Senam Otak Bangkitkan Jiwa Muda Kalangan Lansia

Senam Otak Bangkitkan Jiwa Muda Kalangan Lansia
Itjeu Siti Aisya, pencetus senam otak untuk kalangan lansia. ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FER Jumat, 10 Mei 2019 | 19:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Soul never old, merupakan kalimat singkat yang selalu tertanam di benak perempuan bernama, Itjeu Siti Aisya. Meski usianya menginjak angka 65, tetapi semangat dalam berkarya tetap membara. Untuk itulah, sapaan hangat 'kakak' kepada semua orang tanpa memandang usia sudah menjadi kebiasaannya.

Untuk menjaga jiwa dan rohaninya tetap muda, Itjeu memiliki sebuah ritual unik, yang disebut senam otak variasi. Meski memiliki gerakan yang lebih sederhana dari jenis senam lainnya, senam otak memang belum marak dan diminati masyarakat luas.

Melihat banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari senam otak, Itjeu memiliki inisiatif untuk menerbangkan gerakan senam yang sempat  dirinya pelajari bersama komunitas lanjut usia (lansia) di Perth, Australia. Itjeu mengklaim, senam otak variasi miliknya berbeda dengan senam otak lain, karena lebih mengutamakan kegembiraan dibanding gerak senam yang kompleks.

"Lansia tidak butuh apa-apa, hanya butuh happy. Happy kalau di-breakdown itu luas. Kenapa senam otak? Senam otak itu revolusi mental, kalau kita bisa memanage otak kita, maka hal-hal positif akan terjadi. Yang paling penting, kita bisa berkreasi agar kita sehat, otak fokus, terbebas dari alzaimer, awet muda, dan yang paling penting ada inspirasi yang berguna bagi orang banyak,” terang Itjeu.

Khasiat senam otak pun sudah dirasakan oleh ratusan bahkan ribuan lansia yang pernah mencobanya bersama Itjeu. Sebagian besar dari mereka mengaku senang melakukan senam otak, dan merasa tubuhnya lebih merasa sehat dan ringan untuk digerakkan.

Menjadi inspirasi untuk kaum lansia untuk menjalani kehidupan dengan tersenyum, merupakan sebuah semangat yang kini tengah ia kobarkan tanpa henti. Hal tersebut berakar dari keresahannya, melihat kondisi lansia di Indonesia yang termajinalkan.

Hasil perhitungan pada 2015, lansia yang berusia 60 tahun ke atas dan berasal dari 96 negara yang mewakili proporsi lansia besar. Negara Indonesia pun masuk pada peringkat 74 dari 96 negara. Di antara 23 negara Asia Pasifik, lansia Indonesia menduduki peringkat 15.

Dirinya pun mengatakan, posisi tersebut cukup memprihatinkan karena menunjukkan lansia Indonesia memiliki status kesehatan, kapabilitas, dan juga jaminan pendapatan yang rendah dibandingkan. Padalah, kesejahteraan lansia merupakan tanggung jawab pemerintah, keluarga, dan masyarakat.

"Menjadi lansia itu tidak enak sekali. Pertama, fasilitas dan transportasi umum di Indonesia tidak ramah lansia. Seperti, jembatan penyebrangan dengan anak tangga yang banyak dan tinggi. Kemudian, untuk jaminan santunan lansia yang dijanjikan pemerintah juga belum berjalan dengan baik,” terang Itjeu.

Selanjutnya, stigma lansia yang digambarkan sebagai sosok lemah juga acapkali terbangun dari kalangan masyarakat, bahkan lingkup terkecil, yaitu keluarga. Banyak keluarga yang tak sadar, bahwa orang tua yang sudah berusia lanjut, juga memiliki keinginan untuk bahagia.

"Ketika lansia telah memiliki cucu, anak-anaknya meminta mereka untuk menjaga cucu, dengan alasan, Sudah tua, jadi di rumah saja, jaga cucu. Ini sesungguhnya celaka untuk lansia. Dulu sudah momong anak, kok saat tua juga disuruh momong cucu? Kapan mereka punya waktu untuk me time dan beristirahat,” terang Itjeu.



Sumber: BeritaSatu.com