akomodasi, amenitas, dan atraksi. Bali memiliki semuanya. Ada akses transportasi udara, dalam dan luar negeri. Bandara dan objek wisata nyaris menyatu. Akses transportasi laut juga lancar. Jalan darat ke berbagai objek wisata tak ada masalah. Demikian pula dengan akses telekomunikasi.

Di Kota Denpasar dan berbagai daerah wisata terdapat penginapan untuk berbagai strata, mulai dari hotel bintang lima hingga hotel melati. Akomodasi di Bali cukup komplet. Ada akomodasi yang disiapkan bagi pelancong yang suka keramaian dan yang lebih senang suasana sunyi senyap.

Rumah sakit berbagai ukuran dan shopping mall hingga toko dan kios tersedia di Bali. Semua jenis kebutuhan turis mudah diperoleh. Suvenir khas Bali dan produk kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia bisa diperoleh di Bali.

Amenitas juga berakitan dengan toilet dan ketersediaan air bersih di setiap destinasi dan rest area. Dengan perhatian pemda yang cukup tinggi dan budaya masyarakat lokal yang menunjang, amenitas di Bali memenuhi harapan pelancong.

Bali selalu memanggil pulang pelancong untuk berkunjung lagi karena atraksi budayanya. Ritual adat dan agama Bali, dari lahir hingga pemakaman menjadi atraksi menarik. Salah satu yang menonjol adalah ngaben, upacara pembakaran jenazah.

Akses transportasi--udara, laut, dan darat--adalah tanggung jawab pemerintah. Pemerintah pusat dan daerah--provinsi dan kabupaten/kota--perlu bekerja sama untuk mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi hingga destinasi. Bali unggul dalam akses transportasi, antara lain karena ada penerbangan langsung dari berbagai negara. Pelancong dari Jepang, Tiongkok, Korea bisa menjangkau destinasi di Bali pada hari yang sama.

Transportasi udara kini sudah menjangkau semua provinsi dan sebagian kabupaten. Sepuluh destinasi prioritas yang didorong untuk menyamai Bali sudah memiliki bandara. Sebutlah Labuan Bajo, Borobudur, Danau Toba, dan Mandalika. Namun, perkembangan pariwisata di tiga daerah ini biasa-biasa saja, karena tidak semua bandara menerima penerbangan langsung dari luar negeri. Frekuensi penerbangan ke tiga destinasi ini pun masih sangat kecil.

Akses transportasi yang cukup penting adalah jalan menuju destinasi. Objek wisata di pegunungan harus bisa dijangkau oleh bus. Sedang objek wisata di pulau perlu kapal berbagai ukuran yang memberikan keamanan dan kenyamanan.

Toilet dan air bersih menjadi masalah di sebagian besar destinasi wisata. Pemda dan masyarakat setempat kurang memperhatikan masalah ini. Pelancong berduit umumnya berusia di atas 50 tahun. Mereka langsung mencari toilet bersih setiba di rest area dan destinasi wisata. Mereka tak akan mengunjungi lagi destinasi dengan amenitas yang buruk.

Pariwisata adalah atraksi. Pada 2018, Prancis dikunjungi 90 juta wisman, sekitar 40 juta di antaranya ke Paris. Pelancong berulang kali mengunjung Prancis karena berbagai atraksi yang disuguhkan. Berbagai negara maju juga menarik wisman lewat aneka atraksi, mulai dari pertandingan olahraga (sport tourism), fashion show, festival musik (music tourism), festival budaya, hingga festival kuliner.

Untuk mendongkrak jumlah wisman hingga menembus 40 juta dalam lima tahun, sejumlah langkah berikut perlu dilakukan. Pertama, menggulirkan program literasi pariwisata kepada seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat di daerah tujuan wisata harus ramah kepada wisatawan dan menjaga kebersihan seperti yang ditunjukkan masyarakat Bali.

Kedua, setiap daerah tujuan wisata perlu memiliki event bulanan. Pemda membuat calendar event atau kalender acara, Januari hingga Desember, dan diletakkan di setiap hotel, restoran, stasiun kereta, terminal bandara dan terminal bus, serta tempat umum.

Event merupakan bentuk promosi terbaik. Sejak praevent, media massa sudah menulis. Pada saat event berjalan, berita lebih gencar lagi. Masyarakat, dalam dan luar negeri, yang tidak menyaksikan langsung bisa mengikuti event ewat pemberitaan media massa maupun media sosial. Di level nasional, event seperti Java Jazz dan Tour de Singkarak perlu diperbanyak.

Ketiga, kekhasan setiap daerah perlu dijual. Promosi wisata ke luar negeri bukan hanya mengusung brand Indonesia, melainkan brand setiap destinasi. Sebagaimana Bali, dunia pun perlu mengenal Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo, empat destinasi dari 10 destinasi pariwisata prioritas yang ditetapkan pemerintah.

Keempat, pentingnya kerja sama yang lebih padu pusat dan daerah, terutama dalam membangun akses transportasi dan kelengkapan amenitas. Bali mampu berkembang pesat, antara lain karena kelengkapan infrastruktur dan amenitas. Yang tidak mampu dibangun pemda perlu diambil alih pusat.

Kelima, implementasi yang lebih serius konsep public private partnership atau kerja sama pemerintah dan swasta dalam mengelola pariwisata. Indonesia membutuhkan pimpinan daerah yang memiliki visi, integritas, dan komitmen mengembangkan pariwisata.

Meski bukan menjadi satu dari 10 destinasi prioritas, pariwisata Kabupaten Banyuwangi mampu berkembang pesat. Kemajuan ini terjadi karena visi pemimpin daerah. Semua dinas di kabupaten yang dipimpin Azwar Anas ini berpartisipasi penuh dalam membangun pariwisata sesuai tugas dan fungsinya.

Kehadiran badan otorita selama ini tidak efektif karena selalu berbenturan dengan pimpinan daerah. Simaklah Otorita Batam yang menjadi macan ompong karena kebijakannya tidak didukung pemda. Peran pemimpin daerah sangat menentukan dalam memberikan berbagai perizinan.

Swasta dipersilakan berkreasi dan membangun berbagai jenis akomodasi dan amenitas serta merancang event, sedangkan pemerintah memberikan dukungan penuh lewat perizinan dan pembangunan berbagai jenis infrastruktur.

Pariwisata adalah hasil kerja sama semua pihak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Di pusat, pariwisata bukan hanya urusan Kementerian Pariwisata, melainkan semua kementerian. Sedang di provinsi dan kabupaten/kota, pariwisata bukan hanya urusan Dinas Pariwisata, melainkan semua dinas.

Dengan dukungan semua pihak, jumlah wisman 40 juta bukan sebuah target yang terlalu muluk. Indonesia adalah negeri yang kaya akan destinasi wisata alam dan budaya. Yang kurang dari negeri ini adalah imajinasi dan koordinasi. Yang kurang dari negeri ini adalah kerja sama semua pihak.