Raja Saudi Tunjuk Dua Menteri Baru

Raja Saudi Tunjuk Dua Menteri Baru
Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 24 Oktober 2019 | 15:16 WIB

Riyadh, Beritasatu.com - Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud (Raja Salman), menunjuk dua menteri baru, melalui dekrit yang dikeluarkan pada Rabu (23/10/2019). Dua menteri baru yang ditunjuk Raja Salman adalah Menteri Luar Negeri (Menlu) dan Menteri Transportasi.

Seperti diberitakan kantor berita pemerintah setempat, Saudi Press Agency (SPA), Raja Salman menunjuk Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud (Pangeran Faisal), sebagai menlu baru menggantikan Ibrahim al-Assaf yang baru 10 bulan menjabat menlu.

Sedangkan menteri transportasi baru yang ditunjuk Raja Salman adalah Saleh bin Nasser bin al-Ali al-Jasser menggantikan Nabil bin Mohammed al-Amoudi yang telah ditunjuk menjadi dewan perusahaan minyak pemerintah Saudi, Aramco, pada September 2019. 

Dekrit raja tidak menyebutkan alasan penggantian tersebut, tapi sejumlah pejabat menduga hal itu terkait dengan dua kasus yang dihadapi Saudi, yakni pembunuhan Jamal Khashoggi dan serangan terhadap kilang minyak Aramco.

Penunjukkan Pangeran Faisal sebagai Menlu secara luas dilihat sebagai upaya kerajaan untuk meningkatkan citranya setelah kasus Jamal  Khashoggi dan pengawasan lebih besar untuk perang panjang di Yaman.

Sebelum ditunjuk sebagai menlu, Pangeran Faisal bertugas selama beberapa bulan terakhir sebagai duta besar Saudi untuk Jerman. Dia juga pernah menjadi penasihat politik di Kedutaan Besar Saudi di Washington.

Namun sebelum berkarir di dunia pemerintahan, Pangeran Faisal dikenal sebagai pebisnis di industri pertahanan, dimana dia sempat menjadi kepala dari perusahaan bersama (joint venture) dengan produsen pesawat, Boeing.

Sebagai pengganti Ibrahim al-Assaf, Pangeran Faisal mewarisi tugas untuk menangani dampak dari pembunuhan Jamal Khashoggi yang dinilai sebagai upaya otoritas tersebut untuk membungkam para pengkritik.

Dekrit raja tidak menyebut alasan pergantian Ibrahim al-Assaf yang baru menjabat sebagai Menlu selama 10 bulan. Namun dia sempat tertangkap aparat dalam satu operasi anti-korupsi. Ibrahim al-Assaf dilantik menjadi menlu pada Desember 2018 untuk menggantikan Adel al-Jubeir di tengah kisruh pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi yang kerap mengkritik Saudi.

Arab Saudi, sekutu dari Amerika Serikat (AS), menghadapi kecaman keras dari negara-negara Barat sepanjang tahun lalu karena rekam jejak hak asasi manusia (HAM) termasuk pembunuhan Jamal Khashoggi dan keterlibatan negara itu dalam perang di Yaman.

Pembunuhan Jamal Khashoggi di gedung Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul dianggap sebagai krisis diplomatik terbesar untuk Riyadh, setelah tragedi 11 September 2011 atau dikenal dengan "tragedi 9/11" yang melibatkan pelaku dari sejumlah pejabat Saudi.

Selain itu, Saudi juga sedang menghadapi ketegangan dengan saingannya, Iran, setelah serangan ke beberapa fasilitas minyak Saudi bulan lalu. Pemberontak Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, para pejabat AS menyalahkan Iran, menyebut bahwa pemberontak tidak memiliki jangkauan atau kecanggihan untuk menargetkan fasilitas minyak Saudi.

 



Sumber: Suara Pembaruan