Gerakan Filantropi

Investor Daily Selasa, 21 April 2020 | 07:53 WIB

Setiap krisis akan melahirkan banyak hikmah, membuka peluang, menyibak tabir, dan merupakan momentum untuk melakukan berbagai koreksi. Juga menjadi kesempatan baik untuk melakukan konsolidasi dan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang selama ini terlupakan.

Hal itu tidak saja berlaku bagi pemerintah atau negara, tetapi juga berbagai lembaga, korporasi, perusahaan kecil, termasuk juga perekonomian keluarga. Keharusan untuk berbenah berlaku pula bagi para individu, apakah dia seorang profesional, pelajar, orang biasa, atau siapa saja.

Kita tidak pernah menyangka bahwa krisis yang dipicu oleh pandemi virus corona (Covid-19) ini memorakporandakan perekonomian global. Bukan hanya menghajar negara maju, juga menggulung negara-negara berkembang. Banyak negara yang gagap menghadapi krisis, utamanya karena kurangnya kapasitas infrastruktur kesehatan.

Di Indonesia, nyaris tidak ada sektor bisnis yang luput dari dampak wabah corona. Krisis ini juga membuka mata kita betapa banyak orang yang sangat bergantung terhadap pendapatan harian. Sektor informal, yang menguasai 70% lapangan kerja nasional, mendapat pukulan hebat akibat wabah Covid-19, yang mengharuskan pemerintah menetapkan kebijakan diam di rumah dan jaga jarak. Setidaknya dua juta pekerja di seluruh Indonesia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan atau dipaksa cuti tanpa gaji.

Jumlah penduduk miskin pasti akan bertambah, dari 25 juta orang saat ini. Jika pemerintah memperkirakan dampak wabah Covid-19 akan menambah 5 juta penduduk miskin, realitanya pasti akan jauh lebih besar. Apalagi sangat banyak rakyat di negeri ini yang rentan miskin atau sedikit berada di atas garis kemiskinan.

Syukurlah, pemerintah yang awalnya menganggap enteng pandemi corona, belakangan memberikan respons yang cepat. Berbagai stimulus diluncurkan. Anggaran baru senilai Rp 405 triliun digelontorkan untuk dana kesehatan, jaring pengaman sosial, bantuan untuk dunia usaha, serta dana pemulihan ekonomi.

Jelas, stimulus itu tidak akan mencukupi. Mengatasi krisis besar ini tidak mungkin hanya mengandalkan uang negara. Partisipasi seluruh elemen bangsa sangat diperlukan. Terutama dunia usaha, kendati mereka pun menjadi korban krisis. Terlebih pengusaha besar, separah-parahnya krisis, mereka pasti memiliki kekayaan yang layak didermakan, berapa pun nominalnya.

Dalam konteks itu, kita mengapresiasi perusahaan-perusahaan besar yang ramai-ramaikan mendonasikan ratusan miliar rupiah untuk mengatasi dampak Covid-19. Mereka mendonasikan atas inisiatif sendiri. Di luar itu, Kadin Indonesia juga menggalang dana dari pengusaha papan atas dengan target dana Rp 500 miliar.

Aksi pengumpulan dana yang dilakukan oleh kaum tajir ini diharapkan diikuti oleh pengusaha lainnya, termasuk UMKM. Inisiatif yang dipelopori oleh pengusaha papan atas diharapkan menginspirasi pihak lain untuk berbagi. Sisihkan sebagian keuntungan untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung.

Gerakan filantropi kini menyebar luas, menjadi gerakan nasional, dan tak hanya monopoli kaum kaya. Penggalangan dana dan uluran bantuan mengalir dari kaum menengah bawah, tak peduli berapa pun nilainya. Bantuan diberikan dalam bentuk uang, sembako, nasi bungkus, hingga piranti kesehatan. Bantuan dalam bentuk tenaga pun datang dari ribuan relawan.

Besarnya bantuan materi yang terkumpul tentunya harus disampaikan kepada mereka yang benar-benar berhak. Penyaluran bantuan harus tepat sasaran. Justru di sinilah masalah sering timbul. Distribusi bantuan acap kali menimbulkan kekisruhan dan ketidakpuasan.

Sumber karut marut adalah lemahnya manajemen dan data. Data rakyat yang berhak menerima sering tidak akurat. Tidak jarang daftar penerima adalah dari kelompok tertentu sesuai kepentingan aparat di tingkat bawah. Di lain sisi, bantuan ini dimanipulasi oleh oknum yang memanfaatkan situasi.

Itulah sebabnya, distribusi bantuan harus diawasi ketat. Mekanisme dan prosedurnya harus jelas dan transparan. Audit dan pertanggungjawaban menjadi hal mutlak. Semua itu mesti dilakukan untuk menekan kebocoran bantuan seminimal mungkin.

Krisis telah menggugah nurani bangsa untuk berjuang bersama melewati masa-masa sulit ini. Pandemi Covid-19 mengembalikan jati diri bangsa yang memiliki jiwa solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang tinggi, saling gotong royong, dan gemar berderma.

Kita berharap gerakan filantropi massal ini tidak dinodai oleh ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan kesempatan dan memetik keuntungan dari situasi krisis. Betapa tumpulnya nurani mereka yang tega membawa budaya korupsi dan manipulasi dalam kegentingan sekarang.