Peringatan 150 Tahun Terusan Suez Digelar Rahasia di Mesir

Peringatan 150 Tahun Terusan Suez Digelar Rahasia di Mesir
Kapal tanker minyak berbendera Malaysia Bunga Kasturi berlayar melalui Terusan Suez, Mesir, pada peringatan 150 tahun peresmian kanal tersebut, Minggu (17/11/2019). ( Foto: AFP / Khaled Desouki )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 18 November 2019 | 13:47 WIB

Ismalia, Beritasatu.com - Sejak dibuka pada 150 tahun lalu, Terusan Suez telah menjadi salah satu jalur perairan terpenting di dunia. Namun, peringatan 150 tahun Terusan Suez dilakukan secara rahasia di Mesir dan jauh dari kemegahan seperti ketika pertama kali diresmikan.

Kepala Otoritas Terusan Suez, Osama Rabie, mengatakan 1,3 juta kapal membawa kargo seberat 28,6 miliar ton dan senilai 135,9 miliar pound Mesir (Rp 118,7 triliun) melewati kanal itu sejak peresmiannya 150 tahun lalu.

Peringatan 150 tahun Terusan Suez digelar oleh otoritas kanal tersebut pada Minggu (17/11/2019), dengan dihadiri pemimpin otoritas Rabie, Duta Besar Prancis untuk Mesir Stephane Romatet, dan para pejabat senior, dan diplomat. Kapal-kapal yang menyeberangi kanal itu selama upacara memperlihatkan kemeriahan acara itu.

Kanal buatan manusia itu digali antara tahun 1859 dan 1869 dalam suatu proyek ambisius untuk menghubungkan Mediterania ke Laut Merah, serta memotong waktu pelayaran untuk perdagangan internasional yang saat itu semakin bertumbuh dari Eropa ke Asia. Terusan itu memungkinkan jalur transportasi air dari Eropa ke Asia, tanpa harus mengelilingi Afrika.

"Terusan Suez bukan hak prerogatif suatu bangsa”, demikian pernyataan Ferdinand de Lesseps, diplomat Prancis yang menjadi otak dari pembuatan kanal tersebut, dalam pidatonya saat peresmian Terusan Suez, pada 1864.

Ferdinand de Lesseps, mengungkapkan idenya tersebut mengambil “mimpi” dari Firaun yang mengeruk saluran serupa 4.000 tahun sebelumnya. “Kelahiran dan kepemilikannya adalah aspirasi umat manusia,” ujar Ferdinand de Lesseps. 

Terusan Suez diresmikan pada 17 November 1869 dan sejak saat itu telah membentuk sejarah Mesir serta menjadi jalur kehidupan bagi perekonomian dunia. Kanal tersebut menjadi rute pengiriman terpendek yang menghubungkan laut-laut Mediterania dan Merah, Asia, dan Eropa.

Sejak didirikan sampai hari ini, terusan itu menjadi gerbang utama bagi pergerakan perdagangan global dan tujuan pengiriman utama karena posisi geografisnya yang unik. Kanal itu membentang dari kota pelabuhan Mesir di Saeed di Laut Mediterania ke Pelabuhan Suez di Laut Merah.

Jutaan warga Mesir, menggunakan unta dan keledai sebagai binatang buas, untuk dipekerjakan dalam pembangunan selama satu dekade. Puluhan ribu tewas dalam proses itu.

Pelayaran pertama menyusuri kanal sepanjang 164 kilometer pada 17 November 1869 memungkinkan rute lebih cepat dari dan ke Asia, serta menghindari situasi tantangan yang berbahaya di ujung Afrika selatan. Tapi sejarah perairan itu juga diikuti pasang surut dan arus dari wilayah Timur Tengah.

Momentum itu tiba pada Juli 1965 saat mantan presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, sebagai pembela kuat dari persatuan Arab, menentang kepentingan Inggris dan Prancis dan nasionalisasi Perusahaan Terusan Suez yang mengelola jalur air.

Keputusan itu, yang dianggap meningkatkan popularitas Nasser di dalam negeri, telah memicu krisis internasional. Prancis dan Inggris, dua negara yang mengendalikan perusahaan saat itu, serta Israel telah menyerang Mesir sekitar tiga bulan kemudian. Terusan itu juga berfungsi sebagai garis terdepan selama Perang Arab-Israel pada 1967-1973.



Sumber: Suara Pembaruan