Aset Sitaan Korupsi di Arab Saudi Rp 1.423 Triliun

Aset Sitaan Korupsi di Arab Saudi Rp 1.423 Triliun
Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, Arab Saudi. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 31 Januari 2018 | 17:26 WIB

Riyadh - Jaksa Agung Arab Saudi, Saud Al-Mojeb, menyatakan bahwa 56 tersangka korupsi saat ini masih berada dalam tahanan dari 381 orang yang ditahan. Al-Mojeb menambahkan total nilai penyelesaian dengan para tersangka mencapai 400 miliar riyal (US$ 106,7 miliar atau Rp 1.423 triliun) dalam bentuk aset-aset mulai termasuk real estate, entitas komersial, sekuritas, dan uang tunai.

Kejaksaan Agung (Kejagung), sebagai bagian dari Komite Tertinggi Anti-Korupsi, lewat pernyataannya menyebutkan para saksi dipanggil untuk bersaksi atau memberikan bukti.

“Kajian berkas kasus terkait mereka yang diduga korupsi telah selesai. Perundingan dan penyelesaian dengan orang-orang yang dikenai tuduhan korupsi telah disimpulkan, dan kasus-kasus ini dikirimkan kepada Kantor Kejaksaan untuk menyelesaikan prosedur yang relevan,” sebut pernyataan Kejagung Saudi.

Pernyataan itu menambahkan, sebagai hasilnya, Kantor Kejaksaan memutuskan untuk membebaskan semua orang yang tidak didapati cukup bukti dan juga membebaskan semua orang yang dengannya pemerintah menerima untuk membuat penyelesaian setelah mereka mengaku tuduhan korupsi atasnya,” sebut pernyataan tersebut.

Kejagung menolak untuk melakukan penyelesaian dengan 56 orang karena adanya kasus pidana lain yang tertunda dan dalam rangka melengkapi proses penyelidikan sebagaimana diperintahkan oleh hukum. Dalam pengumuman sebelumnya, Kejagung menyatakan setelah fase penyelesaian berakhir, pekerjaan komite anti-korupsi akan memasuki fase baru. Ini merujuk kepada para tahanan yang diserahkan ke Kejaksaan.

Kantor Kejaksaan akan memeriksa kasus-kasus yang diacu oleh Komite dan menyelesaikan prosedur hukum melawan mereka, termasuk melanjutkan penyelidikan. Langkah terakhir dalam tahap ini adalah Kejaksaan bisa melepaskan para tersangka saat penyelidikan selesai karena kurangnya bukti atas mereka atau kasus itu tetap diajukan dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Kode Prosedur Pidana menyediakan para tersangka sejumlah hak, termasuk tidak membatasi hak untuk dibantu oleh agen atau pengacara dalam penyelidikan dan tahap persidangan, hak untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ingin mereka sampaikan mengenai penangkapan tersebut, dan hak untuk tidak ditahan selama lebih dari enam bulan kecuali lewat keputusan pengadilan yang kompeten.

Interogasi yang melibatkan dugaan korupsi telah dilakukan di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh, sejak November 2017 sebagai lokasi “penjara mewah” bagi para tahanan. Penangkapan ratusan tersangka korupsi ini adalah upaya Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman untuk mereformasi perekonomian negaranya dan diduga untuk memperkuat kekuasannya.



Sumber: Suara Pembaruan