Jangan Jauhi Tenaga Medis

Suara Pembaruan Senin, 20 April 2020 | 08:00 WIB

Sangat menyedihkan, di tengah gencarnya kampanye agar kita mengembangkan simpati dan dukungan sebesar-besarnya kepada para tenaga medis yang menjadi benteng terakhir pandemi Covid-19, masih ada sebagian masyarakat yang memperlakukan tenaga medis tidak semestinya. Mereka memperlakukan tenaga medis seolah-olah pembawa penyakit yang harus dijauhi lantaran ada sejawat yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Peristiwa yang menyayat rasa kemanusiaan itu terjadi di Kota Palembang akhir pekan lalu. Sejumlah perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang, “diusir” dari indekos mereka. Pangkal persoalannya, rekan mereka sesama perawat yang tinggal di indekos yang sama positif Covid-19. Padahal, perawat yang positif itu sudah lama tidak tinggal di tempat itu, mengikuti aturan rumah sakit harus tinggal di rumah sakit karena sehari-hari menangani pasien terpapar corona. Sedangkan, perawat yang masih menetap di indekos tugasnya tidak berhubungan dengan Covid-19.

Warga dan pengurus RT setempat memberi opsi boleh tetap tinggal di indekos tetapi dilarang keluar, atau jika tetap keluar untuk bekerja tidak boleh kembali pulang. Sebuah pilihan yang sulit, sebab para perawat itu tentu berkewajiban untuk tetap bekerja. Mereka pun memilih meninggalkan indekos dan untuk sementara tinggal di rumah sakit tempatnya bekerja.

Sikap dan tindakan tersebut sontak dikecam. Pemkot Palembang pun bertindak sigap meminta keterangan aparat di tingkat bawah tersebut.

Ada hal-hal yang perlu menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini. Pertama, masyarakat perlu terus diingatkan untuk mengembangkan simpati terbesar mereka kepada para tenaga medis –dokter dan perawat— yang sehari-hari melayani pasien Covid-19. Simpati ini sangat penting, karena tenaga medis yang berhadapan langsung dengan kasus Covid-19, menghadapi tekanan mental dan psikologis yang sangat besar.

Mereka rela meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Sebab, sesuai tata laksana penanganan pasien Covid-19, para tenaga medis harus menghindari kontak dengan orang luar untuk mencegah risiko penularan. Jauh dari keluarga tercinta dalam situasi pandemi yang mematikan saat ini tentu sebuah pengorbanan yang sangat besar. Belum lagi mereka berhadapan dengan risiko tertular dan kehilangan nyawa. Sudah puluhan dokter dan perawat yang meninggal dunia karena tertular Covid-19 saat menjalankan tugas profesi yang menjadi pilihan hidupnya.

Rasa simpati publik tentu tidak terbatas pada tenaga medis yang menangani pasien Covid-19, tetapi kepada semua dokter dan perawat yang masih berpraktik di rumah sakit. Tak bisa dimungkiri, rumah sakit adalah salah satu tempat yang memiliki risiko penularan terbesar. Sebab, ada kemungkinan mereka tertular oleh pasien yang saat ke rumah sakit belum terkonfirmasi terpapar corona.

Oleh karenanya, tidak berlebihan jika kini menggema ajakan mengembangkan simpati dan dukungan sebesar-besarnya kepada para tenaga medis yang dengan penuh semangat masih bekerja, dan berani menghadapi risiko penularan di tempat kerjanya. Bahkan pemerintah pun memberi tambahan insentif kepada tenaga medis yang bertugas, dan memberi santunan kepada keluarga tenaga medis yang meninggal dalam tugas.

Kedua, masyarakat perlu menyadari bahwa tenaga medis adalah komunitas yang paling disiplin dan paling ketat dalam menjalankan protokol pencegahan pandemi Covid-19. Dapat dipastikan mereka menjalani tes secara berkala untuk mengetahui siapa yang terinfeksi dan siapa yang tidak.

Protokol pencegahan ini juga tidak terbatas pada mereka yang bertugas di bangsal dan ruang isolasi pasien Covid, tetapi juga tenaga medis yang memberi layanan kesehatan kepada semua pasien. Apabila diketahui ada tenaga medis memiliki gejala mengarah ke Covid-19, tidak akan diizinkan menjalankan tugasnya, dan menjalani isolasi hingga dipastikan yang bersangkutan steril dari virus corona. Jangan sampai tenaga medis menjadi sumber penularan kepada pasien.

Kesadaran akan hal tersebut harus ditanamkan dan dipahami oleh semua warga. Dengan demikian, tidak perlu ada sikap menjauhi tenaga medis yang tinggal di tengah-tengah kita. Sebab, jika itu terjadi, justru akan kontraproduktif terhadap harapan kita agar badai Covid-19 ini bisa segera tertangani. Tindakan yang tidak terpuji terhadap tenaga medis di suatu tempat, bisa jadi meruntuhkan semangat sejawat mereka di tempat lain, karena khawatir akan mendapat perlakuan yang sama.

Tenaga medis pada hakikatnya adalah manusia biasa yang juga ingin diterima dan diperlakukan sama seperti warga lainnya. Mari, kita dukung mereka, kita beri semangat agar kerja keras dan pengorbanan mereka membuahkan kemenangan dalam peperangan melawan Covid-19 saat ini.