Larangan Mudik

Suara Pembaruan Sabtu, 28 Maret 2020 | 08:34 WIB

Penyebaran virus corona semakin mengkhawatirkan karena kasus orang yang positif terinfeksi terus meningkat hingga kini. Saat pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020, baru dua orang yang dinyatakan positif corona. Kini, setelah hampir empat minggu berlalu, jumlah orang positif corona mencapai 1.046. Dari jumlah tersebut 87 orang meninggal, 46 orang sembuh, dan 913 orang kini masih menjalani perawatan.

Kita tentu tidak ingin jumlah orang terinfeksi corona terus meningkat secara eksponensial, seperti yang dialami Amerika dan Italia. Berdasarkan data Worldometers, Jumat (27/3), jumlah orang yang positif corona di Amerika mencapai 85.612 orang, melampaui Tiongkok sebagai negara pertama terinfeksi virus corona dengan jumlah 81.340 orang. Italia hampir menyamai Tiongkok dengan jumlah 80.589 orang. Namun, jumlah yang meninggal di Italia sebanyak 8.125 orang telah jauh melampaui Tiongkok dengan 3.292 korban meninggal. Jumlah yang meninggal di Spanyol melebihi Tiongkok, yakni 4.365 orang, sedangkan jumlah yang meninggal di Amerika tercatat 1.301 orang.

Data tersebut membuktikan bahwa beberapa negara di luar Tiongkok justru mengalami kondisi lebih parah dibanding negara asal virus corona dan tak tertutup kemungkinan Indonesia mengalami hal serupa. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto pernah menyatakan sekitar 700.000 orang di Indonesia berpotensi tertular corona. Sebuah lembaga internasional yang kredibel memprediksi bisa mencapai setidaknya 1 juta orang, bahkan sebuah media asing mencantumkan angka 5 juta.

Angka-angka tersebut seharusnya membuat kita semakin waspada, sekaligus membuktikan bahwa jumlah orang yang positif corona di negeri ini bisa ditekan seminimal mungkin dan tidak akan mencapai ratusan ribu orang, apalagi jutaan. Berdasarkan pengalaman sejumlah negara, ada dua langkah yang dilakukan untuk menekan jumlah korban. Langkah pertama dan paling ekstrem adalah penutupan wilayah (lockdown), seperti yang dilakukan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok--kota asal virus corona--, sehingga sekitar 65 juta orang menjalani karantina. Setelah berjalan selama dua bulan, jumlah korban turun drastis. India dengan penduduk 1,3 miliar juga melakukan lockdown.

Langkah kedua adalah selalu menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter sampai 2 meter yang dikenal dengan istilah social distancing atau physical distancing. Presiden Joko Widodo telah menegaskan bahwa Indonesia tidak akan melakukan lockdown, tetapi memilih kebijakan social distancing atau physical distancing. Konsekuensinya adalah bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah.

Sejalan dengan itu, belakangan mulai muncul usulan untuk melarang mudik yang merupakan tradisi menjelang Lebaran. Alasannya, mudik menjadi media penularan virus corona karena jutaan orang yang menjalaninya tidak akan mampu menerapkan physical distancing. Sejauh ini, larangan mudik masih berupa usulan dari kalangan tertentu. Oleh karena itu, kita mendesak pemerintah segera menetapkan kebijakan larangan mudik pada tahun ini.

Bagi kita, larangan mudik merupakan cara jitu untuk mengendalikan dan menekan penyebaran corona. Saat ini, Jakarta dan Bodetabek merupakan episentrum corona, sehingga orang-orang dari Jabodetabek berpotensi besar menjadi pembawa virus (carrier) bagi keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Warga Jabodetabek yang secara sadar tidak mudik tahun ini justru menunjukkan cinta mereka terhadap keluarga di daerah.

Namun, sebelum kebijakan larangan mudik diberlakukan, sejumlah orang telah “curi start” untuk mudik ke beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Akibatnya, jumlah kasus positif corona di daerah tersebut masuk lima besar di Indonesia.

Bagi mereka yang telanjur mudik, Dinas Kesehatan setempat dibantu aparat kelurahan serta pengurus RT/RW wajib melakukan penelusuran, menjalani tes corona, dan mengisolasi mereka untuk mengurangi potensi penularan virus corona di daerah. Peran ketua RT/RW untuk melaporkan warganya yang baru tiba dari luar daerah sangat penting dalam upaya pengendalian corona.

Warga Jabodetabek yang tidak mudik, khususnya pekerja informal atau orang yang mencari nafkah harian, perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat. Kebutuhan hidup mereka hendaknya ditanggung oleh pemerintah karena pendapatannya pasti menurun drastis di tengah kondisi sebagai besar orang berdiam di rumah.

Tanpa lockdown, Indonesia bisa mengendalikan penyebaran corona apabila ada larangan mudik, penelusuran dan isolasi pendatang di suatu daerah, disiplin menjalankan physical distancing, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah.