Sidang Kasus Khashoggi, PBB Pertanyakan Objektivitas Saudi

Sidang Kasus Khashoggi, PBB Pertanyakan Objektivitas Saudi
Jaksa terkemuka Arab Saudi Saud al-Mojeb berjalan ke arah pesawat untuk meninggalkan Turki, di Istanbul, pada 31 Oktober 2018. Al-Mojeb merekomendasikan hukuman mati bagi lima tersangka yang dituduh memerintahkan dan melakukan pembunuhan kolumnis, Jamal Khashoggi. ( Foto: AP / DHA )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 5 Januari 2019 | 14:17 WIB

Jenewa- Kantor hak asasi manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mempertanyakan keadilan persidangan 11 terdakwa yang dimulai pada Kamis (3/1). Objektivitas sidang pengadilan Arab Saudi diragukan.

Kantor hak asasi manusia PBB menyatakan mereka tidak dapat menilai keadilan dari persidangan yang sedang berlangsung di Arab Saudi mengenai pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Sidang pengadilan itu dianggap "tidak cukup" adil.

Pada Jumat (4/1), Juru bicara Ravina Shamdasani mempertanyakan tentang laporan bahwa seorang jaksa Saudi telah meminta hukuman mati untuk lima tersangka yang terkait dengan pembunuhan 2 Oktober. Dia menegaskan kembali seruan kantor PBB untuk penyelidikan independen "dengan keterlibatan internasional".

Komentar dari pejabat PBB itu dikeluarkan sehari setelah pengadilan besar terhadap 11 tersangka yang didakwa atas pembunuhan Khashoggi digelar di ibu kota Saudi, Riyadh, pada Kamis (3/1).

Khashoggi, seorang kontributor Washington Post, dibunuh dalam apa yang disebut Riyadh sebagai operasi "jahat". Kasus ini menempatkan kerajaan Saudi ke dalam salah satu krisis diplomatik terburuknya dan mencoreng reputasi Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman.

Khashoggi yang berusia 59 tahun itu dicekik dan tubuhnya dipotong-potong oleh tim yang terdiri dari 15 orang Saudi. Menurut pejabat Turki, tim pembunuh itu dikirim ke Istanbul untuk pembunuhan itu.

Kantor hak asasi PBB selalu menentang hukuman mati. Laporan media Turki menunjukkan jenazah Khashoggi, yang belum pernah ditemukan. Ada dugaan mayat Khashoggi telah dilarutkan dalam asam.[Al Jazeera/U-5]



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE