Hati-hati, Penyakit Asma Cukup Rentan di Perkotaan

Hati-hati, Penyakit Asma Cukup Rentan di Perkotaan
dr. Samuel SpP memberikan penjelasan tentang diagnosa asma dan penatalaksanaannya di Auditorium Siloam Hospital Lippo Village, Karawaci, Tangerang. ( Foto: Ist )
Hendro D Situmorang / FMB Senin, 1 Juli 2019 | 10:31 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Masyarakat luas diminta berhati-hati karena penyakit asma cukup rentan di perkotaan dan kian hari semakin meningkat. Salah satu faktor penyebabnya adalah polusi udara dan asap di perkotaan dalam jangka waktu yang lama

"Kondisi ini akan semakin meningkat mulai dari serangan asma akut dari stadium ringan hingga yang dapat mengancam jiwa atau mengakibatkan kematian. Saya berharap para peserta nantinya bisa mendapatkan pemahaman dan penanganan yang tepat untuk membantu pasien dalam penanganan yang tepat bagi penderitanya. Dengan begitu kita memiliki kualitas hidup yang baik, gejala penyakit dapat terkontrol dan turunnya risiko terjadi serangan," ucap dr. Samuel SpP dalam keterangannya Minggu (30/6/2019) saat memberikan penjelasan seminar tentang diagnosa asma dan penatalaksanaannya di Auditorium Siloam Hospital Lippo Village, Karawaci, Tangerang.

Menurutnya sekitar 75 persen pasien masih melakukan kesalahan dalam menggunakan inhaler secara tidak benar. Untuk itu cara penggunaan inhaler sangat penting sekali disosialisasikan.

Dalam seminar dijelaskan secara rinci dan langkah langkah apa serta menerapkan metode GINA (Global Initiative For Asthma) sebagai panduan tentang bagaimana para dokter (peserta) agar dapat mengetahui lebih dalam tentang penyakit asma ini.

Senada dengan itu, dr. Leonardo Simanjuntak SpP. MKes menjelaskan perihal perbedaan asma akut dan kronis. Hal ini disebabkan masih banyaknya kesalahan dalam mendiagnosa penyakit asma.

Asma akut lebih tepat untuk digunakan pada penyakit yang diderita dalam durasi yang relatif singkat atau dalam waktu yang cepat. Sedangkan istilah kronis digunakan untuk menjelaskan suatu penyakit yang diderita dalam kurun waktu yang lama atau berkembang secara perlahan lahan.

"Asma bisa juga disebabkan karena udara yang terlalu dingin, sehingga akan mengalami batuk yang terus menerus terutama saat malam hari atau pagi hari," katanya.

"Pemberian inhaler lebih bagus karena langsung ke dalam paru paru. Sementara pemberian oral prosesnya lebih lama karena harus melalui beberapa organ di dalam tubuh. Setelah pemakaian inhaler pastikan pasien harus berkumur," lanjut dia.

Samuel menutup sesi yang menyatakan tindakan yang harus dilakukan jika pasien datang dengan kondisi terancam jiwanya.

"Segera lakukan diagnosa dengan menggunakan metode GINA, karena asma itu tidak dapat disembuhkan akan tetapi dapat dikurangi tingkat levelnya dengan cara kontrol asma, karena dengan meminimalisir terjadi kembali asma akan berdampak baik," tutupnya.



Sumber: Suara Pembaruan