Demonstrasi Tolak BBM Berisiko Bagi Presiden Iran

Demonstrasi Tolak BBM Berisiko Bagi Presiden Iran
Presiden Hassan Rouhani menyampaikan pidato kepada kerumunan di pusat kota Yazd, Minggu (10/11/2019). Iran telah menemukan ladang minyak baru yang berisi 53 miliar barel minyak mentah. ( Foto: AFP / Kepresidenan Iran )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 18 November 2019 | 14:56 WIB

Teheran, Beritasatu.com - Sejumlah pengamat menilai aksi demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),  menjadi ujian berat dan berisiko bagi Presiden Iran, Hassan Rouhani. 

Iran akan melangsukan pemilihan parlemen pada Februari 2020. Krisis ekonomi yang telah menyebabkan minimnya lapangan pekerjaan dan runtuhnya mata uang nasional, membuat Hassan Rouhani kehilangan dukungan politik.

Hal itu semakin diperparah dengan keputusan Hassan Rouhani untuk menaikkan harga BBM pada Jumat (15/11/2019). Hassan Rouhani Hassan mengumumkan pemerintaha memutuskan untuk memotong subsidi BBN untuk mendanai masyarakat miskin Iran.

Harga bensin di Iran masih tetap menjadi paling murah di dunia, dengan harga baru naik menjadi minimal 15.000 rial per liter atau meningkat 50 persen dari sebelumnya. Jika dikonversi ke rupiah hampir Rp 5.000 per liter.

Tapi di negara dimana banyak penduduknya menjadi supir taksi informal, harga bensin yang murah dianggap sebagai “hak lahir”. Iran adalah negara dengan cadangan minyak mentah terbesar keempat di dunia.

Meskipun sudah diperkirakan sejak berbulan-bulan sebelumnya, keputusan itu tetap mengejutkan banyak orang dan memicu aksi demonstrasi sepanjang akhir pekan lalu.

Kekerasan terjadi pada Jumat malam di Sirjan, kota yang terletak 800 kilometer sebelah tenggara Teheran. Kantor berita Iran, IRNA, menyatakan demonstran berusaha membakar depot minyak, tapi mereka dihentikan oleh polisi. Para demonstran juga memaki Hassan Rouhani dengan meneriakkan, “Rohani, memalukan! Pergi tinggalkan negara ini!”.

Menteri Dalam Negeri di Sirjan, Mohammad Mahmoudabadi, menyatakan polisi dan demonstran saling menembak sehingga melukai sejumlah orang.

Menurut Mohammad Mahmoudabadi, banyak demonstran menggelar aksi secara damai, tapi orang-orang bertopeng dengan senjata dan pisau masuk ke kerumunan demonstrasi. Akibat peristiwa itu, dilaporkan seorang tewas.

“Mereka memaksa masuk ke depot minyak dan menimbulkan krisis,” kata Mohammad Mahmoudabadi.



Sumber: Suara Pembaruan