Dalam 3 Bulan, 400.000 Orang Mengungsi di Suriah

Dalam 3 Bulan, 400.000 Orang Mengungsi di Suriah
Seorang pria berjalan melewati mobil-mobil yang rusak setelah serangan udara yang dilaporkan di satu pasar di kota Saraqeb di Provinsi barat laut Idlib, Suriah, Jumat (26/7/2019). ( Foto: AFP / Omar HAJ KADOUR )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 27 Juli 2019 | 19:30 WIB

Saraqib, Beritasatu.com- Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan pada Jumat (26/7), lebih dari 400.000 orang telah mengungsi di Suriah barat laut selama tiga bulan terakhir. Lebih dari 100 tewas dalam serangan udara Suriah dalam 10 hari terakhir.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengutuk "ketidakpedulian internasional" dalam menghadapi meningkatnya jumlah korban tewas dalam serangan udara pemerintah di sekolah-sekolah, rumah sakit, pasar, bahkan toko roti di kawasan itu.

“Ini adalah objek sipil, dan tampaknya sangat tidak mungkin, mengingat pola serangan seperti itu yang terus-menerus, dan semua warga terkena kecelakaan. Serangan yang disengaja terhadap warga sipil adalah kejahatan perang, dan mereka yang telah memerintahkan atau melaksanakannya bertanggung jawab secara pidana atas tindakan mereka,” katanya.

Didukung oleh sekutu utama yakni Rusia, pemerintah Suriah memulai ofensif terhadap kantong pemberontak di barat laut Suriah - daerah terakhir dari oposisi aktif Presiden Bashar al-Assad - pada akhir April, dengan menyatakan pihaknya hanya merespons pelanggaran gencatan senjata.

Wilayah Idlib yang didominasi jihadis seharusnya dilindungi oleh perjanjian gencatan senjata internasional yang telah berumur beberapa bulan. Tetapi wilayah ini justru digempur terus oleh pemerintah dan sekutunya Rusia sejak akhir April.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, lonjakan kekerasan telah menewaskan lebih dari 740 warga sipil. Kelompok-kelompok bantuan menggambarkan episode berdarah terakhir perang saudara delapan tahun Suriah ini sebagai "mimpi buruk".

“Lebih dari 400.000 orang telah melarikan diri dari kekerasan di daerah itu sejak akhir April,” kata David Swanson dari kantor koordinasi kemanusiaan PBB OCHA.



Sumber: Suara Pembaruan