Iran Ancam Perkaya Cadangan Uranium

Iran Ancam Perkaya Cadangan Uranium
Seorang karyawan bekerja di pabrik Iran Alloy Steel Company, di Kota Yazd, bulan lalu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan sanksi baru terhadap industri logam Iran, pada Kamis (8/5/2019) ( Foto: AFP / Atta Kenare )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 9 Mei 2019 | 13:22 WIB

Teheran, Beritasatu.com - Iran mengancam akan memperkaya cadangan uranium (salah satu bahan utama nuklir) dalam 60 hari, jika Eropa gagal menegosiasikan persyaratan baru perjanjian nuklir 2015 dan melindungi Iran dari sanksi Amerika Serikat (AS).

Dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi, Rabu (8/5/2019), Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan bahwa persyaratan baru dalam perjanjian nuklir Iran akan membuat negara ini lebih dekat ke Barat (negara-negara Eropa) yang masih sepakat tetap dalam perjanjian tersebut.

Menurut Hassan Rouhani, perjanjian nuklir yang telah ditinggalkan AS tahun lalu, perlu diperbarui sesuai dengan kepentingan Iran dan negara-negara anggota lainnya, mengingat Iran yang paling merasakan dampak dari sanksi yang dijatuhkan AS.

Perjanjian Nuklir Iran ditandatangani pada 2015 oleh AS, Rusia, Tiongkok, Inggris, Jerman, Prancis dan Iran. Perjanjian itu mensyaratkan Iran menghengtikan produksi senjata nuklir, dan negara-negara lainnya akan memberikan bantuan ekonomi.

Namun pada Mei 2018, AS memutuskan mundur dari perjanjian itu karena dinilai menguntungkan Iran dan tidak menjamin penghentian program nuklir negara itu.

"Kami merasa bahwa kesepakatan nuklir perlu dioperasi, dan pil penawar rasa sakit tahun lalu tidak efektif. Operasi ini untuk menyelamatkan kesepakatan, bukan menghancurkannya," kata Hassan Rouhani, di Teheran, Iran, Rabu (8/5/2019).

Sebagai langkah awal dari keputusan untuk memperkaya cadangan uranium, Iran memutuskan untuk menghentikan penjualan uranium dan air berat. Sebelumnya, hal ini menjadi bagian dari persyaratan perjanjian nuklir Iran tang ditandatangani pada 2015.

AS pekan lalu mengakhiri kesepakatan yang memungkinkan Iran untuk menukar uranium yang diperkaya dengan uranium yellowcake yang tidak dimurnikan dengan Rusia, dan untuk menjual airnya yang berat, yang digunakan sebagai pendingin dalam reaktor nuklir, ke Oman.

Dalam 60 hari, jika tidak ada kesepakatan baru, Iran akan meningkatkan pengayaan uraniumnya di luar 3,67% yang diizinkan, yang dapat memicu pembangkit listrik tenaga nuklir komersial.

Hassan Rouhani tidak mengatakan seberapa jauh Iran mau memperkaya cadangan uranium, meskipun kepala program nuklirnya kembali menegaskan Iran bisa mencapai pengayaan 20% dalam waktu empat hari.

Setelah memperkaya uranium menjadi sekitar 20%, para ilmuwan mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ambang batas 90% untuk uranium tingkat senjata berkurang setengahnya. Iran telah lama mempertahankan program nuklirnya untuk tujuan damai.

Namun, layanan televisi berbahasa Inggris stasiun televisi Iran Press TV, mengutip sumber yang dekat dengan kepresidenan, mengatakan negara itu akan menarik diri dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir jika Eropa tidak berusaha melindungi Iran dari sanksi AS.

Hassan Rouhani juga mengatakan bahwa jika 60 hari berlalu tanpa tindakan, Iran akan menghentikan upaya Tiongkok untuk mendesain ulang reaktor nuklir air berat. Reaktor semacam itu menghasilkan plutonium yang dapat digunakan dalam senjata nuklir.

Sehari sebelumnya, Iran telah memberitahukan kepada Inggris, Rusia, Cina, Uni Eropa, Prancis dan Jerman tentang keputusannya.

"Jika kelima negara bergabung dalam negosiasi dan membantu Iran untuk mencapai manfaatnya di bidang minyak dan perbankan, Iran akan kembali ke komitmennya sesuai dengan kesepakatan nuklir," ujar Hassan Rouhani.



Sumber: Suara Pembaruan