AS Nyatakan Pemimpin Hamas Sebagai Teroris

AS Nyatakan Pemimpin Hamas Sebagai Teroris
Retno dan Menteri Pertahanan AS Bahas Palestina ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Jeanny Aipassa / WIR Kamis, 1 Februari 2018 | 17:51 WIB

Washington - Amerika Serikat (AS) mengumumkan pemimpin senior Hamas, Ismail Haniya, masuk dalam daftar teroris global. Pengumuman itu disampaikan Departemen Luar Negeri (Deplu) AS, Rabu (31/1).

Dalam siaran pers resmi, Deplu AS menyatakan, Haniya dimasukkan ke daftadd teroris karena memiliki hubungan dekat dengan sayap militer Hamas dan telah menjadi pendukung perjuangan bersenjata, termasuk melawan warga sipil.

Dengan dimasukan ke daftar teroris, berarti akan ada larangan bepergian kepada Haniya, dan aset keuangan yang dimilikinya di AS, akan dibekukan. Selain itu, akan ada larangan pada setiap individu atau perusahaan AS untuk berbisnis dengannya.

Hamas belum mengeluarkan keputusan resmi atas keputusan AS tersebut. Namun pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, mengatakan bahwa keputusan AS tersebut merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas untuk melawan orang-orang Palestina, sejak Presiden AS, Donald Trump, mulai menjabat pada Januari 2017.

"Jelas bahwa permusuhan dari pemerintah AS terhadap orang-orang Palestina meningkat dari sebelumnya, terlihat dari pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel, memotong pendanaan untuk Palestina dan kini memasukan Haniya ke daftar teroris," kata Hamad.

Seperti diketahui, Presiden Trump telah membuat serangkaian keputusan dalam beberapa bulan terakhir yang telah meningkatkan ketegangan di wilayah ini. Pada 6 Desember 2017, Trump mengumumkan secara resmi pengakuan AS bahwa Yerusalem merupakan ibukota Israel dan akan memproses pemindagan kantor perwakilan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Selanjutnya pada 17 Januari 2018, pemerintah AS memutuskan untuk memotong lebih dari separuh dana yang direncanakan diberikan ke badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina. Badan bantuan tersebut telah menjadi jalur penyelamat bagi lebih dari lima juta pengungsi Palestina yang terdaftar selama lebih dari 70 tahun.



Sumber: Suara Pembaruan