Iran Minta Interpol Tangkap Trump

Iran Minta Interpol Tangkap Trump
Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: AFP / AFP)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 1 Juli 2020 | 16:09 WIB

Teheran, Beritasatu.com - Pemerintah Iran meminta bantuan Interpol untuk menangkap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan 35 orang lainnya karena terlibat dalam pembunuhan Qasem Soleimani.

Jaksa Agung Iran, Ali Alghasi-Mehr, telah mengeluarkan surat permintaan kepada Interpol untuk mengeluarkan “red notices” kepada Donald Trump dan 35 orang yang dituduh terlibat dalam “pembunuhan dan terorisme” yang mengakibatkan kematian Qasem Soleimani.

“Red Notices” adalah emberitahuan tingkat tertinggi yang dapat dikeluarkan Interpol pada seseorang untuk mengejar penangkapan mereka. Akan tetapi, sangat tidak mungkin bagi Interpol untuk memenuhi permintaan Iran, karena pedoman badan internasional melarangnya melakukan “intervensi atau kegiatan apa pun yang bersifat politis”.

Dengan demikian, Presiden Donald Trump dipastikan tidak dalam bahaya “penangkapan”. Gedung Putih sejauh ini tidak menanggapi pengumuman Iran. Interpol juga tidak segera membalas permintaan komentar dari CNBC.

Qasem Soleimani (62) adakah komandan Pasukan Quds Iran, sayap operasi asing dari pasukan elit Pengawal Revolusi Islam paramiliter. Dia tewas dalam serangan pesawat tak berawak (drone) yang diarahkan oleh AS pada awal Januari 2020.

Atas kematian Qaem Soleimi, Iran juga memberlakukan hari berkabung nasional selama tiga hari untuk mengenang kematian Qasem Soleimani. Pengawal Revolusi Iran juga bersumpah melakukan balas dendam “berat" kepada AS.

Kurang dari seminggu setelah serangan drone AS, pada 8 Januari 2020, lebih dari selusin rudal balistik Iran diluncurkan ke pangkalan udara Ain al-Asad di provinsi Anbar barat Irak dan sebuah pangkalan di Erbil, bagian utara negara itu. Namun tidak ada kematian dalam serangan itu.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memuji serangan balasan sebagai "tamparan di wajah" untuk AS, namun menyebut itu "tidak cukup".

Para ahli memperingatkan serangan yang dipimpin Iran pada pangkalan militer AS dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah, serangan serangan ciber dan serangan potensial lainnya melalui berbagai proksi Iran di Irak, Lebanon, Yaman, Suriah, dan Afghanistan.

Tetapi konfrontasi antara Iran dan AS relatif mereda sejak pandemi Covid-19, apalagi AS dan Iran menjadi episentrum dari penyebaran virus itu di kawasan Amerika dan Timur Tengah.

Pemerintahan Trump menuduh Qasem Soleimani sebagai teroris, dan Washington menganggapnya bertanggung jawab atas kematian ratusan tentara AS di Irak.

Tahun lalu, AS menuduh Iran meledakkan beberapa tanker asing di Teluk Persia, menjatuhkan drone AS, sehingga lebih banyak sanksi dijatuhkan AS kepada Iran. Namun Teheran membantah terlibat dalam serangan kapal tanker itu.

Iran telah mengumumkan banyak langkah untuk mengembalikan kepatuhannya pada kesepakatan nuklir yang ditandatangani dengan As di era pemerintahan presiden Barack Obama. Namun, perjanjian itu dibatalkan Trump pada 2018, sehingga memicu ketegangan antarkedua negara.



Sumber: Suara Pembaruan