Iran Eksekusi Mati 24 Orang

Iran Eksekusi Mati 24 Orang
Presiden Iran Hassan Rouhani dan Imam Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, Iran, Jumat (17/1/2020). ( Foto: Antara )
/ DAS Kamis, 6 Februari 2020 | 09:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com  - Sedikitnya 24 orang dieksekusi mati di Iran sepanjang bulan Januari 2020. Demikian pernyataan Iran Human Right Monitor (HRM) sebagaimana diumumkan lewat laman organiasi pemantau hak asasi manusia di Iran itu. Di antara orang-orang yang dieksekusi itu, dua di antaranya adalah perempuan.

Menurut kantor berita semi-resmi Fars yang mengutip pihak berwenang pada Selasa (4/2/2020), otoritas Iran akan mengeksekusi sorang pria karena menjadi mata-mata Amerika  dan berusaha menyampaikan informasi tentang program nuklir Teheran.

Dalam kasus lain, menurut  juru bicara pengadilan, Gholamhossein Esmaili seperti dikutip Fars, dua orang yang bekerja untuk badan amal dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dengan tuduhan mata-mata dan lima tahun penjara karena bertindak melawan keamanan nasional dengan tuduhan yang sama.

Amir Rahimpour yang merupakan mata-mata CIA dan mendapat bayaran besar serta dituduh berusaha menyajikan sebagian informasi nuklir Iran kepada dinas Amerika, telah diadili dan dijatuhi hukuman mati. "Mahkamah Agung Iran mengukuhkan hukumannya dan dia akan melihat konsekuensi atas tindakannya, " kata Esmaili, merujuk pada individu yang menghadapi hukuman mati.

Esmaili tidak memberikan informasi tambahan tentang kewarganegaraan individu terpidana yang bekerja untuk amal tersebut. Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda dan peradilan menuntut warga negara ganda sebagai warga negara Iran.

Musim panas lalu, Iran mengumumkan telah menangkap jaringan mata-mata CIA yang terdiri dari 17 orang dan beberapa telah dijatuhi hukuman mati.

CIA tidak segera mengomentari pernyataan Esmaili. Presiden AS Donald Trump mencuit setelah pengumuman musim panas lalu dengan mengatakan, "Laporan Iran menangkap mata-mata CIA benar-benar salah. Nol kebenaran."

Ketegangan  antara Teheran dan Washington meningkat sejak Amerika Serikat membunuh komandan militer Iran Qassem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak di Baghdad pada 3 Januari 2020. Kejadian itu mendorong Iran  membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan AS di Irak.

Berbicara pada konferensi pers yang disiarkan langsung di situs web pengadilan, Esmaili mengatakan, nama-nama individu yang bekerja untuk amal tidak akan dirilis karena proses hukuman belum selesai, demikian dikutip Reuters.



Sumber: ANTARA