PM Pakistan Hina Raja Saudi, Pengguna Media Sosial Bereaksi

PM Pakistan Hina Raja Saudi, Pengguna Media Sosial Bereaksi
PM Pakistan Imran Khan (kiri) bertemu dengan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al Saud di Mekkah, beberapa waktu lalu. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 4 Juni 2019 | 10:26 WIB

Riyadh, Beritasatu.com- Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan dihujani kritikan di media sosial karena diduga melakukan tindakan penghinaan terhadap Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud selama pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Mekkah. Kejadian itu juga dilaporkan memicu protes dari pemerintah Saudi dan menyebut perlakuan Khan sebagai pelanggaran protokol seremonial.

Dalam rekaman video, Khan terlihat berjalan di atas karpet merah untuk bertemu Raja Salman. Setelah bersalaman singkat dan menyapa, Khan langsung berbicara dengan penerjemah raja dibandingkan raja itu sendiri.

Khan lalu terekam video berperilaku menunjuk dan menggerakkan tangan saat berbicara dengan penerjemah sebelum dia berjalan pergi, tanpa menunggu untuk mendengar tanggapan dari Salman.

Para pengguna media media sosial memakai Twitter untuk mengekspresikan kemarahan mereka atas pertemuan “tidak sopan” dan “menghina”, serta menyerukan agar Pakistan memprioritaskan keterampilan diplomasi saat memilih pemimpin selanjutnya.

Beberapa klaim di Twitter menyebutkan pertemuan bilateral antara kedua pemimpin dibatalkan sebagai buntut dari ketidaksenangan monarki atas aksi Khan. Tapi, klaim itu tampaknya tidak berdasar Khan selanjutnya bertemu dengan raja dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman Al Saud sebelum menyampaikan pidato dalam pertemuan itu.

Khan lewat pidatonya, mengkritik sejumlah negara Barat atas sikap Islamofobia dan mendesak mereka untuk membedakan antara Muslim moderat dan Muslim ekstremis.

Pada Februari lalu, Putra Mahkota Mohammed mengunjungi Pakistan dimana dia menerima sambutan mewah. Kunjungan Mohammed menghasilkan penandatanganan beberapa kesepakatan di berbagai sektor senilai US$ 20 miliar (Rp 285 triliun) untuk Pakistan.



Sumber: Suara Pembaruan