Begini Cara Atasi Gigitan Anjing Rabies

Begini Cara Atasi Gigitan Anjing Rabies
Ilustrasi rabies ( Foto: Istimewa )
Dina Manafe / HA Selasa, 5 Maret 2019 | 18:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hingga Senin (4/3/2019), penyakit rabies atau di masyarakat dikenal dengan penyakit anjing gila telah menewaskan 17 orang di delapan provinsi. Sementara jumlah kasus orang yang mengalami gigitan hewan penular rabies sudah mencapai 6.760 orang.

Rabies memang penyakit yang mengerikan, karena ketika terjadi gejala klinis pada manusia maupun hewan kemungkinan berujung pada kematian. Lalu apa yang harus dilakukan jika terkena gigitan anjing rabies? Sebelum sampai ke cara mengatasi gigitan hewan penular rabies (HPR), masyarakat perlu mengetahui atau mengenal tanda-tanda hewan pembawa rabies tersebut.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan, hewan pembawa rabies tidak hanya anjing. Kera dan kucing juga termasuk hewan pembawa rabies. Tanda rabies pada hewan sangat bervariasi, seperti adanya perubahan tingkah laku. Perubahan perilaku itu ditunjukkan hewan terjangkit dengan mencari tempat yang dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda-benda yang bergerak termasuk menggigit pemiliknya.

Selain itu juga perilaku hewan tersebut bisa ditandai dengan memakan benda-benda yang tidak seharusnya menjadi makanannya, hiperseksual, mengeluarkan air liur berlebihan, kejang-kejang, paralisis atau lumpuh. Setelah itu hewan tersebut akan mati dalam waktu 14 hari, tetapu umumnya mati pada 2-5 hari setelah tanda-tanda tersebut terlihat.

Tak hanya lewat gigitan, penularan virus rabies dapat terjadi dengan jilatan atau cakaran. Lalu apa yang harus dilakukan ketika digigit hewan-hewan itu?

Menurut Nadia, sudah ada tata laksana baku untuk penanganan rabies. Intinya, penanganan pada kasus gigitan hewan penular rabies bertujuan untuk mencegah rabies pada manusia.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencuci luka gigitan dengan sabun selama 15 menit. Ini sangat penting dan harus segera dilakukan setelah terjadi pajanan (jilatan, cakaran atau gigitan) oleh HPR untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan.

“Setelah itu, korban diberikan antiseptik setelah dilakukan pencucian luka untuk membunuh virus rabies yang masih tersisa di sekitar luka gigitan. Antiseptik yang dapat diberikan di antaranya povidon iodine, alkohol 70%, dan zat antiseptik lainnya,” kata Nadia dalam keterangan tertulis, Selasa (5/3/2019).

Selanjutnya, tambah Nadia, pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) yang bisa didapat di rumah sakit. Tujun pemberian VAR dan SAR untuk membangkitkan sistem imunitas dalam tubuh terhadap virus rabies dan diharapkan antibodi yang terbentuk akan menetralisasi virus rabies.

VAR diberikan pada hari ke-0 sebanyak 2 dosis pada lengan kanan dan kiri. Di hari ke-7 diberikan sebanyak 1 dosis pada lengan kanan atau kiri, dan hari ke-21 sebanyak 1 dosis di titik yang sama. Sedangkan SAR diberikan bersamaan dengan pemberian VAR pada hari ke-0 secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, lalu sisanya disuntikkan. Namun, bila virus rabies telah mencapai susunan saraf pusat, pemberian vaksin anti rabies tidak akan memberikan manfaat lagi.

Selain itu, lanjut Nadia, masyarakat juga harus mengetahui dua kondisi luka akibat rabies. Pertama, luka risiko tinggi seperti jilatan atau luka pada mukosa, luka di atas daerah bahu (leher, muka dan kepala), luka pada jari tangan dan jari kaki, luka di area genitalia, luka yang lebar/dalam atau luka multiple (multiple wound). Untuk kategori luka ini perlu diberikan VAR dan SAR.

Kedua, luka berisiko rendah, seperti jilatan pada kulit terbuka atau cakaran atau gigitan kecil yang menimbulkan luka lecet di area badan, tangan dan kaki yang tidak banyak persyaratan. Untuk kategori ini hanya diberikan VAR.



Sumber: Suara Pembaruan