Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh

Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Reruntuhan pesawat Ukrainian International Airlines berjenis Boeing 737-800, yang jatuh tak lama setelah lepas landas dari bandara Teheran Imam Khomeini, Rabu 8 Januari 2020. ( Foto: Twitter )
/ YUD Kamis, 9 Januari 2020 | 17:45 WIB

Dubai, Beritasatu.com - Pesawat Ukraina terbakar sesaat sebelum jatuh di barat daya Teheran dan menewaskan 176 penumpangnya, demikian menurut laporan awal dari penyelidik Iran.

Pesawat Ukrainian International Airlines berjenis Boeing 737-800, yang dalam penerbangan ke Kiev dan membawa sebagian besar warga Iran dan Kanada, jatuh tak lama setelah lepas landas dari bandara Teheran Imam Khomeini, Rabu (8/1/2020).

Laporan oleh organisasi penerbangan sipil Iran yang disusun berdasarkan keterangan para saksi di darat dan dari sebuah pesawat yang terbang di ketinggian yang sama, mengatakan pesawat itu terbakar saat masih tinggi di udara.

Pesawat berusia tiga tahun, yang memiliki jadwal perawatan terakhir pada Senin (6/1/2020), mengalami masalah teknis segera setelah lepas landas dan mulai menuju ke bandara terdekat sebelum jatuh, kata laporan itu.

Masalah teknis tidak disebutkan dalam laporan itu, yang juga mengatakan bahwa tidak ada komunikasi radio dari pilot dan bahwa pesawat menghilang dari radar pada ketinggian 8.000 kaki (2.440 meter).

Sejauh ini tidak jelas apakah ada masalah teknis yang bisa terkait dengan kesalahan mekanis atau bagian yang rusak.

Bencana tersebut menimbulkan sorotan baru pada Boeing, yang menghadapi krisis keselamatan pada tipe 737 yang berbeda, meskipun pesawat yang jatuh di Iran tidak memiliki fitur yang diduga menyebabkan jatuhnya 737 MAX yang telah dilarang terbang.

Laporan Iran menyebut kecelakaan itu sebagai "kecelakaan".

Investigasi terhadap kecelakaan pesawat terbang sangat kompleks, sehingga membutuhkan pengambil kebijakan, pakar, dan perusahaan di beberapa yurisdiksi internasional untuk bekerja bersama. Mengeluarkan laporan awal dalam waktu 24 jam jarang terjadi dan butuh waktu berbulan-bulan untuk sepenuhnya menentukan penyebabnya.

Sebuah sumber keamanan Kanada mengatakan kepada Reuters ada bukti salah satu mesin terlalu panas.

Kecelakaan yang terjadi beberapa jam setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap pasukan pimpinan AS di Irak, membuat beberapa orang berspekulasi bahwa pesawat itu mungkin terkena tembakan.

Penilaian awal badan-badan intelijen Barat adalah bahwa pesawat itu mengalami kerusakan teknis dan belum dijatuhkan oleh rudal, lima sumber keamanan---tiga orang Amerika, satu Eropa dan Kanada---yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Reuters.

Di Kiev, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan beberapa kemungkinan penyebab kecelakaan pesawat.

Dalam sebuah pernyataan televisi, Zelenskiy meminta orang untuk menahan diri dari spekulasi, teori konspirasi, dan evaluasi tergesa-gesa mengenai kecelakaan itu. Dia juga menetapkan Kamis sebagai hari berkabung nasional.

Dia mengatakan akan berbicara melalui telepon dengan Presiden Iran untuk meningkatkan kerja sama dalam mencari tahu alasan kecelakaan itu.

Negara-negara yang diakui sebagai peserta dalam penyelidikan harus mencalonkan siapa yang mereka ingin libatkan, kata laporan Iran, sambil mengatakan para ahli Ukraina akan ambil bagian.

Sebagai negara tempat pesawat dirancang dan dibangun, Amerika Serikat biasanya diizinkan untuk terakreditasi di bawah konvensi yang dikelola PBB tetapi tidak ada pihak yang mengatakan apakah penyelidik AS akan dikirim ke Iran.

Badan penerbangan Iran tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar untuk mengklarifikasi posisi mereka.

Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat dengan pembunuhan seorang jenderal Iran oleh AS pada 3 Januari lalu, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal terhadap sejumlah pangkalan militer AS di Irak.

Pesawat Ukraina itu lepas landas dari bandara Teheran pada pukul 6:12 pagi waktu setempat dan diberi izin untuk naik ke ketinggian 26.000 kaki, kata laporan itu. Pesawat itu jatuh enam menit kemudian di dekat kota Sabashahr.

Mayat dan bagian tubuh yang ditemukan dari lokasi kecelakaan telah dibawa ke kantor pemeriksaan mayat untuk diidentifikasi, kata laporan itu.

Puing-puing yang membara, termasuk sepatu dan pakaian, berserakan di sebuah lapangan tempat pesawat itu jatuh.

Pesawat itu ditumpangi 146 warga Iran, 10 warga Afghanistan, 11 warga Ukraina, lima warga Kanada, dan empat warga Swedia, kata laporan itu.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan mereka yang termasuk di dalamnya 82 orang Iran, 63 orang Kanada, dan 11 orang Ukraina.

Teheran-Toronto melalui rute Kiev adalah penerbangan yang populer bagi orang Kanada keturunan Iran yang ingin mengunjungi Iran tanpa adanya penerbangan langsung.



Sumber: Reuters, Antara