Waspada Penyakit-penyakit Pascabanjir

Waspada Penyakit-penyakit Pascabanjir
Ilustrasi pascabanjir. ( Foto: Antara / Galih Pradipta )
Dina Manafe / FMB Sabtu, 4 Januari 2020 | 11:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Banjir yang melanda wilayah Jabodetabek selama beberapa hari belakangan ini tidak hanya menyebabkan kerusakan secara material, namun juga masalah kesehatan. Masyarakat diminta untuk waspada terhadap penyakit yang akan timbul pascabanjir. Caranya hindari faktor risiko dengan berperilaku hidup bersih dan sehat.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), dr Adib Khumaidi, SpOT, mengatakan, beberapa penyakit berpotensi muncul dan meningkat kasusnya pascabanjir. Di antaranya, leptospirosis yang disebabkan karena air banjir yang kotor bercampur dengan kotoran tikus dan sampah. Penyakit ini masuk ke tubuh manusia melalui selaput lendir, mata, hidung, kulit lecet dan makanan. Seseorang yang terkena leptospirosis akan menunjukkan gejala seperti menggigil, batuk, sakit kepala tiba tiba, demam tinggi, nyeri otot, hilang napsu makan, mata merah dan iritasi, nyeri otot. 

Kemudian ada penyakit diare dan demam tifoid yang disebabkan oleh konsumsi makanan dan minuman serta kebersihan yang kurang higienis. Terutama karena selama banjir berlangsung banyak tumpukan sampah dan kotoran bercampur ke dalam rumah dan menempel di tubuh.

Penyakit lainya adalah demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Agepty yang berpotensi muncul akibat tumpukan sampah dan rongsokan di area yang lembab paska banjir. Adapula infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebabkan oleh udara dingin bercampur dengan air beraroma kotor selama banjir berlangsung. Asam lambung dan migren juga patut diwaspadai. Masalah kesehatan ini umumnya dikarenakan korban banjir tidak mengonsumsi makanan sesuai gizi dan telat makan.

Flu dan demam juga harus diwaspadai. Flu dan demam yang disebabkan karena korban banjir terpapar air dan udara dingin cukup lama. Terakhir, infeksi kulit yang terjadi akibat paparan dengan air banjir yang bercampur dengan kotoran manusia, hewan, juga sampah dan lumpur.

"Selain sampah dan kotoran yang bercampur dalam air banjir, dikhawatirkan juga ada hewan liar serta pecahan benda-benda tajam yang turut dalam arus banjir tersebut," kata Adib dalam keterangan resmi yang diterima SP, Sabtu (4/1/2020).

Mengingat musim hujan dan cuaca ekstrim ini masih akan berlangsung hingga dua bulan mendatang dan dikhawatirkan adanya banjir susulan atau berulang, PDEI mengimbau masyarakat agar mencegah munculnya penyakit penyakit terkait. Beberapa cara sederhana mungkin bisa dilakukan untuk itu. Pertama, terutama menghindarkan anak-anak untuk bermain air banjir agar terhindar dari berbagai jenis penyakit yang mungkin timbul sesudahnya.

Kedua, tidak merendam kaki dalam air banjir kecuali untuk upaya penyelamatan. Ketiga, segera mengganti pakaian basah dengan pakaian kering untuk mencegah hipotermia. Hiportemia adalah kondisi di mana suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35 derajat celcius. Berbeda dengan kedinginan biasa, hipotermia bisa berakibat fatal seperti gangguan pernapasan hingga kematian.

Keempat, melindungi anggota tubuh dengan mengenakan sarung tangan dan sepatu boot apabila harus terjun ke dalam air banjir. Kelima, mengenakan masker sewaktu membersihkan rumah dari kotoran air banjir serta hindari luka yang dapat berpotensi masuknya kuman.

Keenam, konsumsi makanan dan minuman yang higienis. Banyak minum air putih daripada minuman jenis lainnya untuk menjaga agar asam lambung tetap seimbang, serta juga tidak mengonsumsi makanan pedas

Ketujuh, mengonsumsi makanan yang segar dan perhatikan waktu kedaluarsa. Jangan lupa untuk mencuci tangan pakai sabun atau antiseptik sebelum makan. Kedelapan, siapkan persediaan obat-obat sederhana seperti penurun panas, obat lambung dan diare serta vitamin terutama untuk anak-anak dan balita.

"Jika ada keluhan kesehatan lebih lanjut segera berobat ke dokter di puskesmas atau posko kesehatan," kata Adib.

PDEI juga mengimbau pemerintah daerah untuk ketersediaan air bersih, tempat pengungsian dengan higienis dan sanitasi yang baik untuk masyarakat di wilayah terdampak banjir. Saat ini tim medis PDEI sedang membangun posko kesehatan di beberapa wilayah, di antaranya Banten, Serang, Jakarta Pusat.

Khusus untuk penyakit leptospirosis, sebelumnya Kementerian Kesehatan pun telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat melakukan upaya pencegahan. Pertama, menjaga kesehatan pribadi dan lingkungan. Kedua, menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus. Ketiga, mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah melakukan aktifitas, misalnya habis kerja di sawah, kebun, selokan, sampah, dek rumah ketika memperbaiki jaringan listrik. Keempat, memakai sepatu dari karet dengan ukuran tinggi dan sarung tangan karet bagi pekerja yang berisiko tinggi leptospirosis, misalnya petugas kebersihan dan petugas pemotong daging serta mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Kelima, basmi tikus di rumah dan kantor. Keenam, membersihkan dengan disinfektan bagian bagian rumah, kantor atau gedung yang diindikasi ada bekas kencing tikus. 



Sumber: Suara Pembaruan