Banjir dan Longsor Ancam 100.000 Pengungsi Rohingya
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.34)   |   COMPOSITE 5112.19 (31.86)   |   DBX 973.986 (8.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.48)   |   IDX30 428.304 (2.58)   |   IDX80 113.764 (0.56)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.17)   |   IDXG30 119.182 (0.2)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.03)   |   IDXQ30 124.656 (0.92)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.7)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (-0.32)   |   IDXV30 107.478 (0.14)   |   INFOBANK15 831.648 (11.11)   |   Investor33 374.125 (2.2)   |   ISSI 151.171 (0.09)   |   JII 550.867 (-0.37)   |   JII70 188.056 (-0.11)   |   KOMPAS100 1022.34 (4.05)   |   LQ45 789.815 (4.4)   |   MBX 1412.7 (8.24)   |   MNC36 280.331 (1.41)   |   PEFINDO25 282.464 (2.47)   |   SMInfra18 241.575 (1.13)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.46)   |  

Banjir dan Longsor Ancam 100.000 Pengungsi Rohingya

Selasa, 30 Januari 2018 | 17:42 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WIR

Jenewa - Lebih dari 100.000 pengungsi Rohingya yang berada di kamp-kamp kumuh dan berlumpur di Bangladesh berada dalam situasi bahaya karena ancaman tanah longsor sebagai dampak dari musim hujan yang lebat. Saat ini terdapat lebih dari 900.000 pengungsi Rohingya di wilayah Cox's Bazar setelah 688 orang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar pada akhir Agustus 2017.

Para pekerja bantuan menyatakan kamp-kamp yang menampung para pendatang baru sama sekali tidak memadai. “Pemetaan bahaya tanah longsor dan banjir mengungkapkan setidaknya 100.000 orang berada dalam bahaya dari risiko tersebut dan membutuhkan relokasi ke wilayah baru atau di lingkungan tempat tinggal mereka,” sebut laporan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

“Kurangnya ruang tetap menjadi tantangan utama karena lokasi sangat padat membuat kehidupan sangat sulit tanpa ruang untuk penyediaan layanan dan fasilitas. Selain itu, kepadatan meningkatkan risiko perlindungan dan wabah penyakit seperti difteri yang meningkat di sebagian besar lokasi,” tambah pernyataan PBB.

Meskipun, program vaksinasi secara cepat tampaknya menghambat risiko kolera, sebanyak 4.865 orang telah terkonfirmasi kolera atau dugaan difteri, dan 35 orang telah meninggal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan vaksinasi difteri kepada lebih dari 500.000 warga Rohingya, selanjutnya pada Sabtu (27/1), para pekerja kesehatan kembali memberikan 350.000 anak Rohingya vaksinasi tahap kedua. WHO juga memiliki 2.500 dosis yang pasokannya sedikit secara global, untuk mencegah efek mematikan dari penyakit itu.

Namun, situasi kesehatan lain yang muncul adalah penyakit gondok. Laporan PBB menyatakan terjadi peningkatan kasus tersebut dalam beberapa minggu terakhir, dan para pengungsi Rohingya serta masyarakat setempat belum pernah diberikan vaksin untuk melawan penyakit sangat menular itu yang bisa berakibat fatal, mesikpun jarang, menyebabkan meningitis.

Sebagian besar pengungsi Rohingya, hampir 585.000 orang, saat ini berada di daerah sangat padat yaitu Kutupalong-Balukhali. “Presentasi tinggi dari tanah tidak sesuai sebagai tempat permukiman manusia karena resiko banjir dan longsor sangat tinggi dan diperparah dengan kepadatan dan teras pegunungan yang luas,” sebut pernyataan PBB.

Berdasarkan penilaian teknik terbaru menyebutkan seluruh jalan di kamp tersebut akan tidak bisa diakses oleh truk, dan Program Bantuan Pangan (WFP) mempertimbangkan untuk menggunakan jasa porter untuk mendistribusikan makanan.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Korut Batal Ikut Olimpiade Bersama Korsel

Korea Utara (Korut) telah membatalkan rencana pertunjukan budaya bersama dengan para seniman dari Korea Selatan (Korsel).

DUNIA | 30 Januari 2018

PascaBrexit, Perekonomian Inggris Akan Lebih Buruk

Kondisi perekonomian Inggris diperkirakan akan menjadi lebih buruk setelah resmi meninggalkan Uni Eropa (UE).

DUNIA | 30 Januari 2018

Donald Trump Ancam Habisi Taliban

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bersumpah akan melakukan langkah apapun untuk mengalahkan atau menghabisi kelompok militan Taliban di Afghanistan.

DUNIA | 30 Januari 2018

Lawatan Presiden Jokowi ke Afghanistan Lancar

Lawatan Presiden RI Joko Widodo ke Afghanistan, Senin (29/1), berjalan lancar dan aman di tengah situasi siaga tinggi keamanan akibat serangkaian serangan bom di Kabul.

DUNIA | 30 Januari 2018

Jokowi Terima Penghargaan dari Presiden Afghanistan

Penyematan medali ini merupakan penghormatan kepada Presiden Jokowi atas keteguhan dan keberanian dalam memajukan hubungan bilateral Indonesia-Afghanistan.

DUNIA | 30 Januari 2018

Tiba di Afghanistan, Jokowi Dikawal Ekstra Ketat

Kondisi Afghanistan saat Jokowi tiba sangat mencekam akibat serangan bom yang menewaskan 103 orang.

DUNIA | 29 Januari 2018

Presiden Mendarat di Kabul

Kunjungan Kenegaraan Presiden Jokowi ke Afghanistan adalah yang kedua bagi Presiden Republik Indonesia, setelah kunjungan Presiden Sukarno, pada tahun 1961.

DUNIA | 29 Januari 2018

Amerika Serikat Diserang Epidemi Flu, 37 Anak Meninggal

CDC memperkirakan jumlah korban jiwa secara total, termasuk anak-anak dan orang dewasa, dapat mencapai 50.000 orang

DUNIA | 29 Januari 2018

Kunjungi Kabul, Jokowi Ingin Tunjukkan Perlawanan terhadap Teror

Kunjungan ke Kabul adalah langkah yang superberani, karena negara negara besar lain di dunia justru mengeluarkan travel warning ke Afghanistan

DUNIA | 29 Januari 2018

Indonesia-Bangladesh Perkokoh Kerja Sama Ekonomi

Pemerintah Republik Indonesia dan Republik Rakyat Bangladesh sepakat memperkokoh kerja sama di bidang ekonomi serta menciptakan peluang kerja sama baru lainnya.

DUNIA | 28 Januari 2018


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS