Pemberontak Houthi Klaim Serangan Kilang Saudi

Pemberontak Houthi Klaim Serangan Kilang Saudi
Kilang minyak milik Arab Saudi terbakar setelah serangan pesawat nirawak pemberontak Houthi, Sabtu (14/9/2019) ( Foto: Skynews / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 14 September 2019 | 20:09 WIB

Sanaa, Beritasatu.com- Pemberontak Houthi Yaman telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak terhadap dua kilang minyak Saudi Aramco di Arab Saudi, Sabtu (14/9).

Saluran TV Yaman al-Masirah menyatakan pemberontak Houthi telah mengerahkan 10 pesawat nirawak ke situs-situs di Abqaiq dan Khurais.

Pemberontak berjanji untuk memperluas jangkauan serangannya terhadap Arab Saudi, yang memimpin koalisi yang memerangi mereka di Yaman.

"Serangan-serangan yang dilakukan pada Sabtu pagi, menyebabkan kebakaran besar yang kemudian padam oleh otoritas Saudi," kata seorang juru bicara kementerian dalam negeri Saudi.

Abqaiq, yang terletak 60 km sebelah barat daya Dhahran di Provinsi Timur Arab Saudi berisi pabrik pemrosesan minyak terbesar di dunia. Sementara Khurais terletak 190 km lebih jauh barat daya, dan merupakan ladang minyak terbesar kedua di Saudi.

Ketegangan memuncak di kawasan itu setelah serangan pada Juni dan Juli terhadap tanker minyak di perairan Teluk yang oleh Riyadh dan Washington menyalahkan Iran. Sebaliknya Teheran membantah tuduhan itu.

Pemberontak Houthi yang berpihak di Iran juga melancarkan serangan di perbatasan, memukul ladang minyak Shaybah dengan pesawat nirawak bulan lalu dan dua stasiun pompa minyak pada Mei. Kedua serangan itu menyebabkan kebakaran tetapi tidak mengganggu produksi.

Perusahaan minyak Saudi, Aramco sedang bersiap untuk menjual saham perdana pada awal tahun ini sebagai bagian dari upaya untuk mendiversifikasi ekonomi pengekspor minyak utama dunia yang jauh dari minyak mentah.

Aramco telah mempekerjakan sembilan bank sebagai koordinator global bersama untuk memimpin IPO dan telah bertemu para bankir minggu ini di Dubai karena mempercepat rencana pencatatan.



Sumber: Suara Pembaruan