Transformasi atau Mati

Investor Daily Rabu, 1 Juli 2020 | 07:57 WIB

Industri perbankan nasional sedang di persimpangan. Di satu sisi, bank-bank harus menghadapi disrupsi akibat revolusi industri keempat. Di sisi lain, mereka mesti beradaptasi dengan perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Revolusi industri keempat telah menimbulkan konsekuensi yang tragis pada industri perbankan di seluruh dunia. Jumlah kantor bank terus menyusut. Pegawai teller kian langka. Jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) menciut. Gerai-gerai bank menghilang.

Ketika zaman menuntut layanan perbankan yang serba-simple, cepat, dan murah untuk transfer uang, cek saldo, informasi kurs, membayar tagihan kartu kredit, membayar listrik, membeli pulsa, dan jenis pembayaran lainnya, bank tak kuasa menolaknya. Maka lahirlah internet banking.

Tatkala zaman menghendaki transaksi perbankan bisa dilakukan dari tempat tidur melalui sebuah telepon genggam (handphone), lahir pula mobile banking. Tak megherankan jika kemudian muncul adagium bahwa persaingan pada industri perbankan ditentukan oleh kesiapan masing-masing bank dalam menerapkan electronic banking (e-banking) atau digital banking.

Namun, teknologi disruptif (disruptive technology) yang dihasilkan revolusi industri keempat ternyata tidak hanya melahirkan digital banking. Industry 4.0 juga melahirkan teknologi-teknologi serupa di sektor jasa keuangan nonbank. Salah satunya adalah industri teknologi finansial (financial technology/fintech).

Di banyak negara, industri fintech, khususnya fintech pinjaman dari pengguna ke pengguna atau peer to peer (P2P) lending, telah menjadi ancaman serius bagi eksistensi perbankan karena mereka berpraktik nyaris sama dengan bank. Ancaman itu kemudian dikenal dengan istilah "perbankan bayangan" (shadow banking) atau "perbankan tanpa bank" (banking without the banks).

Berdasarkan hasil penelitian Bank of International Settlements (BIS) yang kemudian menjadi kajian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada lima skenario nasib perbankan ke depan. Skenario pertama, perbankan bisa lebih baik sejalan dengan berkembangnya teknologi informasi. Syaratnya, bank-bank mampu beradaptasi dan melakukan transformasi.

Skenario kedua, bank-bank yang sudah eksis tidak bisa menyesuaikan diri, sehingga posisinya digantikan bank baru yang telah mengadopsi teknologi digital. Skenario ketiga, bank-bank konvensional tetap melakukan kegiatan yang bersifat umum dan terus menjaga hubungan dengan nasabah, sedangkan layanan khusus diberikan perusahaan berbasis digital.

Skenario keempat, perbankan akan terdegradasi, sehingga mereka hanya bisa melakukan kegiatan umum. Adapun hubungan dan pembinaan lebih jauh dengan nasabah akan dilakukan perusahaan digital. Skenario kelima, perbankan tidak lagi berperan sebagai intermediator karena masyarakat bisa langsung berhubungan secara mandiri dengan perusahaan yang sudah terdigitalisasi.

Skenario-skenario tersebut secara terang benderang mengamanatkan perbankan bertransformasi, berinovasi, dan beradaptasi dengan teknologi digital. Jika terus bertransformasi, perbankan tidak akan mati akibat ditinggalkan nasabahnya. Bisa dipahami jika OJK tegas menyatakan bahwa konsekuensi yang harus diterima perbankan dalam menghadapi industry 4.0 hanya dua, yaitu bertransformasi atau mati.

Untuk memuluskan transformasi bisnisnya, bank--mau tidak mau--harus berkolaborasi, baik dengan sesama bank, maupun dengan industri nonbank, termasuk dengan perusahaan-perusahaan fintech. Bank jangan menjadikan fintech sebagai kompetitor, apalagi ancaman, melainkan sebagai mitra bisnis yang akan menghasilkan simbiosis mutualisme.

Industri perbankan, dengan kekuatan finansialnya, dan industri fintech dengan keandalan fleksibilitasnya, adalah dua kekuatan yang bisa saling mengisi. Ada bagian-bagian yang tidak bisa ditangani bank, tetapi bisa ditembus perusahaan fintech. Misalnya kredit tanpa agunan dengan limit tertentu yang jika ditangani bank akan lebih mahal, rumit, dan berisiko.

Selain berkolaborasi dengan sesama bank dan nonbank, termasuk perusahaan fintech, bank harus berkolaborasi dengan masyarakat sebagai nasabahnya. Dengan begitu, bank bisa memahami kebutuhan para nasabah secara lebih baik, terutama dari sisi pilihan produk dan keamanan. Dengan begitu pula, produk dan jasa yang ditawarkan perbankan bakal diterima masyarakat.

Kita bersyukur bank-bank di Tanah Air mampu beradaptasi di tengah pandemi Covid-19. Kita yakin pandemi corona adalah momentum bagi para bank untuk mempercepat transformasi digital. Manakala masyarakat jarang pergi ke ATM dan gerai bank karena ada pembatasan jarak fisik dan takut terpapar corona, bank-bank justru harus menjadikannya sebagai peluang untuk menarik lebih banyak nasabah baru melalui layanan mobile yang lebih singkat, cepat, murah, dan aman.

Kita percaya, asalkan perbankan terus berinovasi, bertransformasi, dan berkolaborasi, fenomena shadow banking atau banking without the banks tidak akan terjadi di Indonesia. Apalagi rasio kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) kita masih sangat rendah, baru 35-40%, dibanding negara-negara lain yang sudah 60-100%. Berarti, prospek industri perbankan di Tanah Air masih sangat cerah.

Lagi pula, industri perbankan di Tanah Air tak boleh terdegradasi, tereduksi, dan tereliminasi. Industri perbankan harus tetap hidup, sehat, dan terus mengoptimalkan fungsi intermediasinya terhadap sektor riil agar perekonomian nasional bertumbuh supaya angka pengangguran dan kemiskinan berkurang.