Otak Serangan 9/11 Akan Bersaksi Melawan Saudi

Otak Serangan 9/11 Akan Bersaksi Melawan Saudi
Menara kembar World Trade Center di belakang Gedung Empire State New York, nampak terbakar pada 11 September 2001. Peristiwa itu dikenang sebagai "tragedi 9/11". ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 1 Agustus 2019 | 11:31 WIB

Washington, Beritasatu.com- Terdakwa dalang dari serangan 11 September 2001 (9/11), Khalid Sheikh Mohammed, telah mengindikasikan keinginan untuk bekerja sama dalam gugatan yang diajukan oleh para korban yang mencari ganti rugi dari Arab Saudi. Namun, dia mengajukan syarat agar Amerika Serikat (AS) tidak menuntut hukuman mati terhadapnya.

Tawaran Mohammed diungkapkan pada Jumat (26/7) malam lewat satu surat yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di Manhattan oleh para pengacara mewakili para individu dan bisnis yang mencari miliaran dolar sebagai ganti rugi.

Pemerintah Saudi sejak lama membantah keterlibatannya dalam serangan tahun 2001 saat pesawat yang dibajak sengaja menabrak ke Gedung World Trade Center (WTC) New York dan Gedung Pentagon di luar Washington DC, lalu jatuh di lapangan Pennsylvania. Peristiwa itu menewaskan hampir 3.000 orang.

Sementara itu, pengacara untuk Pemerintah Saudi yang berbasis di Washington, Michael Kellogg, menolak berkomentar.

Menurut surat tersebut, para pengacara penggugat telah melakukan kontak dengan pengacara untuk lima saksi di penjara federal terkait kesediaan mereka untuk bersaksi.

Pengacara menyatakan ketiganya, termasuk Mohammed, ditempatkan di Teluk Guantanamo, yaitu kamp tahanan di Kuba, dimana mereka menghadapi dakwaan modal, sedangkan dua lainnya berada di penjara maksimum “Supermax” di Florence, Colorado.

Berdasarkan surat itu, Mohammed tidak akan setuju pada saat ini untuk bersaksi, tapi bisa berubah. Ditambahkan, Mohammed bersama tahanan Guantanamo lainnya telah menghadiri pra-sidang untuk mendengar kasus mereka.

“Pengacara menyatakan pendorong utama dari keputusan ini adalah sifat dasar dari penuntutan dan bahwa dengan tidak adanya hukuman mati potensial, kerja sama yang lebih luas akan dimungkinkan,” sebut pernyataan surat tersebut



Sumber: Suara Pembaruan