PM Bangladesh: Kehadiran Rohingya Jadi Beban Negara
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

PM Bangladesh: Kehadiran Rohingya Jadi Beban Negara

Rabu, 31 Januari 2018 | 17:22 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WIR

Dhaka - Perdana Menteri (PM) Bangladesh Sheikh Hasina menyatakan kehadiran warga Rohingya telah menciptakan tekanan sosial ekonomi yang besar bagi negaranya. Hasina juga mengakui adanya tekanan demografi karena kedatangan sejumlah besar pengungsi Rohingya tersebut.

Hal itu disampaikan Hasina dalam pertemuannya dengan Duta Besar Swedia untuk Dhaka yang baru ditunjuk, Charlotta Schlyter, Senin (29/1). Jumlah pengungsi Rohingya yang saat ini ditampung Bangladesh sudah hampir mencapai satu juta orang.

“Kehadiran sejumlah besar warga Rohingya yang diusir secara paksa, di Cox's Bazar menciptakan sebuah tekanan masif sosial ekonomi, lingkungan, dan demografi atas Bangladesh,” ujar Hasina, seperti disampaikan lewat Sekretaris Pers untuk PM Bangladesh, Ihsanul Karim, kepada wartawan.

Hasina mengatakan Bangladesh melakukan perundingan dengan Myanmar mengenai para pengungsi Rohingya ini, dan pengaturan repatriasi (pemulangan kembali) telah dibuat. Dia menambahkan pemerintah juga sedang membangun sebuah pulau sebagai penampungan sementara untuk warga Rohingya.

Sebaliknya, Dubes Swedia, Schlyter, memastikan negaranya mendukung Bangladesh atas persoalan Rohingya. Terkait hal itu, Hasina memuji peran kuat yang dimainkan Swedia untuk krisis Rohingya, baik secara politik maupun kemanusiaan. Para pengungsi Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak tindakan kekerasan militer terakhir pada 25 Agustus 2017 di Rakhine State.

Di pihak lain, para pengungsi Rohingya di Bangladesh mengaku trauma dan menolak untuk dipulangkan kembali ke Myanmar. Para pengungsi Rohingya yang berada di perbatasan Bangladesh dan Myanmar, tepatnya di seberang Sungai Naf, menunjukkan luka-luka mereka sehingga menimbulkan keraguan mengenai siapa yang siap untuk kembali.

“Mereka membakar rumah saya dan seluruh desa, mereka mencuri hasil panen saya,” kata seorang warga Rohingya, Nagumia.

“Saya melihat mereka melempar anak-anak kecil, dan para lansia yang tidak bisa berlari, ke dalam api. Mereka merobek tenggorokan dan perut mereka, lalu meninggalkan mereka untuk mati. Saya tidak bisa kembali. Untuk apa saya kembali?” tambah Nagumia.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Presiden Donald Trump Sampaikan Pidato Kenegaraan Perdana

Trump sesumbar dirinya berhasil memangkas birokrasi dan mengumumkan paket infrastruktur senilai US$ 1,5 triliun.

DUNIA | 31 Januari 2018

Banjir dan Longsor Ancam 100.000 Pengungsi Rohingya

Lebih dari 100.000 pengungsi Rohingya yang berada di kamp-kamp kumuh dan berlumpur di Bangladesh berada dalam situasi bahaya.

DUNIA | 30 Januari 2018

Korut Batal Ikut Olimpiade Bersama Korsel

Korea Utara (Korut) telah membatalkan rencana pertunjukan budaya bersama dengan para seniman dari Korea Selatan (Korsel).

DUNIA | 30 Januari 2018

PascaBrexit, Perekonomian Inggris Akan Lebih Buruk

Kondisi perekonomian Inggris diperkirakan akan menjadi lebih buruk setelah resmi meninggalkan Uni Eropa (UE).

DUNIA | 30 Januari 2018

Donald Trump Ancam Habisi Taliban

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bersumpah akan melakukan langkah apapun untuk mengalahkan atau menghabisi kelompok militan Taliban di Afghanistan.

DUNIA | 30 Januari 2018

Lawatan Presiden Jokowi ke Afghanistan Lancar

Lawatan Presiden RI Joko Widodo ke Afghanistan, Senin (29/1), berjalan lancar dan aman di tengah situasi siaga tinggi keamanan akibat serangkaian serangan bom di Kabul.

DUNIA | 30 Januari 2018

Jokowi Terima Penghargaan dari Presiden Afghanistan

Penyematan medali ini merupakan penghormatan kepada Presiden Jokowi atas keteguhan dan keberanian dalam memajukan hubungan bilateral Indonesia-Afghanistan.

DUNIA | 30 Januari 2018

Tiba di Afghanistan, Jokowi Dikawal Ekstra Ketat

Kondisi Afghanistan saat Jokowi tiba sangat mencekam akibat serangan bom yang menewaskan 103 orang.

DUNIA | 29 Januari 2018

Presiden Mendarat di Kabul

Kunjungan Kenegaraan Presiden Jokowi ke Afghanistan adalah yang kedua bagi Presiden Republik Indonesia, setelah kunjungan Presiden Sukarno, pada tahun 1961.

DUNIA | 29 Januari 2018

Amerika Serikat Diserang Epidemi Flu, 37 Anak Meninggal

CDC memperkirakan jumlah korban jiwa secara total, termasuk anak-anak dan orang dewasa, dapat mencapai 50.000 orang

DUNIA | 29 Januari 2018


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS