Pemimpin Tertinggi Iran Dukung Kenaikan BBM

Pemimpin Tertinggi Iran Dukung Kenaikan BBM
Warga Iran, Senin (18/11/2019), memeriksa kerangka bus yang hangus akibat dibakar pengunjuk rasa dalam aksi demonstrasi menentang kenaikan harga bahan bakar minyak, di Kota Isfahan, pada 17 November 2019. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 18 November 2019 | 14:06 WIB

Teheran, Beritasatu.com - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mendukung keputusan pemerintah
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai 50% yang telah memicu aksi protes di Kota Terehan dan kota-kota lainnya.

Dalam pidato pada Minggu (17/11/2019), Khamenei mengecam aksi demonstrasi yang merusak, dan menyebut para demonstran sebagai “preman” yang telah didorong dalam kekerasan oleh kontrarevolusioner dan musuh asing Iran.

“Beberapa orang telah kehilangan nyawanya dan beberapa tempat hancur. Membakar bank bukanlah tindakan yang dilakukan oleh rakyat. Ini yang dilakukan preman,” kata Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut Ayatollah Ali Khamenei, aksi demonstrasi berhari-hari dengan membakar properti publik menjadi sinyal untuk kemungkinan pemerintah mengambil tindakan tegas kepada demonstran.

Pemerintah telah mematikan akses internet di negara berpenduduk 80 juta itu untuk meredam aksi demonstrasi yang dilaporkan sudah berlangsung di 100 kota.

Gambar-gambar yang dipublikasikan oleh media pemerintah atau semi-pemerintah memperlihatkan skala kerusakan akibat demonstrasi, seperti pembakaran pom-pom bensin dan bank, kendaraan yang terbakar, dan jalanan dipenuhi puing-puing.

Sejak kenaikan harga bensin, demonstran telah memarkir mobil-mobil mereka di sepanjang jalan utama dan bergabung dalam aksi protes di ibu kota, Teherean, dan kota-kota lainnya. Beberapa demonstrasi berubah menjadi kekerasan saat demonstran melakukan aksi pembakaran setelah terdengar suara tembakan yang diduga dilakukan polisi.

Dalam bentrokan dengan polisi pada Sabtu (16/11/2019) malam setidaknya satu orang dilaporkan tewas. Aksi protes itu telah memberikan tekanan baru kepada pemerintah Iran yang sedang berjuang untuk mengatasi sanksi-sanksi dari Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan kekuatan-kekuatan dunia lain.

Demosntrasi menentang kenaikan BBM awalnya berlangsung damai. Namun demonstrasi itu berubah ricuh setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran yang kemudian melakukan aksi pembakaran terhadap bus angkutan umum dan beberapa kendaraan pribadi.

 



Sumber: Suara Pembaruan