Untuk Jemaah Haji dan Umrah, Saudi Rekomendasikan Layanan Biometrik Resmi di Negara Asal

Untuk Jemaah Haji dan Umrah, Saudi Rekomendasikan Layanan Biometrik Resmi di Negara Asal
Kakbah di Mekah. ( Foto: AFP )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 27 September 2019 | 09:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan surat edaran perekaman biometrik secara di dalam negeri setelah memperoleh visa haji atau umrah. Ratusan calon jemaah umrah pernah ditolak masuk dan dikembalikan ke negera asal karena tidak mengikuti prosedur visa yang benar.

Pada surat edaran Jumat (27/9), Kementerian Saudi menyatakan bahwa calon jemaah haji dan umrah harus melakukan perekaman biometrik di negara-negara dengan pusat pelayanan Biometrik yang resmi untuk Haji dan Umrah, termasuk Indonesia.

Melakukan proses biometrik sebelum tiba di pelabuhan masuk Kerajaan Saudi sangat dianjurkan guna menghemat waktu tunggu di bandara dan memfasilitasi jalan masuk yang lancar ke Arab Saudi.

Baru-baru ini, Kerajaan Arab Saudi juga melaporkan bahwa ratusan jemaah ditolak masuk. Mereka dikirim kembali ke negara masing-masing ketika sampai di bandara Saudi karena tidak mengikuti prosedur visa yang benar.

“Untuk menghindari kejadian yang tidak menguntungkan tersebut, calon amaah haji dan umrah harus mengajukan kategori visa yang sesuai dengan tujuannya melalui melalui agen perjalanan resmi yang terdaftar di Komite Haji dan Umrah. Sebagai catatan penting, bahwa e-visa turis yang baru diperkenalkan tidak dapat digunakan untuk memasuki Kerajaan Arab Saudi untuk melakukan haji atau umrah," bunyi Kementerian Saudi.

Surat edaran Kementerian Haji dan Umrah Saudi menyatakan e-visa tersebut hanya memungkinkan turis untuk menghadiri konser dan acara olahraga yang berlangsung di Kerajaan Saudi. Tanpa visa dan dokumen yang sesuai, peziarah akan mengalami hambatan dan atau di deportasi ke negara asal.

Menurut Kementerian Saudi, ada tiga alasan utama untuk melakukan proses biometrik sebelum berangkat ibadah haji atau umrah. Pertama, biometrik adalah prosedur wajib sebelum memasuki Arab Saudi. Jemaah mungkin mengalami risiko dideportasi jika tidak mengikuti prosedur pengajuan visa yang tepat. Setelah seluruh proses pengajuan visa selesai termasuk proses perekaman biometrik, jemaah dapat melakukan perjalanan dengan tenang dan fokus pada perjalanan suci untuk beribadah.

Alasan kedua, proses perekaman biometrik hanya membutuhkan waktu 10 menit di pusat layanan visa apabila sudah membuat janji temu daring sebelumnya. Sementara proses biometrik di bandara mungkin lebih lama tergantung pada jumlah jemaah sehingga ada kemungkinan antrian yang panjang. Setelah proses perekaman biometrik selesai di negara asal, jemaah hanya akan diminta untuk melewati bea cukai dan mendapatkan cap/stempel paspor di imigrasi setelah memasuki Arab Saudi.

Alasan ketiga, perekaman biometrik sangat aman dan efisien. Perekaman Biometrik di negara asal jemaah hanya dapat dilakukan di pusat layanan visa resmi yang di sahkan oleh Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, dengan proses yang sangat aman dan cepat. Perekaman meliputi pengambilan gambar wajah dengan kamera digital serta pemindaian 10 sidik jari dengan pemindai jari digital.

Proses perekaman biometrik selama ini dilakukan pada lokasi asal jemaah sebelum keberangkatan atau di Bandara Internasional King Abdulaziz & Bandara Internasional Prince Mohammed Bin Abdulaziz.



Sumber: Suara Pembaruan