Dukungan Kepabeanan Memerangi Covid-19

Suara Pembaruan Kamis, 23 April 2020 | 08:00 WIB

Salah satu kunci memenangi peperangan menghadapi pandemi Covid-19 adalah terpenuhinya peralatan perang. Peralatan perang dimaksud adalah alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, masker, obat-obatan, peralatan kesehatan, dan semua elemen yang diperlukan untuk perawatan pasien dan juga untuk mencegah meluasnya penyebaran.

Harus diakui, tidak semua yang dibutuhkan itu bisa dipenuhi dari dalam negeri. Dalam situasi normal, sebagian masih diimpor. Di situasi pandemi saat ini, kebutuhan APD, obat-obatan, dan peralatan medis lainnya melonjak di seluruh dunia. Inilah tantangan terbesar kita bagaimana bisa memenuhi segala yang dibutuhkan di saat industri dalam negeri belum bisa memenuhinya.

Tentu impor menjadi satu-satunya cara, karena penyebaran virus corona tidak bisa menunggu industri dalam negeri bisa meningkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan. Untuk mengimpor pun kita juga harus berebut dengan negara-negara lain yang sama-sama membutuhkan.

Di sinilah dibutuhkan peran Ditjen Bea dan Cukai untuk membantu memperlancar arus masuk barang-barang yang dibutuhkan untuk menangani wabah Covid-19 di Tanah Air. Bea dan Cukai merupakan pintu masuk utama barang-barang dari luar negeri.

Dukungan yang diharapkan dari Bea dan Cukai tentunya untuk menghilangkan segala hambatan, baik dari sisi aturan maupun operasional di pintu-pintu masuk kedatangan barang. Dari sisi aturan, kita berharap dalam situasi kedaruratan nasional ini, diterapkan aturan yang luar biasa pula. Perlu ada kelonggaran, misalnya terkait pungutan bea masuk peralatan kesehatan yang selama ini diterapkan pada situasi normal. Hal ini menjadi insentif bagi importir sehingga semakin banyak barang yang bisa didatangkan, sebab kita sendiri tidak tahu sampai kapan barang itu dibutuhkan. Pada muaranya, insentif ini akan membuat harga barang tersebut lebih murah.

Dari sisi operasional di lapangan, kita berharap jangan sampai barang tertahan di pelabuhan atau bandara, sebaliknya harus langsung bisa didistribusikan ke pihak yang berkepentingan. Sebab, saat ini kita berpacu dengan waktu agar penanganan pasien bisa dilakukan secepatnya, sehingga memperkecil risiko kematian. Kita juga berpacu dengan waktu agar semakin banyak peralatan pencegahan yang bisa didistribusikan untuk memutus rantai penularan.

Kita mengapresiasi Ditjen Bea dan Cukai yang sejauh ini cukup responsif membantu peperangan melawan Covid-19 sesuai tugasnya. Berdasarkan data, nilai impor barang yang masuk terkait penanggulangan Covid-19 mencapai Rp 777,59 miliar. Dari nilai itu, komoditas terbesar yakni masker sebanyak 17,10 juta buah; 3,26 juta test kit; 1,95 juta APD; 390.326 obat-obatan; 1,49 juta item peralatan rumah sakit, dan 422.270 item barang-barang lain yang dibutuhkan untuk menangani Covid-19.

Dari sisi regulasi kepabeanan, Kementerian Keuangan memberi keringanan terhadap 73 jenis barang, berupa fasilitas bebas bea masuk dan pajak impor. Pelonggaran itu sudah dikoordinasikan dengan WHO dan Kementerian Kesehatan.

Hal yang melegakan, pelanggaran itu tidak terbatas impor yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah maupun badan layanan umum, namun juga diberikan kepada perusahaan importir alat kesehatan, seperti masker, APD, disinfektan, hand sanitizer, vitamin, dan obat-obatan. Meskipun impor tersebut untuk tujuan komersial, namun dengan pelonggaran bea masuk diharapkan bisa membantu menurunkan harga barang-barang tersebut yang saat ini harganya melambung dan langka di pasaran. Diharapkan harga menjadi terjangkau dan jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga semakin banyak masyarakat yang membelinya dan pada akhirnya membantu mencegah penularan.

Dengan langkah sinergis dari otoritas kepabeanan semacam itu, kita juga berharap bisa efektif mengikis praktik perburuan rente. Tidak dimungkiri, di tengah situasi tingginya kebutuhan terhadap alat-alat kesehatan, vitamin, dan obat-obatan saat ini, membuka kesempatan bagi pemburu rente yang mengincar keuntungan besar dengan memanfaatkan kesulitan negara dan masyarakat. Kecurigaan ini cukup beralasan melihat fakta kelangkaan dan tingginya harga barang-barang dimaksud.

Oleh karena itu, dalam perang total melawan Covid-19, semua elemen harus berkontribusi membantu. Kontribusi seperti yang telah dilakukan Bea dan Cukai, sangat vital untuk mendukung penanganan pasien yang telah terinfeksi, sekaligus membantu pemerintah dan masyarakat mencegah dan memutus mata rantai penularannya.