Sehat Tanpa Narkoba

Suara Pembaruan Sabtu, 27 Juni 2020 | 08:00 WIB

Di tengah pandemi Covid-19 ternyata tingkat konsumsi narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba) justru meningkat. Penyebabnya, banyak orang stres akibat kegiatan bisnis yang tidak aktif. Kita tentu saja prihatin dengan kenyataan tersebut. Apalagi, belakangan ini pengguna narkoba masih berusia muda dan termasuk kelompok usia produktif. Masa depan bangsa ini pasti suram apabila sebagian besar generasi muda terjerat barang haram tersebut.

Meski saat ini sudah ada Badan Narkotika Nasional (BNN) dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota, seluruh komponen masyarakat tetap memiliki tanggung jawab untuk menjauhkan generasi muda dari narkoba. Semua itu bisa dimulai lingkup terkecil, yakni keluarga serta rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW).

Sosialisasi dan kampanye bahaya narkoba harus senantiasa digaungkan. Dari sisi fisik dan kesehatan, penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan keseimbangan elektrolit dalam tubuh berkurang. Kekurangan cairan dalam tubuh akan menimbulkan kejang-kejang, muncul halusinasi, perilaku lebih agresif, serta sesak pada dada. Dalam jangka panjang, penggunaan narkoba dapat menyebabkan kerusakan otak.

Selain itu, penggunaan narkoba bisa menyebabkan muntah, mual, rasa takut berlebihan, serta gangguan kecemasan. Pemakaian dalam waktu lama mengakibatkan kecemasan, gangguan mental, hingga depresi. Tak hanya itu, pengguna narkoba akan menurunkan tingkat kesadaran, kesulitan mengenal lingkungan, hingga kematian.

Kecanduan terhadap narkoba juga membuat korban menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang untuk membeli barang haram tersebut. Hubungan di dalam keluarga maupun masyarakat ikut terganggu dan tak jarang berakhir di balik jeruji besi akibat pelanggaran hukum.

Oleh karena itu, tema yang diambil dalam peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) pada 26 Juni 2020, yakni “Hidup 100% di Era New Normal, Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia Tanpa Narkoba” sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di tengah pandemi, kita perlu bekerja lebih keras untuk meminimalisasi jumlah korban akibat narkoba.

Cara jitu menekan pengguna narkoba adalah dengan memutus rantai pasokan. Pada era sebelum pandemi, pasokan narkoba lewat jalur laut sekitar 80%, tetapi saat ini hampir 100%. Oleh karena itu, pengawasan laut Indonesia menjadi faktor penting untuk memutus mata rantai pasokan narkoba.

Sayangnya, sampai saat ini kita belum berhasil menyatukan aparatur berbagai instansi dalam satu komando. Aparatur itu, antara lain berasal dari Badan Keamanan Laut (Bakamla), Kepolisian Perairan dan Udara, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan, dan TNI Angkatan Laut. Koordinasi di antara berbagai instansi tersebut dengan BNN terbukti belum cukup untuk mengurangi secara signifikan penyelundupan narkoba lewat laut. Pemerintah perlu membentuk sebuah badan dengan kewenangan yang lebih luas untuk mengatasi berbagai persoalan di laut, termasuk mencegah penyelundupan narkoba.

Dari sisi pengedar dan bandar, penegakan hukum telah cukup optimal dijalankan. Hanya saja, saat mereka berada di penjara, aktivitas perdagangan narkoba, belum sepenuhnya bisa dihentikan. Untuk itu, Kemkumham yang membawahkan lembaga pemasyarakatan perlu lebih memberikan ruang kepada BNN dan Kepolisian melakukan operasi di dalam penjara. Bagi yang terbukti tetap mengendalikan jaringan narkoba di luar penjara, aparat hukum tak perlu ragu menjatuhkan vonis hukuman seumur hidup hingga hukuman mati.

Bagi para korban, proses rehabilitasi yang dilakukan BNN dan swasta, perlu terus dilakukan agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal. Keluarga dan lingkungan juga berperan sangat penting merehabilitasi korban, sekaligus bisa mencegah generasi muda terjerumus mengonsumsi narkoba. Generasi muda yang sehat tanpa narkoba akan membawa bangsa ini menjadi lebih maju.