Sering Makan Bisa Membantu Program Diet

Sering Makan Bisa Membantu Program Diet
Ilustrasi diet. ( Foto: Freedigitalphotos )
/ FER Sabtu, 5 Januari 2019 | 19:59 WIB

Jakarta - Hampir semua orang tahu diet sehat itu banyak mengonsumsi buah dan sayuran dan mengurangi gula dan gorengan. Namun, yang kurang dikenal adalah seberapa sering Anda harus makan, dan seberapa cepat.

"Metabolisme tubuh dapat dibandingkan dengan perapian. Harus diisi ulang secara teratur agar bekerja dengan baik," jelas Heiko Griguhn, seperti dilansir Deutsche Presse Agenteur, Sabtu (5/1).

Oleh karena itu, sambungnya, pihaknya merekomendasikan agar makan dalam tempo yang sering. Intensitas makan dapat dilakukan lima hingga tujuh kali sehari.

Griguhn mengatakan, orang yang ingin menurunkan berat badan kerap membuat kesalahan dan jarang makan. Setelah jeda yang panjang tanpa asupan makanan, tubuh mulai mencoba menghemat energi dengan mengurangi jumlah kalori yang terbakar.

Selain itu, jika Anda pulang kerja karena kelaparan, Anda cenderung makan makanan cepat saji atau permen. Griguhn menyarankan agar cukup makan camilan di sore hari untuk menghindari gula darah rendah.

Tidak mengherankan, terdapat pendapat yang berbeda-beda pada frekuensi makan yang optimal. Beberapa orang bersumpah dengan berpuasa berselang, sementara yang lainnya menyukai tiga kali makan setiap hari.

German Nutrition Society (DGE) tidak membuat rekomendasi mengenai masalah ini, mengatakan bahwa penelitian tidak menyakinkan. Yang jelas, untuk mempertahankan berat badan yang sehat, penting untuk tidak mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang Anda bakar.

Griguhn mengatakan penting untuk membuat pilihan camilan yang bijak. "Porsi kecil sayuran atau camilan lainnya boleh di sela sarapan, makan siang, dan makan malam," ujarnya.

Makan sehat tidak hanya melibatkan 'apa' dan 'seberapa sering', tetapi juga 'bagaimana'. Banyak dari kita diberitahu di masa kecil untuk jangan makan terlalu cepat.

Nafsu makan dan rasa kenyang diatur oleh otak, lebih tepatnya, oleh kelenjar hipofisis di dasarnya, kata ahli gizi Birgit Schramm. Tubuh melepaskan pembawa pesan kimia (chemical messengers) yang memberitahu otak ketika asupan makanan telah tercukupi.

"Makan secara perlahan membuat otak lebih gampang menerima sinyal kenyang yang dikirim oleh tubuh," katanya.



Sumber: DPA, Antara
CLOSE