Koalisi: Wilayah Kekalifahan ISIS Tinggal 1%

Koalisi: Wilayah Kekalifahan ISIS Tinggal 1%
Pasukan elite anti-terorisme Irak mengamankan wilayah pemukiman Hoz di kota dalam perang antara pasukan pemerintah melawan kelompok Islamic State (IS), 27 Desember 2015. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 8 Februari 2019 | 02:52 WIB

Beirut, Beritasatu.com - Wilayah kekalifahan kelompok Islamic State in Syria and Iraq (ISIS) telah merosot menjadi kurang dari 1% dari sebelumnya, menurut pernyataan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat, Kamis (7/2), seiring dengan persiapan untuk pukulan terakhir di wilayah timur Suriah.

Pada masa puncaknya, wilayah yang diklaim ISIS pada Juni 2014 mencakup banyak area di Suriah dan Irak setara kurang lebih luas wilayah Inggris.

Mayjen Christopher Ghika, wakil komandan koalisi, menyebutkan ukuran kantong wilayah ISIS "sekarang kurang dari 1% dari kekalifahan awal."

Pasukan koalisi telah melatih dan memberikan dukungan serangan udara bagi Tentara Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF), yang mulai melancarkan serangan di wilayah pertahanan terakhir kelompok militan jihadis itu pada September 2018.

Beberapa bulan kemudian, mereka mampu merebut Hajin, kota terakhir yang dikuasai ISIS, dan memaksa para militan bergerilya di lembah Sungai Euprat.

Ribuan tersangka pejuang ISIS berupaya membaur dengan warga sipil yang mengungsi dari area itu, termasuk sejumlah besar warga asing.

"Mereka berusaha meloloskan diri dengan cara berbaur dengan kaum perempuan dan anak-anak tak bersalah yang sedang melarikan diri dari pertempuran," kata Ghika dalam pernyataannya.

SDF telah mendirikan pusat-pusat screening untuk mendeteksi musuh di antara para pengungsi. Pasukan AS, Inggris, Prancis, dan negara-negara lain juga aktif mengejar para pejuang ISIS yang bergabung dengan warga sipil untuk menghindari pertempuran.

Setelah berpekan-pekan terus merangsek maju, SDF akhirnya menghentikan pertempuran darat di wilayah kecil yang tersisa pekan lalu, karena para jihadis menggunakan warga sipil sebagai tameng.

Kelompok Kurdi, yang secara de facto memiliki otonomi di wilayah utara Suriah, juga terlibat dalam perundingan belakang layar membahas nasib kawasan tersebut.

Meskipun ISIS tak lama lagi bakal kehilangan basis posisi di mana pun di Irak dan Suriah, tetapi para pejuangnya yang masih hidup telah memulai perang gerilya dan tetap berbahaya.

Mereka berubah menjadi "sel-sel tidur" di sepanjang perbatasan Irak atau di kota-kota yang dulu mereka kuasai, dan secara sporadis melakukan serangan hit-and-run.

Dalam operasi melawan sel tidur ini, Kamis, SDF menangkap 63 tersangka militan di kota Raqa, Suriah. Sedikitnya 48 tersangka pejuang ISIS ada di antara mereka, menurut keterangan LSM Observatory for Human Rights.

LSM tersebut mengatakan terduga sel tidur ISIS telah membunuh sedikitnya 50 warga sipil dan 135 pejuang SDF di wilayah yang dikuasai Kurdi sejak Agustus 2018.

Lebih dari 37.000 orang -- sebagian besar istri dan anak para jihadis -- telah kabur dari teritori ISIS sejak SDF yang didukung pasukan koalisi mulai meningkatkan serangannya pada Desember lalu. Angka itu termasuk sekitar 3.200 terduga jihadis.

Otoritas Kurdi mengatakan mereka menahan ratusan pria warga asing yang menjadi anggota ISIS.

Juru bicara SDF Mustefa Bali mengatakan kelompoknya menangkap para pejuang ISIS setiap hari. Mereka biasanya bersedia dipulangkan ke negara masing-masing.

Namun, negara-negara asal para jihadis itu acap enggan menerima mereka kembali.



CLOSE