Arab Saudi Siap Balas Ancaman Sanksi Terkait Hilangnya Jurnalis

Arab Saudi Siap Balas Ancaman Sanksi Terkait Hilangnya Jurnalis
Seorang polisi Turki berdiri di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, 8 Oktober 2018. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 15 Oktober 2018 | 19:32 WIB

Riyadh- Arab Saudi membantah keterlibatannya dalam kasus hilangnya jurnalis yang mengisi kolom di surat kabar Washington Post. Dia memperingatkan setiap sanksi kepada negaranya akan dibalas dengan “tindakan lebih besar”, termasuk kemungkinan melonjaknya harga minyak.

“Kerajaan menegaskan penolakan sepenuhnya atas setiap ancaman dan upaya untuk melemahkannya, baik ancaman untuk menjatuhkan sanksi ekonomi, penggunaan tekanan politik, atau terus mengulang tuduhan palsu,” kata pemerintah lewat pernyataan kepada media Saudi, Minggu (14/10).

Para pemimpin Eropa menyampaikan tekanan, serta dua lagi eksekutif Amerika Serikat (AS) membatalkan rencana mereka untuk menghadiri konferensi investasi di Riyadh.

“Kerajaan juga memastikan apabila menerima tindakan apa pun akan menanggapinya dengan tindakan lebih besar, dan ekonomi Kerajaan memiliki pengaruh dan peran penting dalam ekonomi global,” tambah pernyataan itu.

Khashoggi adalah warga AS yang tinggal di negara itu sejak tahun lalu dan rutin mengisi kolom Washington Post untuk mengkritik kebijakan-kebijakan Kerajaan Saudi. Dia menghilang pada 2 Oktober 2018 setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul, Turki untuk mengurus dokumen terkait rencana pernikahannya dengan seorang perempuan Turki.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam “hukuman berat” jika Khashoggi ternyata dibunuh di dalam konsulat, meskipun menurutnya, Washington juga ikut menghukum dirinya sendiri jika menghentikan penjualan militer ke Riyadh.

Peringatan Trump memukul pasar saham Saudi yang jatuh sampai 7 persen kemarin sebelum akhirnya memulihkan beberapa kehilangan dan ditutup dengan penurunan 3,5 persen. Dalam wawancara dengan CBS News, Trump mengataan kebenaran mengenai nasib Khashoggi akan diketahui dalam waktu tidak terlalu jauh. Terkait sanksi AS untuk Saudi, Trump mengatakan tergantung dari sanksinya.

“Saya akan memberikan contoh kepada Anda. Mereka memesan peralatan militer. Semua orang di dunia mengharapkan pesanan itu. Rusia menginginkannya, Tiongkok juga, kita juga, dan kita mendapatkannya,” kata Trump.

“Saya tidak ingin melukai pekerjaan. Saya tidak ingin kehilangan pesanan seperti itu. Masih ada jalan lain untuk menghukum, dengan menggunakan kata-kata cukup kasar, tapi itu benar,” tambah Trump saat ditanya lebih lanjut tentang penghentian penjualan ke Saudi.

Namun, dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengatakan pembatalan kesepakatan penjualan senjata dengan Saudi artinya menghukum diri sendiri. Pasalnya, AS berkompetisi dengan Tiongkok dan Rusia untuk kesepakatan US$ 110 miliar (Rp 1,6 triliun) itu.



Sumber: Suara Pembaruan