Hindari Stunting dan Obesitas dengan Gizi Seimbang

Hindari Stunting dan Obesitas dengan Gizi Seimbang
Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita saat kegiatan Posyandu balita di Solo, Jawa Tengah, Selasa (13/8/2019). Sebagai upaya peningkatan investasi di bidang sumber daya manusia (SDM), pemerintah mengoptimalkan kegiatan Posyandu dalam upaya penurunan jumlah penduduk stunting atau gagal tumbuh, sekaligus mendukung pencapaian pembangunan kesehatan ibu dan anak terutama penurunan angka kematian bayi, anak balita serta angka kelahiran. ( Foto: ANTARA FOTO )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 28 Januari 2020 | 19:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini Indonesia masih tidak seimbang dalam hal gizi, di mana menurut Riskesdas tahun 2018, lebih dari 23 juta anak mengalami permasalahan gizi. Hal tersebut bahkan dibuktikan dengan besarnya angka stunting dan obesitas pada anak. Salah satu cara untuk menekan angka tersebut adalah dengan menggalakkan program edukasi kepada Ibu dan remaja untuk menyajikan makanan bergizi seimbang.

Selain gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), pihak swasta melalui brand Royco bekerja sama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), dan pemerintah daerah Garut juga turut mendukung program Isi Piringku. Sebuah program edukasi penerapan dari pedoman gizi seimbang ini berupaya mencegah risiko ketidakseimbangan gizi.

Hernie Rahardja perwakilan dari PT Unilever Indonesia menuturkan, program Royco Nutrimenu, Ayo Masak Lezat sesuai Isi Piringku merupakan rangkaian kegiatan edukasi yang diawali dengan Training of Trainers (ToT) kepada kader kesehatan dari TP-PKK dan Posyandu.

"Setelah program ini berakhir, diharapkan mereka dapat memahami mengenai permasalahan gizi di Indonesia, prinsip gizi seimbang, pedoman Isi Piringku, dan praktek memasak resep sesuai Isi Piringku,” jelas Hernie di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (28/1/2020).

Untuk mengukur manfaat dari program ini, Unilever bekerja sama dengan IPB University melakukan penelitian untuk melihat adanya perubahan perilaku dari para Ibu sebagai indikator efektivitas implementasi program.

Menjelaskan mengenai hasil riset edukasi yang telah dilakukan, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Dr Ir Dodik Briawan, MCN, memaparkan, keseluruhan penelitian menunjukkan bahwa program ini telah memberikan peningkatan signifikan bagi pengetahuan gizi, sikap dan praktek para Ibu, untuk memasak sesuai panduan Isi Piringku.

Dalam program ini masyarakat diajak untuk menggunakan bahan-bahan masakan yang termasuk dalam 50 bahan pangan masa depan. Beberapa bahan yang termasuk di dalamnya adalah bayam, pak choi, daun kelor, selada air, okra, ubi jalar, dan kacang hijau.

"Menyiapkan menu bergizi seimbang, sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Untuk itu, masyarakat harus dibiasakan untuk memulai mendukung program Isi Piringku. Khusus di tahun ini targetnya akan menjangkau 500.000 santri dan 150.000 para Ibu di Indonesia,” tukas dokter gizi dr Diana F Suganda.



Sumber: Suara Pembaruan