Menangi Perang Lawan Covid-19

Suara Pembaruan Sabtu, 18 April 2020 | 08:00 WIB

Sebagai bangsa, kita harus selalu optimistis untuk memenangi perang melawan wabah Covid-19. Kuncinya adalah gotong royong dari seluruh komponen bangsa dan tetap menebar semangat rela berkorban, saling membantu, saling mengingatkan, serta tetap menjaga asa bahwa pandemi ini segera berakhir.

Selama satu setengah bulan sejak kasus positif virus corona pertama kali diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020, kita telah membuktikan mampu menghadapinya. Setidaknya ada dua hal penting yang patut disoroti pada masa pandemi Covid-19. Pertama, penanganan wabah, mulai dari upaya pencegahan hingga pengobatan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, dan kedua, meminimalisasi dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat dan dunia usaha.

Dari sisi kesehatan masyarakat, kita mencatat pencapaian positif untuk pertama kalinya pada Kamis (16/4/2020). Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid 19, Achmad Yurianto mengumumkan bahwa pasien terjangkit corona yang sembuh tercatat berjumlah 548 orang, sedangkan yang meninggal 496 orang. Untuk pertama kalinya di Indonesia, jumlah pasien yang sembuh lebih banyak dibanding yang meninggal. Tren di dunia memang seperti itu, tetapi sampai Rabu (15/4/20), jumlah pasien yang meninggal di negeri ini masih lebih banyak dibanding yang sembuh.

Tren positif ini berlanjut pada Jumat (17/4/2020) dengan jumlah pasien yang sembuh bertambah 59 orang, sehingga menjadi 607 orang, dan yang meninggal hanya bertambah 24 orang menjadi 520 orang.

Hal tersebut tentu tak terlepas dari penanganan pasien sejak dini, terutama saat menunjukkan gejala tertular virus corona, yakni batuk pilek, demam, serta mengalami gangguan pernapasan. Penanganan pasien yang cepat tentu saja didukung ketersediaan dokter, perawat, tenaga kesehatan, tempat tidur dan ruang perawatan, ventilator, serta obat-obatan.

Kita melihat kapasitas medis di Indonesia untuk menangani pasien corona terus ditingkatkan. Meski beberapa dokter dan perawat meninggal akibat tertular corona saat merawat pasien, sejumlah relawan dokter dan perawat kini ikut bergabung menangani pasien yang terinfeksi. Untuk menjamin keselamatan mereka, ketersediaan alat pelindung diri (APD) dalam jumlah memadai menjadi hal mutlak.

Penambahan tempat tidur untuk merawat pasien serta intensive care unit (ICU) dan high care unit (HCI) yang dilakukan pemerintah, seperti di Wisma Atlet dan di rumah sakit miliknya, serta rumah sakit swasta, membuat semua pasien bisa menjalani perawatan dengan baik. Bahkan, ada rumah sakit swasta, seperti Siloam Hospitals Group, yang mendedikasikan dua rumah sakitnya untuk menangani pasien Covid-19.

Sayangnya, di tengah perang melawan Covid-19 muncul surat tak simpatik dari Kementerian Kesehatan yang meminta rumah sakit menunda pelayanan efektif, meski tetap memberikan pelayanan yang bersifat gawat darurat. Kita menyadari bahwa segala daya upaya ditujukan untuk menangani Covid-19, tetapi bukan berarti mengabaikan penyakit lain yang juga berpotensi menghilangkan nyawa manusia. Salah satunya adalah demam berdarah dengue (DBD). Oleh karena itu, kita mendesak menteri kesehatan memerintahkan dirjen pelayanan kesehatan merevisi suratnya mengenai pelayanan efektif rumah sakit.

Tak hanya di hilir, upaya pencegahan di hulu harus terus dioptimalkan. Sisi pencegahan inilah yang harus mendapat perhatian serius semua pihak dalam upaya mengendalikan penyebaran corona. Imbauan untuk menjaga jarak (physical distancing) dan wajib mengenakan masker saat keluar rumah merupakan cara jitu untuk menghentikan penularan virus mematikan ini.

Dalam skala yang lebih luas, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), seperti yang dilakukan di Jabodetabek dan kota lainnya diharapkan mampu menekan jumlah orang yang tertular. Apabila kita sukses menjalaninya, prediksi sejumlah kalangan bahwa orang yang terjangkit corona bisa mencapai ratusan ribu, bahkan minimal 1 juta orang, otomatis tak terwujud.

Kemudian dari sisi ekonomi, kita melihat upaya serius pemerintah untuk meminimalisasi dampak Covid-19 terhadap kelompok masyarakat miskin dan hampir miskin, serta dunia usaha. Beragam program bantuan sosial ditambah dan digulirkan sebagai jaring pengaman sosial. Berbagai insentif dan keringanan pajak bagi dunia usaha pun diluncurkan agar industri nasional tetap bisa bertahan pada masa krisis ini, lalu lebih cepat bangkit saat wabah Covid-19 berlalu.

Kita berharap segala pengorbanan dan daya upaya seluruh anak bangsa pada akhirnya berbuah manis. Tak ada kemenangan, tanpa pengorbanan. Kita semua telah berkorban dalam medan pertempuran melawan Covid-19 dan kemenangan itu sudah di depan mata.