Dukungan Konkret kepada Rumah Sakit

Suara Pembaruan Kamis, 26 Maret 2020 | 09:27 WIB

Perkembangan penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia memasuki fase mengkhawatirkan. Penambahan pasien yang positif terinfeksi terus terjadi secara eksponensial.

Per Rabu (25/3), pasien positif Covid-19 bertambah 105 menjadi 790 orang. Penambahan 105 kasus dalam sehari tidak bisa dianggap remeh, apalagi, tren penambahannya terus meningkat. Seiring dengan itu, jumlah pasien yang meninggal pun bertambah, mencapai jumlah 58 orang atau bertambah 3 orang dari sehari sebelumnya. Adapun pasien yang sembuh baru 31 orang.

Dikhawatirkan, dalam hari-hari ke depan penambahannya kemungkinan bisa lebih banyak lagi. Meskipun kita tidak berharap hal itu terjadi, tetapi skenario terburuk harus disiapkan. Hal ini mengingat dengan jumlah 790 kasus, pola penyebaran Covid-19 diyakini tidak lagi dari luar (imported case) tetapi sudah bersifat lokal.

Sejauh ini, pemerintah telah mengampanyekan agar masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan menjaga jarak (social distancing). Tak hanya itu, kebijakan bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah juga sudah diterapkan sejak awal pekan lalu. Kebijakan itu sebagai pengganti opsi karantina penuh di seluruh wilayah (lockdown) yang atas pertimbangan tertentu, tidak diambil pemerintah.

Namun, harus kita sadari, masyarakat masih kurang disiplin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penumpang masih berdesakan di gerbong kereta rel listrik. Hal itu menjadi dilema karena mereka harus ke kantor mencari penghidupan. Yang patut disayangkan, masih ada warga yang nekat berkerumum di kafe atau pusat keramaian, seolah tidak peduli dengan wabah yang membayangi diri mereka dan keluarganya. Merespons hal tersebut, kita mendukung langkah tegas aparat keamanan yang langsung membubarkan dan menyuruh mereka pulang.

Dengan gambaran tersebut, kita tetap harus waspada penyebaran Covid-19 di Tanah Air akan meluas. Apalagi, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, sekitar 700.000 orang berpotensi terinfeksi virus ini. Penelitian lain bahkan memprediksi kasus di Indonesia bisa mencapai 1 juta orang positif.

Bisa dibayangkan, dengan jumlah kasus 700 orang saja sudah kita sudah kewalahan. Fasilitas kesehatan yang ada berikut tenaga medis tampak belum siap. Hal paling sederhana adalah perlengkapan yang dibutuhkan tenaga medis, seperti baju pengaman, kacamata, masker, sarung tangan, dan masker, masih terjadi kekurangan di banyak rumah sakit. Oleh karenanya, pemenuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, dokter dan perawat, menjadi prioritas yang harus segera dipenuhi pemeritah apapun caranya.

Kapasitas rumah sakit pemerintah diyakini tidak akan mampu menangani jika jumlah pasien positif bertambah banyak. Wisma atlet yang didedikasikan sebagai rumah sakit darurat hanya untuk pasien positif berkategori ringan. Untuk pasien dengan kategori berat atau kritis, membutuhkan penanganan di ruang ICU dengan peralatan lengkap.

Oleh karenanya langkah pemerintah melibatkan rumah sakit swasta sudah tepat. Namun, itu belum cukup. Ada sejumlah hal yang harus dilakukan pemerintah agar fasilitas kesehatan kita siap menangani lonjakan pasien corona. Hal-hal dimaksud, di antaranya, pertama, seluruh klaim rumah sakit ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan harus segera dibayar. Ini juga penting dilakukan karena ibarat menghadapi peperangan besar, rumah sakit harus memiliki persenjataan berupa dana yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan, termasuk kebutuan APD bagi tenaga kesehatan yang akan berhadapan dengan pasien corona.

Kedua, longgarkan regulasi yang selama ini membelenggu pengelola rumah sakit swasta. Pemerintah harus memfasilitasi atau mempermudah apa yang bisa dilakukan rumah sakit swasta untuk terlibat dalam kerja besar mengatasi Covid-19. Dalam situasi darurat saat ini, cara berpikir pemerintah harus diubah menjadi fasilitator bukan cara berpikir birokrasi.

Ketiga, permudah izin bagi dokter spesialis untuk melayani seluruh rumah sakit di wilayahnya. Jangan lagi ada aturan yang membatasi pelayanan mereka hanya di rumah sakit sesuai izin praktiknya. Ini penting dilakukan agar jangan sampai ada dokter spesialis yang “menganggur” lantaran tidak diizinkan melayani di rumah sakit lain yang membutuhkan.

Pemerintah harus total mendukung rumah sakit dan juga tenaga medis. Seluruh komponen bangsa juga perlu mengulurkan tangan membantu mereka yang berada di garda terdepan dalam peperangan melawan pandemi corona.