Ingin Anak Sehat Fisik dan Mental? Jangan Lupakan Asupan Protein Hewani

Ingin Anak Sehat Fisik dan Mental? Jangan Lupakan Asupan Protein Hewani
Pakar Gizi Universitas Indonesia (UI) Saptawati Bardosono menyampaikan protein hewani yang tidak terpenuhi dengan baik, dapat berdampak pada kesehatan dalam berbagai aspek, saat acara MilkVersation, kampanye edukasi yang diadakan Frisian Flag Indonesia (FFI) di Jakarta, Senin (4/11/2019). ( Foto: Frisian Flag Indonesia / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 5 November 2019 | 20:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Data RIKESDAS 2018 menyebut 17,7% anak Indonesia masih masuk dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk. Sekitar 30,8% berada di kategori pendek dan sangat pendek karena mengabaikan pangan protein hewani. Jika ingin anak sehat fisik dan mental, jangan lupakan peran asam amino lengkap yang terkandung dalam protein hewani untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Hal itu terungkap dalam MilkVersation – satu kegiatan edukasi yang diadakan Frisian Flag Indonesia (FFI) di Jakarta, Senin (4/11). Acara ini menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya yakni Pakar Gizi Universitas Indonesia (UI) Saptawati Bardosono dan Pakar Dietisien, Geetruida D. Rory.

“Asam amino merupakan senyawa organik dari sumber protein, yang terurai ketika masuk ke dalam tubuh. Pada protein hewani, asam amino yang terkandung adalah asam amino esensial lengkap, yang berperan penting pada periode masa pertumbuhan, maupun fase kehidupan berikutnya,” ujar Pakar Gizi Saptawati Bardosono.

Menurut Saptawati, protein nabati tidak mengandung asam amino esensial yang lengkap seperti protein hewani. Jika protein hewani tidak terpenuhi dengan baik, dampak kesehatan muncul dalam berbagai aspek, mulai dari terhambatnya pertumbuhan yang dapat menyebabkan stunting dan gangguan kognitif, anemia, gangguan kondisi fisik dan organ tubuh, kualitas tulang, gigi, rambut dan kulit, hingga memengaruhi emosi dan kesehatan mental seseorang.

“Inilah mengapa, protein hewani berkualitas dengan asam amino lengkap menjadi kebutuhan primer, serta bentuk investasi gizi dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Sumber protein hewani terbaik, dapat ditemukan pada produk susu sapi, daging, telur, unggas serta ikan,” paparnya.

Saptawati menambahkan produk susu sapi menjadi salah satu sumber protein hewani baik, bukan hanya karena kandungan asam amino lengkapnya, tapi juga formula cairnya yang mudah diserap tubuh. Terbukti, Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS) menempatkan susu sapi sebagai sumber protein terbaik.

Menu Modifikasi

Sementara itu, Pakar Dietisien, Geetruida D. Rory mengatakan menu modifikasi dengan bahan dasar pangan lokal yang dipadukan dengan pangan hewani berkualitas seperti susu, dapat disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

“Sebagai contoh, kebutuhan gizi anak usia 7-9 tahun, dengan tinggi badan 130 cm, berat badan 27 kg, kebutuhan energi/hari adalah 1650 kcal; protein 40 gram; lemak 55 gram (Omega 3: 0.9 gram dan Omega 6: 10 gram); karbohidrat 250 gram, serat 22 gram dan air 1600 ml,” paparnya.

Geetruida menjelaskan kebutuhan lemak pada anak adalah 30%, umumnya lebih tinggi dibandingkan kebutuhan orang dewasa. Komposisi protein 10% dan karbohidrat 60% dapat didiistribusikan ke dalam pembagian menu makan sehari yakni menu pagi 25% = 400 kcal, siang 30% = 500 kcal dan malam 25%= 400 kcal. Sisanya bisa diberikan dalam bentuk 2X camilan.

“Kita ketahui bersama, berbagai studi dan ahli meyakini bahwa kandungan asam amino esensial lengkap yang terkandung dalam susu memiliki dampak signifikan bagi kualitas kesehatan jangka panjang,” ujar Corporate Affairs Director PT FFI Andrew F. Saputro.

Menanggapi situasi itu, kata Andrew, FFI mengajak masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan konsumsi protein hewani, salah satunya susu - sebagai bentuk investasi gizi, guna membantu membangun generasi produktif Indonesia yang berkualitas. Upaya FFI mengampanyekan peningkatan asupan protein hewani ini didukung peran aktif masyarakat dan seluruh pihak terkait. Dengan bersama-sama, semua pihak dapat mengambil peran dalam pembangunan generasi bangsa Indonesia yang berkualitas dan berkapabilitas.



Sumber: Suara Pembaruan