Tak Boleh Pantang, Penderita Kanker Harus Makan Lebih Banyak dari Orang Sehat

Tak Boleh Pantang, Penderita Kanker Harus Makan Lebih Banyak dari Orang Sehat
DR. Rebecca N Angka M.BIOMED, Penanggung Jawab Klinik Utama dan Sasana Marsudi Husada Yayasan Kanker Indonesia,  Dr. Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK (K), Dokter Spesialis Gizi Klinik, Departemen Ilmu Gizi  FKUI RSCM, dan. dr. Klara Kurnia, moderator dalam talkshow bertema Nutrisi untuk Penderita Kanker di kantor Yayasan Kanker Indonesia ( Foto: ist / ist )
Mardiana Makmun / MAR Selasa, 29 Oktober 2019 | 09:14 WIB

JAKARTA, Beritasatu.com – Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1,4 per seribu penduduk di 2013 menjadi 1,79 per seribu penduduk di 2018. Di tahun 2018, penderita penyakit kanker terdapat 18,1 juta kasus baru kanker dengan angka kematian sebesar 9,6 juta demikian dr. Rebecca N. Angka, M. Biomed membuka seminar awam dengan tema “Nutrisi yang Sesuai Untuk Pasien Kanker” yang berlangsung di Sasana Marsudi Husada Yayasan Kanker Indonesia, Lebak Bulus, Jakarta, akhir pekan.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa kanker disebabkan oleh multifaktor, hanya 5-10% yang merupakan faktor gen selebihnya karena faktor lingkungan termasuk di antaranya makanan sebesar 30-35%, tembakau 25-30%, infeksi 15-20%, obesitas 10-20%, hingga alkohol 4-6%. Itulah mengapa menjaga pola makan dan berat badan, menghindari rokok dan alkohol sangat diperlukan untuk menekan risiko kanker. Bagi mereka yang saat ini sedang menjalani perawatan kanker, dr. Rebecca menyampaikan untuk tetap mengikui saran dokter, baik menjalani terapi, menerapkan nutrisi yang sesuai, dan melakukan aktivitas fisik.

DR. dr. Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK(K) dalam pemaparannya menyampaikan pengaturan nutrisi merupakan salah satu faktor penting bagi pasien kanker. Terapi nutrisi yang sesuai dapat membantu meningkatkan keberhasilan dari terapi yang dijalani pasien kanker, baik itu kemoterapi maupun radioterapi. Apabila pasien mendapatkan nutrisi yang tidak sesuai, pasien tidak akan memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitas secara normal maupun untuk memenuhi kebutuhan gizi minimal yang tubuh butuhkan untuk menunjang obat kemoterapi maupun sinar radiasi dari radioterapi.

Hal ini, tentu akan mempengaruhi perjalanan penyakit dan keberhasilan terapi pasien kanker. Pada umumnya, pemenuhan nutrisi untuk pasien kanker itu sendiri merupakan suatu tantangan tersendiri bagi semua masyarakat peduli kanker, pasien kanker kerap enggan untuk mengonsumsi makanan sesuai dengan anjuran tenaga medis karena merasakan efek samping dari sel kanker itu sendiri maupun terapi yang dijalani seperti sariawan, mual, muntah, dan diare. Hal itu tentu akan mempengaruhi kedisiplinan dan juga motivasi pasien kanker untuk makan. Apabila pasien menghadapi kesulitan untuk mengonsumsi nutrisi secara oral, maka dapat diberikan nutrisi enteral (makanan cair) baik natural maupun formula komersial.

Dokter gizi yang juga merupakan anggota dari Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) ini lebih lanjut menyampaikan bahwa pasien kanker sebenarnya tidak memiliki pantangan asupan makanan. "Tidak ada pantangan makanan apapun untuk penderita kanker. Pasien kanker justru perlu mengonsumsi makanan yang tinggi kalori dan makanan berprotein tinggi hingga dua kali lipat dari orang sehat," tegas dr.Fiastuti.

Protein yang disarankan, kata dr.Fiastuti adalah yang mengandung asam amino esensial, dan asupan EPA dari minyak ikan. EPA adalah suatu asam lemak esensial (lemak yang dibutuhkan tubuh dan didapat dari makanan) dan bersumber dari ikan laut.
" EPA bermanfaat untuk membantu mempertahankan massa otot, menurunkan peradangan di dalam tubuh, menurunkan efek samping kemoterapi, dan meningkatkan respons kemoterapi. Berdasarkan rekomendasi klinis, EPA dianjurkan untuk dikonsumsi pasien kanker sebanyak 2 gram per hari yang dapat ditemukan di dalam 300-400 gram bahan makanan sumber EPA atau dari 400 ml makanan cair komersial tinggi protein yang diperkaya EPA," kata Fiastuti.

Hal senada juga ditegaskan kembali oleh dr. Rebecca N. Angka, M. Biomed. Menurutnya, salah satu kewajiban dari Yayasan Kanker Indonesia untuk memberikan edukasi yang berkelanjutan bagi masyarakat umum dan pasien kanker serta keluarganya terkait dengan kanker.

"Tidak dapat disangkal, sering kali pasien kanker mengalami masalah nutrisi ketika menjalani terapi seperti sulit makan, nafsu makan yang berkurang, mual, muntah, perubahan indra perasa dan penciuman, serta gangguan pencernaan seperti diare ataupun konstipasi. Di sisi lain, begitu banyak informasi yang kurang tepat tentang asupan makan didapat oleh keluarga atau pendamping pasien. Oleh karena itu, dalam ajang ini dengan mengangkat topik “Nutrisi yang Sesuai untuk Pasien Kanker”, kami berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya nutrisi bagi pasien kanker,” tandas dr.Rebecca.



Sumber: Investor Daily