Eks Menteri Israel Akui Jadi Mata-mata Iran

Eks Menteri Israel Akui Jadi Mata-mata Iran
Gonen Segev (tengah) dikawal menuju penjara di Yerusalem, Israel, 5 Juli 2018. ( Foto: VoA )
Heru Andriyanto / HA Kamis, 10 Januari 2019 | 03:39 WIB

Yerusalem - Seorang mantan menteri Israel bakal mendekam 11 tahun di penjara setelah akhirnya dia mengaku melakukan spionase untuk kepentingan musuh bebuyutan negara itu, Iran.

Menurut Kementerian Kehakiman Israel, Rabu (9/1), Gonen Segev mengakui tindakan spionase dan memberikan informasi kepada "musuh". Pengakuan itu memperingan hukumannya, yang akan diputuskan hakim bulan depan.

Segev menjabat sebagai menteri energi di era Perdana Menteri Yitzhak Rabin pada pertengahan 1990an. Setelah itu, dia pernah dipenjara karena mencoba menyelundupkan narkoba ke Israel.

Pada Mei 2018, dia diekstradisi dari Equatorial Guinea dan langsung ditangkap begitu tiba di Israel atas tuduhan menjadi agen badan intelijen Iran dan memberikan informasi tentang "pasar energi dan lokasi-lokasi keamanan di Israel".

Badan keamanan Israel, Shin Bet, mengatakan awalnya Segev bertemu dengan para operatornya dua kali di Iran, lalu bertemu dengan agen-agen Iran di banyak hotel dan apartemen di berbagai wilayah dunia.

Tuduhan ini sangat serius mengingat Israel dan Iran adalah dua musuh bebuyutan. Israel menganggap Iran sebagai ancaman terbesarnya, karena negara itu pernah menyerukan agar Israel dihancur-leburkan. Selain itu juga dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan anti-Israel seperti Hisbullah, dan pengembangan rudal jarak jauh Iran.

Israel adalah pengkritik utama terhadap kesepakatan nuklir Iran dan menyambut baik keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari kesepakatan itu.

Belum lama ini, militer Israel melancarkan sejumlah serangan udara atas pasukan Iran di Suriah.

Pada Agustus, pejabat intelijen Iran mengungkap di acara televisi pemerintah bahwa pihaknya berhasil merekrut mantan pejabat kabinet dari sebuah "negara musuh" tetapi tidak menyebutkan nama Israel atau Segev.

Pengacara Segev, Eli Zohar dan Moshe Mazor, mengatakan mereka dilarang membicarakan kasus ini secara terperinci, tetapi kesepakatan dengan penegak hukum membuat klien mereka lepas dari gugatan makar.

“Mr Segev memang melakukan kontak dengan orang-orang Iran, tetapi motif dia bukan untuk membantu musuh dalam peperangan," tulis mereka dalam sebuah pernyataan, Rabu (9/1).

Segev, mantan dokter yang izin operasinya telah dicabut, pernah ditangkap pada 2004 karena berusaha menyelundupkan 32.000 tablet Ecstasy dari Belanda ke Israel dengan menggunakan paspor diplomatik yang telah kedaluarsa, dan kemudian dipenjara.

Dia bebas dari penjara pada 2007 dan kemudian tinggal di Afrika.



Sumber: AP