Gadis Saudi Akhirnya Dapat Perlindungan PBB

Gadis Saudi Akhirnya Dapat Perlindungan PBB
Wanita Saudi Rahaf Mohammed al-Qunun (kedua dari kiri) dikawal oleh petugas imigrasi Thailand dan pejabat Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di bandara internasional Suvarnabhumi di Bangkok, Senin (7/1). ( Foto: AFP / Biro Imigrasi Thailand )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 8 Januari 2019 | 20:05 WIB

Bangkok-Seorang gadis berkewarganegaraan Arab Saudi yang ingin mencari suaka ke Australia, akhirnya diizinkan tinggal di Thailand setelah mengaku akan dibunuh jika kembali kepada keluarganya. Gadis berusia 18 tahun bernama Rahaf Mohammed al-Qunun itu sempat tertahan selama 48 jam di bandara internasional Bangkok, Senin (7/1), saat transit menuju ke Australia.

Otoritas Thailand menyatakan al-Qunun awalnya akan dideportasi atas permintaan pemerintah Saudi. Tapi setelah dia dan para pengacara hak asasi manusia (HAM) menyerukan kampanye di media sosial, imigrasi Thailand akhirnya mengizinkannya tinggal di bawah perlindungan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (UNHCR).

Al-Qunun mengaku kabur dari keluarganya ketika mereka pergi ke Kuwait. Dia beralasan mengalami pelecehan fisik dan psikologis sehingga nekat akan kabur ke Australia melalui Thailand.

“Thailand adalah negeri penuh senyuman. Kami tidak akan mengirimkan seseorang pulang untuk mati,” kata kepala imigrasi Thailand, Mayjen Surachate Hakparn.

“Kami akan menjaganya sebaik mungkin,” tambahnya.

Setelah pertemuan dengan al-Qunun dan para pejabat dari UNHCR, Senin sore, Surachate mengatakan Al- Qunun diizinkan meninggalkan bandara dengan perwakilan badan tersebut. Mereka akan memproses permintaan status pengungsinya selama 10 hari dan menemukan negara yang akan menerimanya.

Sehari sebelumnya al-Qunun mempublikasikan satu video pendek dari kamar hotel bandara yang dihalanginya sendiri, menyatakan dirinya tidak akan pergi sebelum bertemu para pejabat PBB. “Saya ingin suaka,” katanya dalam suara yang jelas dan tenang.

Setiap perempuan di Arab Saudi memiliki seorang “wali” laki-laki, biasanya ayah, suami, kakak laki-laki, atau paman. Setiap perempuan Saudi harus meminta izin dari walinya untuk melakukan berbagai hal, termasuk berpergian, mendapatkan paspor, menikah, atau bercerai.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE