Pesan di Pengujung Ramadan

Suara Pembaruan Sabtu, 23 Mei 2020 | 08:00 WIB

Besok umat Islam merayakan hari kemenangan. Setelah berpuasa selama sebulan di tengah pandemi Covid-19, pantaslah umat Islam bersukacita karena telah lulus menjalani ujian keimanan.

Namun, suasana Idulfitri tahun ini jelas sangat berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada salat Idulfitri di tanah lapang atau jalan-jalan raya. Tak ada acara saling kunjung di antara keluarga dan kerabat. Tak ada open house di rumah pejabat negara dan pejabat daerah. Hari kemenangan hanya bisa dirayakan di rumah masing-masing dan berhalabihalal secara virtual.

Kenyataan tersebut memang harus diterima, karena dunia, tak terkecuali Indonesia, tengah dilanda wabah corona. Penyakit yang menakutkan ini telah merenggut nyawa sekitar 335.000 orang di dunia. Di Indonesia, per 22 Mei 2020, sebanyak 1.326 nyawa telah melayang.

Sejak kasus positif pertama Covid-19 diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020, segala upaya telah dikerahkan untuk mengendalikan virus mematikan ini. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dari tingkat pusat hingga daerah dibentuk dengan tujuan secepat mungkin menghentikan penularan corona dari satu orang ke orang-orang yang lain, atau di dalam keluarga.

Kapasitas medis yang ada dikerahkan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan orang yang terinfeksi corona. Sejumlah peralatan medis didatangkan dari luar negeri, seperti reagen dan mesin untuk melakukan uji laboratorium dengan metode polymerase chain reaction (PCR), agar kita bisa lebih cepat memetakan penyebaran virus, sekaligus melaksanakan pencegahannya.

Protokol kesehatan tak henti dikumandangkan di ruang-ruang publik. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di beberapa provinsi, kabupaten, dan kota. Daerah yang tidak mengadopsi PSBB menjalankan protokol kesehatan, didukung kearifan lokal masing-masing.

Ada yang sukses, tetapi tak sedikit yang gagal. Contoh yang paling menonjol adalah Provinsi Jawa Timur yang sampai saat ini dinilai gagal mengendalikan corona. Berdasarkan data per 21 Mei 2020, Jawa Timur mencatat jumlah kasus positif corona terbanyak dalam satu hari, yakni 502 kasus. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat DKI Jakarta yang pernah mencatat 236 kasus dalam sehari pada 9 April 2020.

Kenyataan tersebut menunjukkan kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan dalam jumlah yang lebih banyak lagi di waktu-waktu mendatang. Salah satu parameternya adalah kesadaran publik menjalankan protokol kesehatan, terutama pada pengujung Ramadan dan saat Idulfitri.

Sayangnya, sebagian warga masih belum sadar untuk mematuhi imbauan pemerintah menjalankan protokol kesehatan. Pasar di sejumlah daerah masih disesaki pengunjung. Kerumunan orang pun terjadi. Tak ada lagi physical distancing di antara mereka. Pemakaian masker tak lagi diindahkan.

Kita khawatir ketidakpedulian masyarakat terhadap pelaksanaan protokol kesehatan membuat upaya pengendalian virus corona menjadi berkepanjangan. Berbagai upaya serius selama tiga bulan untuk menaklukkan corona akan menjadi sia-sia apabila tidak didukung kesadaran untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Satu-satunya cara untuk memutus mata rantai penyebaran corona adalah sungguh-sungguh menjalankan protokol kesehatan, terutama menjaga jarak fisik minimal satu meter, memakai masker, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, serta menghentikan kebiasaan memegang mulut, hidung, dan mata, yang menjadi pintu masuk corona.

Imbauan pemerintah agar salat Idulfitri dilakukan di rumah serta melakukan halalbihalal secara virtual hendaknya diikuti seluruh umat Muslim agar penyebaran corona lebih cepat dikendalikan. Dengan demikian, kita bisa segera beraktivitas seperti biasa meski dalam era normal baru (new normal).

Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.