Hindari Dehidrasi, Sebaiknya Minum Sebelum Haus

Hindari Dehidrasi, Sebaiknya Minum Sebelum Haus
Ketua Indonesia Hydration Working Group (IHWG) Dr. dr. Diana Sunardi, M. Gizi, SpGK, Dokter Gizi Klinis & Ketua Departemen Ilmu Gizi FKUI-RSCM dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M. Gizi, SpGK dan Hydration Science Director PT Tirta Investama (Danone-AQUA) dr. Tria Rosemiarti pada acara Hydrantion Talk di Hotel JW Marriot Surabaya, Senin (30/9/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Amrozi Amenan )
Amrozi Amenan / FER Senin, 30 September 2019 | 22:34 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Nurul Ratna Mutu Manikam MGizi SpGK, mengatakan, kebanyakan orang baru minum setelah merasa haus. Padahal, saat merasa haus itu mereka sebenarnya sudah mengalami dehidrasi 2 persen.

"Karena itu, sebaiknya orang minum tidak harus menunggu haus dulu agar tidak mengalami dehidrasi," ujar Nurul dalam acara Hydration Talk yang digelar Danone-Aqua di Surabaya, Senin (30/9/2019).

Nurul memaparkan, dampak dehidrasi jangka pendek seperti dialami oleh para olahragawan di luar ruangan. Yaitu perubahan pH tubuh akibat dehidrasi, kelelahan, sembelit, kehilangan konsentrasi, kram otot, serangat stroke. Sedang dampak dehidrasi jangka panjang seperti resiko terkena infeksi saluran kemih (ISK) terutama pada perempuan dan batu ginjal. Keduanya, merupakan salah satu resiko terkena penyakit ginjal kronis.

"Oleh karena itu, penting untuk menerapkan kebiasaan minum air untuk menjaga kecukupan hidrasi agar tubuh tetap sehat," papar Nurul.

Menurut Nurul, perempuan lebih rawan berikso terkena ISK karena secara anatomis saluran kemih peresmpuan lebih pendek dibandingkan laki-laki, sehingga bakteri cepat masuk terutama kalau mereka kencing dan airnya tidak bersih untuk bilasnya atau karena air untuk bilasnya memang terlalu sedikit. Resiko terkena ISK bagi perempuan juga karena kurang minum.

"Harus banyak minum, karena dengan banyak minum kandung kemih akan terisi penuh lalu kencing, terisi penuh dan kencing lagi. Dan bakteri dalam tubuh kita yang efeknya baik tapi begitu kurang minum bakteri itu kurang efeknya,” kata Nurul.

Ada juga kelompok usia tertentu yang rawan dehidrasi, yaitu orang tua berusia diatas 60 dengan daya sensor dan sensasi terhadap haus yang mulai berkurang dan anak-anak dibawah umur 4 tahun yang belum bisa ngomong haus meskipun merasa haus. "Kelompok usia ini harus sedikit-sedikit minum agar tidak terjadi dehidrasi,” ujarnya.

Nurul menegaskan, minum air putih yang cukup sangat penting untuk keseimbangan pengaturan proses biokimia, pengatur suhu, pelarut, pembentuk sel, pelumas sendi dan bantalan organ tubuh, media transportasi zat energi dan sisa metabolisme tubuh. "Dengan demikian, air membantu tubuh menggunakan nutrisi secara lebih efektif,” tandasnya.

Ketua Indonesian Hydration Working Group (IHWG), Dr dr Diana Sunardi MGizi SpGK, menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidrasi tubuh, Air Minum Dalam Kemasaan (AMDK) kini menjadi salah satu pilihan masyarakat. Terdapat 4 jenis AMDK di pasaran saat ini, namun tidak banyak masyarakat yang memahami perbedaan dan manfaat pada setiap jenisnya. Yaitu, air mineral, air demineral, air oksigen dan air alkali (pH tinggi). Keempat jenis air minum tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda pula. Air mineral merupakan AMDK paling mudah ditemukan di pasaran.

Air mineral mengandung mineral-mineral dalam jumlah tertentu tanpa menambahkan mineral, sesuai dengan yang diatur dalam SNI yang berlaku. Dalam air mineral terdapat kandungan natrium, kalsium, zinc, florida, magnesium, kalium, dan silica yang dibutuhkan oleh tubuh. Beberapa manfaat mineral yaitu Natrium menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, Magnesium untuk menjaga sistem kardiovaskuler, Kalsium menjaga kesehatan tulang, Kalium untuk sistem saraf dan otot, Zinc untuk pembentukan sel dan enzim, Florida mencegah karies gigi, Silica membantu memperkokoh jaringan.

Selain manfaat dari tercukupinya kebutuhan hidrasi, untuk jenis air demineral, air dengan pH tinggi, maupun air dengan tambahan kandungan oksigen, masih memerlukan dukungan kajian ilmiah lebih lanjut untuk mengetahui bahwa jenis-jenis air tersebut dapat memberikan manfaat kesehatan lain.

Saat ini, kata Diana, belum ada bukti klinis atau ilmiah atau publikasi klinis atau ilmiah jenis tipe air tertentu untuk manfaat kesehatan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengonsumsi air yang tidak mengandung mineral dapat meningkatkan risiko osteoporosis, hipertensi, serangan jantung, dan hipotiroid.

"Penting diingat bahwa dalam memilih air minum untuk memenuhi hidrasi sehat, mengonsumsi air mineral biasa saja sangat bermanfaat untuk mendukung upaya menjaga kesehatan tubuh," kata Diana.

Diana menambahkan, air minum kemasan yang layak dikonsumsi memiliki kemasan atau botol yang bersih, label dan tanggal kedaluwarsa yang jelas, serta kode produksi yang sama pada bagian tutup dan botolnya.

"Setelah itu, pastikan air dalam kemasan berkualitas baik, dengan tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa sebelum diminum. Dan pastinya tidak mengandung bahan berbahaya," imbuh Diana.

Sementara, Hydration Science Director PT Tirta Investama (Danone-AQUA), dr Tria Rosemiarti menyatakan, pihaknya bersama berbagai pihak seperti IHWG dan Universitas Indonesia, serta beberapa universitas lain di Indonesia untuk terus memberikan edukasi dalam membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebiasaan minum air yang sehat di Indonesia.

"Danone-Aqua memiliki misi untuk memberikan kesehatan kepada sebanyak mungkin orang. Misi ini sejalan dengan visi Danone, One Planet One Health, di mana kami percaya bahwa kesehatan masyarakat ditentukan oleh gaya hidup dan lingkungan yang juga sehat," pungkas Tria.



Sumber: Investor Daily