Pancarkan Islam yang Damai

BeritaSatu Sabtu, 2 Maret 2019 | 10:02 WIB

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu bisa mewakili fenomena gerakan sekelompok orang yang melakukan berbagai tindak kekerasan dan melanggar hak asasi manusia (HAM) dengan membawa nama Islam, baik yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri. Tindakan intoleransi dan anarkistis di Tanah Air yang dilakukan kelompok-kelompok kecil yang membawa nama Islam telah mencoreng wajah agama yang sejatinya memperjuangkan kedamaian. Demikian juga dengan aksi kelompok Islamic State (IS) yang sebelumnya mengusung nama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) serta Al Qaeda yang kini menjadi musuh bersama dunia telah menebar rasa takut terhadap Islam atau Islamofobia.

Untuk itu, rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2019, bermakna signifikan untuk merawat kebinekaan Indonesia. Dua rekomendasi penting adalah dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa tidak dikenal istilah kafir. Setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama di mata konstitusi, serta konsep Islam Nusantara untuk mengoptimalisasikan peran NU di dalam negeri serta membantu menyelesaikan konflik internasional dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Rekomendasi tersebut mengukuhkan posisi NU--dan juga Muhammadiyah—untuk berada di garis terdepan dalam mewujudkan Islam yang damai, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, sehingga menjadi kiblat banyak orang dalam memandang Islam. Inilah sesungguhnya tantangan bagi Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj maupun Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Meski belakangan ini aksi kekerasan terhadap sesama maupun kelompok agama lain relatif berkurang, kita harus tetap mewaspadai gerakan mereka. Setidaknya saat Ramadan, tak terdengar aksi sweeping yang menghebohkan. Kita bersyukur kalau mereka telah insaf dan menjalani gerakan dakwah dengan penuh keramahan serta tidak memandang orang di luar kelompoknya sebagai tidak Islami, bahkan kafir. Namun, bukan tidak mungkin, mereka terus melakukan konsolidasi untuk membuat aksi yang lebih menakutkan.

Untuk itu, kita berharap NU dan Muhammadiyah tetap menjadi pelopor, bahkan lebih giat lagi memancarkan wajah Islam yang sejuk dan damai. Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Sebagai organisasi massa terbesar di Indonesia, para pendakwah NU dan Muhammadiyah telah tersebar hingga ke seluruh pelosok Tanah Air. Kekuatan ini hendaknya dimanfaatkan untuk terus menggaungkan semangat toleransi di antara sesama Muslim serta saudara-saudarinya yang beragama lain.

Hal tersebut tetap urgen mengingat sampai saat ini masih terjadi gesekan di beberapa wilayah yang sebagian kecil masyarakatnya merupakan penganut Syiah. Penganut paham Syiah disingkirkan dari tanah kelahiran mereka dan menjadi pengungsi. Penganut Ahmadiyah pun tak bisa hidup tenang karena sering diusik kelompok-kelompok tertentu.

Demikian juga dengan sebagian umat Kristen yang selalu dilarang dan dihalang-halangi mendirikan gereja, bahkan beribadat, oleh sekelompok orang yang justru bukan berasal dari lingkungan tempat tinggal mereka. Kenyataan tersebut jelas mengganggu ketertiban umum dan membuat kehidupan bermasyarakat menjadi tak nyaman.

Apabila ajaran Islam yang damai dan toleran senantiasa berkumandang di negeri ini, kita berharap dapat menumbuhkan kembali kesadaran pengikut kelompok-kelompok garis keras. Dengan cara dakwah yang khas NU dan Muhammadiyah, kita percaya bisa menggugah kembali kesadaran mereka sebagai sesama warga bangsa.

Selain itu, kita harus menanamkan nilai-nilai toleransi dan antikekerasan kepada anak-anak sejak dini. Nilai-nilai positif yang tertanam dalam diri setiap anak akan menjadi benteng yang ampuh untuk menangkal indoktrinasi paham radikalisme dan ekstremisme. Selain di dalam keluarga, nilai-nilai positif kehidupan juga ditanamkan di pesantren serta sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola NU dan Muhammadiyah. Bila gerakan ini semakin masif dilakukan, kita berharap penganut radikalisme dan ekstremisme bisa berkurang.

Kemudian, dengan segala sumber daya dan dana yang ada, NU dan Muhammadiyah juga bisa membantu pemerintah mengatasi akar persoalan radikalisme dan ekstremisme, yakni kemiskinan dan pendidikan masyarakat yang masih rendah.

Di samping peran NU dan Muhammadiyah, kita tetap berharap tindakan tegas aparat Kepolisian terhadap kelompok-kelompok yang melakukan tindakan anarkistis. Fakta selama ini menunjukkan aksi kekerasan yang dilakukan cenderung dibiarkan, bahkan terkesan mendapat pengawalan. Kalaupun ada yang ditangkap dan ditahan, itu sekadar merespons desakan publik yang telanjur muak dengan aksi mereka. Tak terlihat upaya serius untuk menindak tegas, termasuk mencegah tindakan anarkistis di antara sesama warga masyarakat.

Oleh karena itu, kita berharap NU dan Muhammadiyah bersama Kepolisian serta instansi pemerintah terkait bahu-membahu mengembalikan kehidupan beragama yang harmonis dengan meminimalisasi ruang gerak kelompok intoleran, sekaligus menghadirkan wajah Islam yang damai.